<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474</id><updated>2012-02-15T23:51:33.660-08:00</updated><category term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><category term='renungan harian'/><title type='text'>be happy</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-5309722014139157008</id><published>2011-09-12T00:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-12T00:51:31.424-07:00</updated><title type='text'>Sedekah Memudahkan Urusan</title><content type='html'>Setiap bulan Ramadan datang, kelompok orang yang  monco (tinggal di luar daerah kelahiran) sudah kepikiran akan pulang kampung.  Pulang kampung (walau tidak selamanya benar-benar kampung) punyai nilai mulia Karena merupakan panggilan untuk menyambung silaturrahim dengan sanak keluarga. Aku termasuk salah satu yang pernah masuk katagori monco (kisaran tahun 2007-2009). Moncoku terbilang jauh karena berada di Depok. Depok yang aku tinggali sebenarnya tidak kota banget. Desanya saja bernama Kukusan. Kukusan dalam dalam bahasa Jawa berarti tempat untuk mengukus. Namun kata orang lokal sana yang betawi banget, Kukusan bukan berarti kukusan (tempat mengukus pengenan) tapi kokosan. Kokosan sejenis buah duku yang hidup subur di daerah Kukusan kecamatan Beji Kotif Depok. Sayang sekali buah kokosan sudah tidak banyak tumbuh di sana karena kalah dengan city town, rumah kos, atau rumah hunian biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak Kukusan dengan rumah yang aku tinggali sekitar 500.000an km. Mengingat jaraknya sangat jauh, aku perlu menyiapkan jurus jitu agar bisa pulang dengan nyaman. Atas alasan kenyamanan inilah maka kereta api menjadi pilihan utama.  Kereta api masih punya belas kasihan bagi yang puny anak kecil seperti keluarga kecilku, buktinya anak kecil hanya membayar 75% dari harga tiket. Coba kalau bus umum misalnya, pasti kena charge full 100%. Cuma saja yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya agar bisa mendapatkan tiket pulang. Aku kira soal tiket ini  bukan masalah pribadiku saja, tapi hampir semua pemudik akan punya masalah yang sama yaitu bagaimana mendapat tiket. Bahkan banyak pemudik tidak begitu peduli dengan harga karcis kerata, yang penting bisa memegang itu tiket dengan harga berapapun. Pandangan pemudik sepert inilah yang justru menguatkan hukum pasar, dimana permintaan meningkat sementara ketersedian tiket terbatas, maka harga tiket akan melonjak tajam. Kalau dipikir sih rugi sendiri bagi pemudik sebab dia yang kena pengaruh langsung terhadap kenaikan harga tiket. Coba saja orang kota atau orang yang selama ini monco tidak melakukan mudik masal pada hari raya indul fitri, pasti tak ada ceritanya tiket angkutan umum naik yang berlipat-lipat. Tapi tak mungkinkan mencegah mereka untuk tidak mudik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri punya jurus tersendiri untuk bersaing dengan para pembeli tiket kerata api. Karena posisiku di Depok, maka KRL merupakan alat transport yang paling taktis. Seperti biasa aku berangkat ke stasiun UI dan turun ke stasiun Tebet untuk selanjutnya menuju stasiun Jatinegara dengan angkot. Beberapa receh uang sudah kusiapkan untuk mereka yang minta-minta, baik yang berada di stasiun maupun yang ada dalam kereta. Dalam pandanganku, sedikit dikalikan banyak lebih baik daripada banyak dikalikan sedikit. Maksudnya bahwa lebih baik memberi peminta-minta dengan uang sedikit, tapi bisa menyebar ke banyak peminta-minta daripada memberi dengan uang yang banyak pada satu peminta saja. Idealnya sih memberi banyak uang pada peminta yang berjumlah  banyak dari pada sedikit uang untuk banyak peminta-minta.&lt;br /&gt;Mengingat banyak sekali peminta-minta baik di kereta maupun di stasiun, maka aku menyiapkan receh sejumlah sekian, dan aku sudah memulai memberi peminta-minta ketika nyampe Stasiun UI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalkulasiku sederhana saja bahwa aku yakin berbagi pada sesama akan membawa banyak kemuhan. Berbagi di stasiun akan membawa kebaikan pada waktu naik kereta dan ketika berada di atas kereta. Sementara berbagi di atas kereta akan membawa kemudahan pada langkah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Stasiun Jatinegara, sudah kudapati antrian yang panjang. Kata koran di Jakarta menyebut antrian panjang dengan mengular. Garis antrian memang benar-benar mengular formasinya. Tidak ada pilihan bagiku kecuali harus ikut serta antri bersama para pemudik lainnya. Aku langsung menempati ekor ular antrian. Cara ini merupakan cara yang paling sesuai etika karena tidak memotong antrian. Memotong antrian sama dengan memotong harapan pembeli tiket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat  antrian semakin memanjang, seorang petugas dari PJKA bagian tiket berinisiatif  membuka kotak layanan tiket lagi biar antrian tetap terkendali dan tentu mempercepat akses tiket. Dari kantor ruang tiket muncul seseorang berseragam khas KAI mendekatiku. Tanpa dinyana dan tanpa disangka, dia menuntunku untuk mendekat ke loket tiket seraya bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mas beli tiket kereta untuk kapan dan berapa orang?”&lt;br /&gt;Aku kaget dan langsung menjawab&lt;br /&gt; “2 orang dewasa dan 2 anak kecil jurusan Semarang untuk nanti malam jam 19.30.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket yang aku idam-idamkan sudah di tangan. Dengan senyum mengembang, aku tingggalkan Stasiun Jatinegara untuk segera persiapan guna kepulangan nanti malam. &lt;br /&gt;Aku yakin, ini rekayasa tuhan, bukan kebetulan.  Dan aku yakin pula sedekah yang tidak seberapa besar benar-benar memudahkan urusan, termasuk urusan tiket untuk pulang kampung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-5309722014139157008?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/5309722014139157008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=5309722014139157008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5309722014139157008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5309722014139157008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/09/sedekah-memudahkan-urusan.html' title='Sedekah Memudahkan Urusan'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-4432876779287324909</id><published>2011-09-08T23:26:00.000-07:00</published><updated>2011-09-08T23:28:12.518-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Sedekah = menyembuhkan</title><content type='html'>Sedekah merupakan sebutan lain dari shodaqoh.  Maknanya memberikan sebagian yang kita punya. Sebagian itu tidak seluruhnya, artinya bahwa sedekah tidak akan membuat yang kita miliki hilang semuanya secara fisik. Konsep sedekah sangat indah, sebab di dalamnya mengajarkan seseorang untuk berbagi, bersimpati dan berempati dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari keunggulan-keunggulan seperti tersebut di atas, sebenarnya sedekah punya banyak efek  positif. Dan hebatnya, efek positif dari sedekah bisa langsung dinikmati walaupun seringkali efek tersebut terjadi dalam jangka waktu tertentu.&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu, atau tepatnya bulan Juni salah putri sulungku terkena tipes dan mesti diopname di ruma sakit. Sebagai ayah tentu aku pribadi mengobatkannya sesuai SOPnya (baca: Es O Pe), yaitu datang ke dokter umum untuk konsultasi mengenai gejala panas yang menimpanya. Setelah panas belum turun, harus kembali ke dokter untuk konsultasi lanjut mengapa panas tidak kunjung turun. Hingga akhirnya harus tes darah untuk memastikan bahwa putri sulungku benar-benar terkena tipus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil langkah seperti pengalaman terdahulu yaitu meminum ramuan cacing. Syukur banget pembuat ramuan cacing ini tetangga sebelah sehingga mudah untuk memesannya. Setidaknya ada 2 botol sudah aku pesankan, syukur pula panas badannya belum juga turun. Padahal selama ini, ramuan cacing sangat dahsyat buat mengobati tipes. Terbukti dulu ketika terindikasi kena  gejala tipes, ramuan cacing menjadi obat mujarabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pribadi tidak menyangka kog panasnya tak kunjung turun. Padahal, selama panas tubuh belum turun, ya jangan diharap dokter akan mengabulkan pasien untuk pulang ke rumah. Kebolehan pulang ke rumah sangat tergantung pada suhu tubuh si sulung saja. Bila suhu normal, itu berarti bahwa ada lampu hijau untuk segera mengakhiri pemondokan  di rumah sakit, tapi sebaliknya bila suhu badan tetap tinggi, ya jangan diharap tiket pulang di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat urutan-urutan pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, mengingtakanku untuk mencoba mengoreksi diri apakah ini memang ujian dari allah untuk menaikkan sifat kemulian atau malah kebalikannya,  peringatan Allah padaku sebagai hamba yang melenakanNYa. Aku menyadari bahwa kepasrahanku padaNya setengah hati. Aku coba menata hati kembali bersama istri. Kulibatkan istri karena dia punya daya tawar tinggi pada Allah. Kenapa? karena dia yang melahirkanbsi anak. Hingga akhirnya kami mengambil keputusan bersama bahwa kami harus segera mensedekahkan sebagian yang kami punya pada orang yang secara ekonomi tidak beruntung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada siang yang pasti panas karena di Semarang, aku coba hunting anak-anak jalanan yang sering mangkal di lampu merah. Sasaran petama di daerah jalan DR Cipto. Sayang  aku tidak menemukan sasaran. Kulanjutkan ke daerah simpang 5, trus muter Jalan Pahlawan, jalan Panadanaran. Hasilnya nihil karena tidak menemui sasaran. Hari itu perburuan terhadap anak jalanan nihil alias tidak ketemu. Lucu saja rasanya, kenapa pada hari biasa begitu banyak ditemui anak jalanan, tapi justru ketika aku butuh, ternyata mereka malah sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku bergumam “aku mesti ganti sasaran yang jelas-jelas tidak akan sembunyi apalagi lari, yaitu panti asuhan”.  Aku putuskan juga bahwa malam itu aku harus menemui pengurus Yatim piatu guna memberikan sedekah. Rasanya  plong ajah bisa mengeluarkan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap sedekah yang sedikit itu tergolong amal salih. Semoga dengan perantaraan amal salih ini  menjadikan anak kami yang sakit, segera sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala.&lt;br /&gt;Pagi harinya, kira-kira jam 10.00 ada telepon dari istri yang berada di rumah sakit. Dia  mengabarkan bahwa anak kami sudah sehat. Suhu badan yang selama ini naik turun sudah stabil normal. Dengan senyum yang renyah istriku bilang kalau anak kami sudah boleh dibawa pulang saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksiku tergolong terlambat, coba saja kalau aku sedekah beberapa hari lalu, tentu tak perlu rasanya si sulung nginap beberapa hari di rumah sakit. Tuhan! ampuni kami&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-4432876779287324909?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/4432876779287324909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=4432876779287324909' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/4432876779287324909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/4432876779287324909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/09/sedekah-menyembuhkan.html' title='Sedekah = menyembuhkan'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-8055833967514615010</id><published>2011-08-23T23:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T23:37:04.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>WC bagi sebagian warga desa</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa  yang saya tinggali sekarang ini sepertinya desa nanggung. Maksudnya mau dibilang  desa kenyataannya tidak desa-desa amat. Dibilang kota juga bukan benar-benar kota. Cara berpakaian misalnya, tidak ada yang membedakan pakaian warga desa saya dengan kota. Apa yang menjadi tren di kota, maka menjadi tren juga di desa saya. Sepertinya tidak ada bedanya antara desa dan kota dalam hal fashion. Justru  karena posisi “nanggung” itulah terjadi banyak keunikan yang barangkali tidak akan di jumpai di masyarakat perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PNPM mandiri mengelompokkan desa saya sebagai perkotaan. Saya tidak tahu persis dasar apa yang digunakan untuk menyebut desa saya sebagai kota. Barangkali saja berdasar pajak tanah yang lebih mahal dibanding dengan desa sebelah. Atau barangkali desa saya lebih dekat dengan jalan Daendles sehingga menjadi lebih mahal dari yang jaraknya lebih jauh dari jalan Daendles. (lihat di nb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keunikan yang saya lihat langsung adalah bahwa masyarakat saya lebih suka membangun fisik rumah bagian depan, sementara bagian tengah dan belakang dikesampingkan. Misalnya teras rumah dikeramik mulus bukan main, tapi dalam rumah  sebagai tempat kumpul keluarga setiap hari dibiarkan beralaskan tanah. Padahal kalau dipikir, jarang-jarang teras dijadikan tempat ngumpul keluarga. Tempat ngumpul keluarga paling strategis adalah di ruang tengah. Tapi sayang prioritas pembangunan justru di depan, bukan di ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keunikan lain yang membuat saya terheran-heran. Yaitu ada keluarga yang rumahnya bagus ditandai dengan bangunan rumah yang permanen, lantai rumah juga sudah dikeramik mulus. Bahkan keuarga tersebut terhitung punya dua kendaraan bermotor. Namun sayang, keluarga tersebut tidak punya wc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menggelikan lagi adalah ada tetangga yang bangunan fisik rumahnya bagus. Dan tidak ada tanda-tanda kalau keluarga tersebut dikategorikan “tidak punya”. Dia juga punya 2 kendaraan bermotor yang tergolong masih baru. Lagi-lagi saya katakan sayang sebab rumahya tidak dilengkapi fasilitas WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah saya merasa lucu sekaligus terheran-heran dengan prilaku masyarakat saya. Kebanyakan mereka selalu menjaga bangunan fisik rumah sedemikian rupa sehingga menampakkan sesuatu yang baik- baik saja, sementara sesuatu yang letaknya di belakang,  biarpun punya peran sangat penting tidak pernah diperhatikan, apalagi dimodali dengan sejumlah uang. Padahal kalau dipikir lebih jauh, hajat punya tampang rumah bagus dan punya kendaraan baru bisa ditangguhkan, sementara hajat untuk buang air besar ataupun kecil tak bisa ditunda. Barangkali saja mereka beralasan kalau tampang rumah ataupun kendaraan baru menunjuk pada status  sosial mereka ke tempat yang lebih tinggi  sementara WC tidak menunjuk status sosial apapun sehingga diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nb. Cerita jalan Daenles mengingatkan saya ketika kuliah dulu. Dalam buku pelajaran sejarah sih sudah maklum dan tidak perlu digugat bahwa jalan Daendles itu sangat panjang membentang dang dari Anyer (Banten)  sampai Panarukan (jawa Timur). Namun di kemudian hari, ada dokumen  lain mengenai jalan Daendles. Daenles mengklaim bahwa dia telah membangun jalan yang sangat panjang. Berita itu pula yang dia sampaikan pada ratunya di Belanda sana. Dari itu maka semua terlena bahwa jalur utama jalan raya pulau Jawa dibangun oleh Daendles. Untuk itulah nama jalan menjadi Daendles.  Menurut catatan sejarah yang ada di Perancis, konon jalan yang dibangun oleh Daendles bukan dari Anyer sampai Panarukan, tapi dari Anyer sampai Cirebon. Itu saja cara membangunnya tidak dengan berdarah-darah, tapi dengan pembangunan yang melibatkan kuli bayar yang berasal dari Solo dan Yogyakarta. Dengan harapan Daendles mendapat pujian dari ratunya maka dia memanipulasi sejarah pembangunan jalan raya   sepanjang pulau Jawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-8055833967514615010?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/8055833967514615010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=8055833967514615010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/8055833967514615010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/8055833967514615010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/08/wc-bagi-sebagian-warga-desa.html' title='WC bagi sebagian warga desa'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-2167129264339504031</id><published>2011-08-05T00:01:00.000-07:00</published><updated>2011-08-05T00:06:31.545-07:00</updated><title type='text'>Bonek</title><content type='html'>Bonek singkatan dari bondo nekat. Bonek digunakan untuk menyebut para supporter sepakbola yang terkenal sangat fanatik dalam mendukung tim kesebelasannya. Bonek tidak berarti suporter tidak bertiket ketika menonton tim kesayangannya bertanding. Mereka tetap menyiapkan uang tiket Cuma saja yang tidak mereka siapkan adalah biaya ketika mereka harus menginap kala tim bermain tandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku kira, masing-masing dari diri kita pernah mengalami menjadi bonek dalam hidup kita sehari-hari. Akupun pernah menjadi bonek, atau tepatnya aku sekeluarga. Petengahan tahun 2007 aku berkesempatan mendapatkan beasiswa kuliah di Depok. Siapa sih yang tidak senang mendapat kesempatan kuliah? Aku  termasuk satu dari sekian orang yang sangat beruntung mendapat  kesempatan tersebut. Sebenarnya mendapat kesempatan kuliah saat itu mengandung dua kemungkinan, yaitu menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senangnya pasti bisa ditebak, berkesempatan kuliah lanjut  setelah mengikuti rangkaian tes. Sedihnya juga bisa ditebak, sebab berpisah dengan keluarga. &lt;br /&gt;Kesempatan berpisah dengan keluarga menjadi kenyataan. Aku  harus menjalani rutinitas di depok sementara istri dan anak-anak mesti tinggal di kampung. Dari sini sepertinya aku mulai merintis kebonekan. Beasiswa yang aku andalkan tak kunjung keluar, sementara tunjangan transport dan manejerial dari kantor berhenti total.  Jadi gaji yang tinggal tidak seberapa banyak harus dibagi dengan dua dapur yaitu dapur kampung dan dapur Depok disamping untuk biaya kangen yang meliputi pulsa dan transport Kaliwungu-Depok pergi dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas tersebut bisa bertahan sampai satu semester. Syukur di akhir semester beasiswa cair, namun beasiswa tersebut menjadi sedikit karena untuk menutup biaya semester  lalu dan tentu untuk biaya menunggu beasiswa yang kemudian akan turun.&lt;br /&gt;Jauari 2008, aku bersama keluarga nekat memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan tinggal di Depok. Dengan semangat 17 Agustus, kami  semua naik Kereta Fajar Utama dari stasiun Tawang ke Jakarta (Jatinegara).  Kereta Fajar menjadi pilihan yang menyenangkan karena bisa menghemat biaya tiket sekaligus mudah dalam membawa barang-barang. Masih segar dalam ingatan, kami membawa property yang kami punyai. aku bawa dua tas, yaitu punggung dan tenteng.  Tas punggung spesial berisi piranti kuliah dan sesuatu yang aku pandang penting. Istri juga bawa 2 tas seperti kepunyaanku, tas punggung dan tenteng. Anak-anak tidak kalah keren dalam menenteng tas. Si sulung, 6 tahun, membawa tas sekolah andalan yang tidak lain dan tidak bukan adalah tas punggung dengan gambar Cinderella berwarna pink. Si bungsu 3 tahun membawa tas punggung kesayangan, tas kecil bercapkan panda warna kuning yang hanya cukup untuk menampung 2 buah buku tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;##########&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pribadi sangat menikmati harapan-harapan yang disampaikan anak-anak, bahwa Jakarta itu indah sebagaimana mereka lihat di layar televisi. Apalagi kalau melihat sinetron yang pemerannya cantik dan ganteng serta rumah tempat mereka tinggal seperti istana. Biar saja mereka yang akan menjawabnya sendiri dengan melihat kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan-harapan keindahan anak-anak terhadap Jakarta memudar ketika turun di Stasiun Jatinegara. Baru turun dari Jakarta saja sudah ketahuan bau Jakarta yang diwakili oleh bau stasiun yang kala itu beraroma sangat tidak sedap. Justru kesempatan itu aku gunakan untuk menerangkan Jakarta dari sisi fakta. Kebetulan juga saat itu, ketika menuju ke depok, kami berpapasan dengan kereta KRL yang lagi lewat. Aku tidak tahu persis apa yang dibayangkan anak-anak waktu melihat kereta yang dijejali banyak penumpang. Barangkali saja mereka berpikir bahwa itu bukan kereta, tapi lebih seperti ikan teri diberi tepung. Tak tahulah apa pendapat mereka mengenai kereta KRL. Yang pasti, banyak angan-angan mereka yang tidak sama dengan kenyataannya.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya sampailah kami di rumah kontrakan. Rumah kontrakan ini tidak bisa dikatakan ideal sebagai tempat tinggal keluaraga. Rumah kontrakan tersebut sebenarnya rumah petak yang lebih tepat untuk mahasiswa bujangan, bukan keluarga seperti kami. Sudah dari awal kami nekat, maka mencari kontrakan rumahpun dengan modal nekat juga. Yang penting kami bisa mengeluk boyok/tidur di malam hari dan bisa beraktivitas di siang hari. Kami juga tidak bisa membayangkan bagaimana isinya atau tata letak ruangan. Kog bisa? Bisa saja karena waktu itu kami butuh tempat untuk istirahat dan kami hanya pesan temen untuk mencarikan dan akhirnya dapat kontrakan yang kala itu kami tinggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja pilihan kami dikritik kenapa tidak memilih rumah kontrakan yang layak. Tentu jawabannya sangat sederhana, bahwa uang saku kami tidak bisa menjangkau rumah layak keluarga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kontrakan terdiri atas 3 ruang, ruang tamu, ruang tidur, dan ruang belakang. Kalau dilihat dari pembagian ruangan, rumah kontrakan kami tentu tak ada soal. Tapi kalau rumah tersebut diurai  fungsinya, baru akan ketahuan bahwa rumah kontrakan jauh dari ideal. Ruang depan yang mungil berfungsi untuk menyimpan komputer personal, sepeda motor, ruang tamu sekaligus tempat anak-anak belajar. Ruang tengah tidak kalah sibuk karena harus menampung kamar tidur, pakaian kami, perkakas rumah tangga de el el. Ruang belakang merupakan ruang yang paling multi guna. Peruntukan awalnya adalah kamar mandi. Namun Karen akami butuh kamar mandi dan juga dapur, maka ruang tersebut kami maksimalkan untuk fungsi keduanya. Sebenarnya sangat susah untuk dibayangkan apalagi dipraktikkan sebuah ruang sempit untuk fungsi kamar mandi dan dapur sekaligus gudang penyimpanan property dapur. Sayang tak ada pilihan lain kecuali bertahan dengan fasilitas yang ada. aku sangat tahu solusinya, yaitu pindah dari situ dan cari tempat yang lebih layak. Namun sayang, kelayakan selalu berbanding lurus dengan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang susah juga untuk menjalani hidup secara rasional buta berdasar kalkulasi matematika. Tapi akhirnya kami bisa menjalani hidup dengan hepi-hepi ajah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kami di Depok tidak sendirian. Banyak  temen-temen yang secara ikhlas membantu kami semua. Thanks buat temen-temen yang selalu ada untuk kami semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-2167129264339504031?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/2167129264339504031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=2167129264339504031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2167129264339504031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2167129264339504031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/08/bonek.html' title='Bonek'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-3129326943534264799</id><published>2011-02-20T18:11:00.001-08:00</published><updated>2011-02-20T18:11:59.667-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Anak adalah fotokopi</title><content type='html'>Dalam kehidupan sehari-hari di kampung, kata-kata “Iki ki anake sopo”(ini anak siapa sih), “anak kog ora iso diatur”(anak tidak bisa atur), bahkan ekstremnya sampai muncul “anak setan iki pancen”(ini bener-bener anak setan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata di atas merupakan umpatan orang tua yang kesal kepada anak-anak mereka sendiri. Kata-kata  tersebut masih terhitung sedikit sebab banyak orang tua yang mengobral kata-kata kasar manakala mereka kesal atau kecewa terhadap anak-anaknya. Sebenarya absah-absah saja orang tua untuk mengumpat sedemikian rupa pada anaknya wong itu hak orang tua terhadap anaknya sendiri. Tapi apakah pantas kata-kata kasar tersebut dialamatkan pada anak yang nota bene adalah anak kandung mereka sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teks kitab suci, anak harus hormat dan berbakti pada orang tua, dan ini harga mati. Apapun keadaan orang tua, anak tetap harus menghormati orang tuanya. Bahkan dalam teks suci juga dikatakan bahwa surga anak berada di bawah kaki ibu yang tak lain dan tidak bukan adalah salah satu dari orang tuanya. Teks ini berlaku di dunia dan akhirat.  Artinya kunci keberhasilan anak di dunia dan akhirat sedikit banyak tergantung pada seberapa jauh dia bisa ngawulo (menghormati, menjaga perlakuan baik lainnya) pada orang tuanya. Keberhasilan ini tentu tidak diukur seberapa banyak harta yang dimiliki tetapi seberapa jauh dia merasa bahagia dalam hidupnya. Saya percaya seseorang yang berkonfrontasi dengan orang tuanya bisa kaya harta, tapi saya tidak percaya seseorang orang yang berkonfrontasi sama orang tuanya tersebut bisa merasakan kebahagian sebenarnya. Ungkapan kebahagian anak berada  pada telapak kaki ibu tidak bermakna apa adanya. Tapi suatu ungkapan bahwa kebahagian benar-benar berada pada ridlo seorang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, orang tua tidak bisa seenaknya mengumpat dengan kata-kata yang jelek. Umpatan-umpatan seperti tertera di atas merupakan umpatan yang tidak seharusnya keluar dari mulut orang tua. Biarpun orang tua kesal, seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata kasar pada anaknya. Bisa dibayangkan bila kata-kata kasar tersebut berbinih doa dan berbuah kenyataan. Anak-anak yang tadinya nurut, lalu menjadi tidak bisa diatur, anak-anak tumbuh dewasa dengan mewarisi sifat jahat setan umpanya, siapa yang akan menanggung kerugian? Akhirnya, orang tua jua yang akan menanggung kesedihan karena ulah anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tidak ada salahnya bila orang tua (ayah-bunda) untuk melihat ke belakang alias introspeksi diri. Banyak hal yang dulu dilakukan oleh orang tua berulang pada anaknya baik sifat jelek maupun sifat bagus. Seseorang yang tukang “ngeyel” jangan kaget kalo di kemudian punya anak sukanya ngeyel. Seseorang yang senang menebar kebohongan, hendaknya juga jangan heran kalau anaknya berbohong, begitu juga sifat lainnya. Sifat-sifat apapun yang dimiliki orang tua berkecenderungan untuk diwariskan pada anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebagai orang tua hendaknya hati-hati bila momong (merawat) anak. Ternyata, anak adalah fotokopi dari diri kita sebagai orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang anak-anak kita malas sekolah, kritis dengan pertanyaan yang aneh-aneh, kadang enggak nurut sama orang tuanya, maka tidak usah menyalahkan mereka habis-habisan karena kitapun dulu juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya alami sekarang ini, anak-anak malas sekolah, terlalu pede pada pendapatnya sendiri, atau kadang bertanya pada hal yang aneh-aneh untuk anak seusianya, maka saya hanya tersenyum seraya ngomong sendiri “oh jadi begini juga yang dirasakan orang tua saya terhadap kelakuan saya saat kecil”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-3129326943534264799?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/3129326943534264799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=3129326943534264799' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3129326943534264799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3129326943534264799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/02/anak-adalah-fotokopi_20.html' title='Anak adalah fotokopi'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-6489289194667313842</id><published>2011-02-13T17:53:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T17:54:41.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Surga</title><content type='html'>Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata surga. Dalam pandangan sehari-hari pula, surga dipahami sebagai suatu tempat yang disediakan oleh Allah bagi mereka yang beriman dan berbuat baik waktu hidup di dunianya. Surga berada di alam akhirat atau alam dimana umat manusia dibangkitkan kembali dari kematiannya. Surga diidentikan dengan sesuatu yang indah-indah dan nikmat-nikmat. Tidak mengherankan bila surga dalam bahasa Arab sering disebut sebagai jannah yang berarti kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah jannah berasal dari bahasa Arab. Negara-negara Arab merupakan Negara yang kaya akan kandungan minyak dalam perut buminya, sementara daratannya tandus. Maka tidak berlebihan bila pertanian dan kebun-kebunan yang indah jarang ditemukan di sana.  Daerah yang gersang seperti Negara-negara Arab sangat mendambakan lahan pertanian dan kebun. Kebun-kebunan dan pertanian barangkali identik dengan kemewahan untuk di daerah tersebut. Atas alasan inilah padanan jannah dipilih sebagai padanan kata surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI) surga merupakan alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yg hendak tinggal di dalamnya (dl keabadian). KBBI juga menyebut surga dengan jannah yang berarti alam akhirat tempat jiwa (roh) manusia mengenyam kebahagiaan sebagai pahala perbuatan baiknya semasa hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari setuju atau tidak setuju batasan yang diberikan oleh KBBI, yang jelas surga berada di alam akhirat bukan dunia. Desain tersebut tentu bukan tanpa maksud. Bila surga di dunia dan bisa dilihat secara kasat mata tentu semua orang pasti akan berbuat baik dan serta merta meninggalkan perbuatan jelek. Keberadaan surga di akhirat dimaksudkan untuk menguji integritas orang di dunia apakah mereka akan melakukan tindakan baik atau jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga dikenal sebagai tempat kompensasi bagi mereka yang berbuat baik, sebagaimana yang seringkali diceramahkan oleh para mubaligh atau para penceramah agama. Dalam setiap ceramah, nyaris, mereka tidak pernah melupakan untuk menyebut kata surga. Kata surga ini sebagai iming-iming agar orang mau berbuat baik. Sehingga muncul kesan bahwa surga merupakan tujuan akhir segala bentuk kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga oriented sepertinya mengingatkan saya pada suatu pernyataan seorang sufi, Rabiatul Adawiyah, yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, kalau sekiranya saya beribadah karena ingin surgaMu, maka masukkan saya dalam nerakaMu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di atas sepertinya aneh dan tidak biasa kita dengarkan dalam forum pengajian, bahkan kita akan mengatakan betapa beraninya seorang sufi tersebut untuk menolak surga padahal hampir semua orang menginnginkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila penrnyataan di atas direnungkan justru membimbing kita pada suatu kenyataan  bahwa Allah adalah orientasi dari segala kebaikan. Allah dan surga adalah berbeda. Allah adalah pencipta, sementara surga adalah ciptaan, begitu juga   neraka dan kita semua sebagai manusia. Alangkah ruginya kita sebagai makhluk bila berbuat baik karena surga yang notabene juga makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sekarang terserah kita, mau karena Allah atau karena surga. Allah a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-6489289194667313842?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/6489289194667313842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=6489289194667313842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/6489289194667313842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/6489289194667313842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2011/02/surga.html' title='Surga'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-8507195479117319632</id><published>2010-10-26T18:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T18:23:09.758-07:00</updated><title type='text'>Buku Elektronik Jadi Tren Positif</title><content type='html'>Semarang, CyberNews. Buku elektronik kini dipandang menjadi tren potif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektualitas masyarakat. Berkembangnya buku elektronik tak lepas dari perkembangan teknologi sehingga internet kini tak jadi perangkat istimewa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan internet, mahasiswa dan dosen bisa mengakses buku elektronik secara gratis dan tak perlu susah mencari buku di beberapa toko buku. Tinggal mengklik suatu alamat website, kita bisa mendapat pengetahuan luas dalam buku elektronik, apalagi buku ini bisa dikirimkan lewat file digital secara langsung ke banyak orang," kata Prof Dr Abu Suud, mantan Rektor Unimus dalam seminar nasional "Eksistensi Buku dan Ebook di Era Globalisasi" di aula gedung Muhammadiyah Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru besar Emeritus Unnes sekaligus kolumnis rubrik Gayeng Semarang Suara Merdeka CyberNews itu menuturkan, dengan maraknya buku elektronik, seharusnya wawasan dan rasionalitas masyarakat semakin berkembang. "Namun, rasionalitas itu harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, norma yang berlaku, dan ajaran agama. Kalau tidak, akan timbul persepsi yang salah kaprah terhadap suatu masalah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak, seperti munculnya orang-orang liberal dan teroris," ujar Prof Abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Dosen Ilmu Perpustakaan  Undip, Bahrul Ulumi mengatakan, buku elektronik memiliki kelebihan yang tak dimiliki buku cetak, yakni mudah dibawa dan diduplikasi, ukuran fisik relatif lebih kecil, dan pencarian lebih mudah. Meki demikian, Bahrul memandang, perlu ada perbaikan pada sistem dan konten buku elektronik. Sebab, kedepan diprediksi buku elektronik akan lebih menonjol ketimbang buku versi cetak.&lt;br /&gt;"Jangan sampai kita ketinggalan dengan bangsa lain," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan nasib buku elektronik bisa lebih dominan ketimbang buku cetak? Menurut Bahrul, buku elektronik akan menggantikan buku cetak manakala produksi buku elektronik murah dan kemudahan penggunaan buku elektronik lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Indonesia, penulis buku elektronik masih sangat jarang dan baru Kemendiknas yang berani secara massal membuatnya dalam buku elektronik sekolah (BSE), karena masalah hak cipta dan pemberian royalti belum diperhatikan. Padahal, dalam membuat buku elektronik, penulis juga butuh upaya yang sama sepeti penulis buku cetak," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;available at http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/10/03/6677703 Oktober 2010 | 22:46 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-8507195479117319632?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/8507195479117319632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=8507195479117319632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/8507195479117319632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/8507195479117319632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/10/buku-elektronik-jadi-tren-positif.html' title='Buku Elektronik Jadi Tren Positif'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-1576697461085422986</id><published>2010-10-11T19:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T19:56:06.676-07:00</updated><title type='text'>Profesi VS Pekerjaan</title><content type='html'>bahrul ulumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sule... sule.... sule....”&lt;br /&gt;Kata sule sangat akrab di telinga saya sebab setiap hari penjaja sule selalu lewat depan rumah. Sule di sini bukanlah nama seorang komedian terkenal yang ada di TV, tapi merupakan akronim dari susu kedelai. Penjaja sule saat ini tergolong kreatif. Rasa sule tidak terjebak dengan rasa kedelai saja, tapi sekarang sudah bervareasi. Ada rasa melon, strowberry atau yang lainnya. Kalaupun warnanya putih, rasa kedelainya tidak dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang menarik perhatian saya bukan pada rasa sule, tapi pada penjaja sulenya. Dulu, pekerjaan penjaja sule adalah sebagai karyawan pabrik tekstil terkenal yang terletak di Kaliwungu. Namun karena pemilik modal bangkrut, maka penjaja sule ganti pekerjaan. Kalau dihitung, barangkali penjaja sule sudah berganti pekerjaan beberapa kali, dari menjadi pegawai pabrik seleb (gilingan padi) sampai sebagai asisten ternak bebek. Sering bergantinya pekerjaan tersebut menandakan bahwa penjual sule bukan tipe orang yang mudah menyerah terhadap suatu keadaan. Dalam perhatian saya, dia tipe pekerja keras dan tidak terlalu mikir gengsi dirinya. Yang penting baginya  punya kerjaan yang menghasilkan uang secara halal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, pagi ini dia menjajakan sulenya lewat depan rumah. Dia sudah melewati jalan yang benar sebab anak saya termasuk penggemar susu kedelai racikannya, di samping tetangga kanan kiri menyukai susu kedelainya. Ketika dia mengambilkan sulenya ada seseorang bertanya padanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Ji, ganti profesi ni”&lt;br /&gt;Penjaja sulepun secara tangkas menjawab&lt;br /&gt;   “Ya, untuk ngubah nasib”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JI merupakan panggilan singkat Haji. Dari sini ketahuan kalau penjaja sule adalah seseorang yang bergelar haji. Memang dia sudah berangkat haji pada tahun 2006. Penjaja sule memang tergolong beruntung sebab dia mendapatkan ongkos dari orang tuanya untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perbincangan singkat di atas ada istilah yang menggelitik, yaitu kata profesi untuk menanyakan pekerjaan penjaja sule. Kata profesi ini sebenarnya tidak pas bila dilekatkan dengan pekerjaan penjaja sule. Seseorang tidak perlu sekolah pada jurusan tertentu untuk menjajakan sule. Marketing bisa dipelajari secara akademis, tapi kalau sekedar berjualan sule keliling kampung tidak perlu untuk memasuki kuliah pada jurusan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan dsb) tertentu. Sedang pekerjaan adalah barang apa yang dilakukan (diperbuat, dikerjakan dsb.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, menjual sule bukanlah suatu profesi tapi pekerjaan. Jadi bila ada seseorang menanyakan profesi pada penjaja sule rasanya tidak tepat. Sesuatu dikatakan profesi manakala dilakukan dengan berlatar bekalang pendidikan terntentu, yang tentu membutuhkan keahlian khas. Penjaja sule tidak memerlukan keahlian yang khas. Hal ini sangat berbeda dengan profesi pengacara umpamanya. Seseorang boleh membela orang lain karena suatu kasus tertentu. Tapi pembela kasus tersebut tidak mesti disebut sebagai pengacara. Pengacara berlatang belakang pendidikan Sarjana Hukum. Jadi dia berlatar belakang pendidikan tertentu dalam hal ini adalah kajian hukum, dan dia harus bergelar sarjana hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katagori profesipun tidak terbatas pada kelulusan kesarjanaan. Sulistyo basuki (2009) mensinyalir ada 3 ciri yang mendasari sebuah profesi, yaitu 1. Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimuali ketika seseorang selesai memperoleh gelar kesarjanaannya. 2. Pendidikan dan pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahlian yang rata-rata tidak diketahui oleh orang awam. 3. Tenaga terlatih memberikan jasa pada masyarakat. Profesi berorientasi memberikan jasa pada kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ketiga ciri di atas masih ada 3 ciri tambahan lainnya, yaitu 1. Adanya proses lisensi atau sertifikat. 2. Adanya organisasi profesi, dan 3. Otonom dalam pekerjaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat pada umumnya mencampuradukkan penggunaan istilah profesi dan pekerjaan, termasuk lembaga pemerintahan. Sebagai ilustrasi, profesi/pekerjaan dalam kartu tanda penduduk (KTP)  hanya ada beberapa saja, yaitu swasta, pegawai negeri sipil, polisi, TNI, dan mungkin dokter. KTP yang di dalamnya tertera tanda tangan camat ternyata hanya mengenal profesi tersebut di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa profesi di atas, mungkin yang agak janggal adalah pegawai negeri sipil dan swasta. Bisa jadi seseorang dimasukkan sebagai pegawai negeri sipil karena mengajar di perguruan tinggi negeri, sementara seorang lainnya dimasukkan swasta sebab dia mengajar di perguruan tinggi swasta. Mereka dibedakan menjadi PNS dan swasta, padalah mereka sama-sama sebagai pengajar perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan istilah yang tidak tepat kadang membuat telinga kita tidak nyaman mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tidak usah kaget kalau nanti ada istilah “berprofesi sebagai PSK” atupun “pekerjaanya sebagai dokter” muncul di media massa, sebab memang kedua istilah tersebut digunakan secara tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliografi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi tersedia di http://kamusbahasaindonesia.org/profesi (12-10-10)&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki (2009) Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-1576697461085422986?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/1576697461085422986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=1576697461085422986' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1576697461085422986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1576697461085422986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/10/profesi-vs-pekerjaan.html' title='Profesi VS Pekerjaan'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-3059284303657163727</id><published>2010-08-31T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T19:08:04.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>Toko Buku dan Perpustakaan: sebuah analogi</title><content type='html'>bahrul ulumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku merupakan bangunan rumah atau ruang tempat penjualan buku. Dalam perkembangannya toko buku tidak hanya menjual buku saja, tapi juga menjual pernak-pernik terkait dengan buku atau barang-barang yang dibutuhkan oleh dunia akademik. Tidak mengherankan bila toko buku menjual tas, alat-alat tulis, mesin penghitung, desktop komputer dan sebagainya. Bahkan saat ini, toko buku juga menjual barang-barang yang tidak terkait dengan buku itu sendiri atau barang-barang terkait dengan kegiatan  akademik lainnya seperti alat-alat musik dan alat-alat olah raga. Tidak jarang mereka juga menjual audio visual untuk keperluan hiburan, bukan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak ada masalah dan juga tidak ada larangan bila toko buku mengembangkan jasanya dengan menjual barang-barang lainnya di luar buku. Bila menjual barang-barang tersebut mengungtungkan bagi toko buku, kenapa tidak menjualnya? Kalau perlu, toko buku berubah menjadi toko lainnyapun tidak mengapa sehingga buku tidak menjadi ujung tombak item penjualan, tapi merupakan salah satu bagian dari penjualan toko tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam penataanya, toko buku punya cara yang khas. Penataan buku tidak didasarkan pada kesamaan kajian ilmu yang ada dalam isi buku (subyek buku) secara konsisten. Penataan didasarkan pada selera toko buku yang bersangkutan, bukan pada suatu kaidah tertentu. Kebijakan dalam penataan antara satu toko buku yang satu dengan yang lainnya juga berlainan. Toko buku tidak terikat oleh suatu kaedah apapun kecuali kaedah yang telah dia ciptakan sendiri dan kaedah tersebut tidak mengikat toko buku lain di luar kelompok usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi, banyak buku yang dijajarkan berdasarkan pada subyek yang sama seperti buku-buku berisi ilmu hukum dijajarkan dalam barisan rak yang sama, atau kalaupun tidak dalam satu rak, tapi buku dijajarkan secara berdekatan. Namun demikian, tidak jarang buku-buku di toko buku dijajarkan karena kebaruan bukan karena subyeknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku biasanya menjajarkan koleksi terbaru di depan pintu masuk pengunjung. Kebijakan ini dimaksudkan agar pengunjung langsung bisa melihat koleksi terbaru yang dimiliki toko buku tersebut. Cara toko buku menarik pembeli tidak hanya menjajarkan koleksi terbarunya di depan pintu masuk. Buku-buku edisi diskon juga sering dijajarkan di depan pintu masuk. Tujuannya adalah untuk menarik pengunjung bahwa dengan dana yang sedikit pengunjung bisa mendapatkan buku bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah perpustakaan juga melakukan seperti yang telah dipraktikan oleh toko buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan dalam bahasa Inggris adalah library yang berasal dari liber (Latin), bibliotheca (Romawi), bibliotehque (Perancis)  bermakna buku.  Menurut ODLIS (Online Dictionary for Library and Information Science) perpustakaan adalah koleksi atau sekelompk koleksi dari buku, dan atau bahan tercetak maupun noncetak yang diorganisasi dan dirawat untuk keperluan bacaan, konsultasi, studi, riset dsb. Perpustakaan dikelola untuk memfasilitasi akses pemustaka, dikelola oleh pustakawan atau pegawai terlatih lainnya guna memenuhi keperluan pemustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyebut toko buku, sebagian orang pasti beranggapan bahwa toko buku hanya menjual buku saja. Sama halnya bila menyebut perpustakaan, sebagian orang akan membayangkan bahwa perpustakaan adalah tumpukan buku untuk dipinjamkan. Anggapan orang tidak seratus persen benar dan juga tidak seratus persen salah. Bila di toko buku yang  dijajarkan adalah buku, maka bukupun dijajarkan di perpustakaan. Namun demikian, walau keduanya sebagai tempat buku, namun sangat terbuka lebar bagi keduanya untuk menjual atau melayankan sesuatu yang bukan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat isitilah yang melekat pada keduanya, maka keduanya sama-sama berarti buku. Dalam “toko buku” jelas sekali terdapat kata buku. Demikian halnya dalam “perpustakaan” terdapat kata pustaka yang berarti buku. Dalam Bahasa Inggris, padanan perpustakaan adalah library. Library berasal dari kata liber yang berarti buku. Bila ada kata yang lebih tepat untuk mewakili kata “buku” barangkali adalah dokumen. Dokumen dimaksudkan untuk menyebut media apa saja yang bisa digunakan untuk menyimpan informasi. Buku disebut dokumen karena dalam buku tersebut menyimpan informasi. Majalah, ebook, rekaman suara, audio visual juga disebut dokumen sebab perkakas tersebut digunakan untuk menyimpan informasi. Kendati demikian, biarpun isitlah dokumen lebih tepat, namun sebagian orang merasa tidak nyaman menyebut dokumen sebab dokumen sering dipahami sebagai media penyimpan informasi rahasia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku tidak mensyaratkan pengunjungnya untuk membeli buku atau barang lainnya yang tersedia dalam toko buku tersebut. Pengunjung bebas untuk membeli buku serta bebas untuk tidak membelinya pula. Toko buku membuka peluang bagi pengunjung untuk melakukan window shopping dimana pengunjung boleh melihat-lihat buku, membaca buku sepuasanya (tentu tanpa fasilitas tempat duduk) atau bahkan hanya sekedar mengecek harga. Cara ini sengaja diambil oleh toko buku tersebut agar pengunjung tidak menyelesaikan bacaannya kecuali setelah mereka membeli terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemanfaatan buku, perpustakaan sangat mengakomodasi kepentingan pengunjung maupun pengguna. Maka tidak mengherankan perpustakaan menyediakan tempat duduk dengan meja besar agar pemakai bisa membuka-buka bukunya dengan nyaman. Perpustakaan juga masih memberi meja khusus (meja karel) agar pengunjung merasa lebih nyaman dengan menyendiri tanpa diganggu oleh pengunjung perpustakaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku &amp; perpustakaan (Perbandingan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku tidak perlu merancang suatu sistem apapun  setelah penjualan. Toko buku hanya berusaha bagaimana cara menjual buku sebanyak-banyaknya tanpa merisaukan buku yang sudah dibeli oleh pelanggannya. Hal ini sangat berbeda dengan perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya berusaha bagaimana perpustakaan dikunjungi oleh banyak penggunanya, tapi juga berusaha bagaimana caranya pemustaka memanfaatkan koleksi secara maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan di perpustakaan menuntut perpustakaan agar bisa menciptakan suatu sistem yang memungkinkan pengunjung browsing dan meminjam koleksi.  Layanan inilah yang secara prinsip berbeda dengan toko buku. Toko buku hanya menjual sementara perpustakaan meminjamkan koleksi untuk kemudian dalam waktu tertentu harus dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memungkinkan pemakai (pemustaka) bisa melakukan browsing dan meminjam koleksi atau buku, maka perpustakaan harus memberi tanda tertentu berupa ciri-ciri fisik dan isi. Ciri fisik adalah ciri yang berasal dari data fisik buku seperti siapa penulis buku tersebut, apa penerbitnya, dimana diterbitkan, kapan diterbitkan, berapa tebal halaman, apa  nomor ISBNnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri isi adalah subyek atau kajian  suatu buku. Subyek ini diwakili dengan suatu notasi yang berasal dari suatu bagan klasifikasi tertentu, misalnya Dewey Decimal Classification, Universal Classification dan sebagainya. Disamping notasi sebagai wakil isi buku, ada wakil buku yang diekspresikan dengan kata-kata verbal. Kata-kata tersebut berasal dari suatu daftar subyek yang di Indonesia dikenal dengan Daftar Tajuk Subyek Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri yang diungkapkan di atas merupakan isi dari suatu katalog perpustakaan. Jadi, katalog merupakan wakil buku/dokumen. Berdasar katalog tersebut, pemakai bisa melihat judul-judul buku apa saja yang ada di perpustakaan, pengarang-pengarang  mana yang karyanya tersimpan  dalam perpustakaan, karya apa saja yang tersimpan dalam  perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog diciptakan untuk memudahkan temu kembali bagi pemakai perpustakan,  di samping jajaran buku di rak yang justru sering menjadi sarana yang paling banyak dipakai oleh pemakai perpustakaan dalam temu kembali informasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembuatan ciri-ciri sebagaimana tersebut di atas merupakan cara agar setiap buku memiliki ciri yang khas yang berbeda dengan lainnya biarpun dalam judul yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kegiatan-kegiatan yang dilakukan di toko buku dan perpustakaan identik. Toko buku membutuhkan tenaga yang terhitung banyak karena harus melayani pengunjung, dari cleaning service, waiter/waitress, kasir sampai manajer. Bahkan dalam pemandangan sehari-hari waiter/waitress, dalam jumlah banyak, harus selalu sigap melayani pertanyaan dan pembelian disamping harus selalu menertibkan jajaran koleksi dalam raknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan juga melakukan hal yang sama dengan toko buku. Perpustakaan harus memiliki staf cleaning service untuk membersihkan ruangan, staf khusus yang mengembalikan dan menjajarkannya dalam rak agar terjaga kerapiannya. Dan tentu pekerjaan di perpustakaan lebih banyak dari toko buku karena pembeli di toko buku tidak perlu mengembalikan buku tersebut sedang peminjam perpustakaan harus memproses peminjaman dan pengembalian buku-buku yang sudah disirkulasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko buku dan perpustakaan memerlukan sentuhan profesional untuk menjadikan keduanya digandrungi oleh konsumennya dengan menyediakan sumber informasi bermanfaat terkini. Barangkali, ada sebagian kita yang berpikir bahwa toko buku lebih hebat karena mereka  hanya bisa melihat keuntungan finansial secara kasat mata, sementara keuntungan perpustakaan tidak bisa dilihat secara kasad mata. Seseorang yang terinspirasi karena membaca buku di perpustakaan, atau seseorang menjadi hebat karena fasilitas perpustakaan tidak pernah diperhitungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang ini, tentu, akan berakibat bahwa perpustakaan hanya urusan pengelolanya, bukan urusan orang banyak biarpun kemanfaatannya bisa dirasakan orang banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-3059284303657163727?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/3059284303657163727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=3059284303657163727' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3059284303657163727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3059284303657163727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/08/toko-buku-dan-perpustakaan-sebuah.html' title='Toko Buku dan Perpustakaan: sebuah analogi'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-3747802576915506903</id><published>2010-05-31T19:45:00.000-07:00</published><updated>2010-05-31T20:01:13.684-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>Semua tersedia di internet?</title><content type='html'>Bahrul Ulumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah percakapan di kios depan rumah, ada teman, sebut saja Suroso memberitahu kepada teman-temannya kalau Manchester United unggul tipis atas Mancester City 1-0. Dia merasa puas karena sudah tahu lebih dulu daripada teman-temannya. Karena curious, akhirnya saya bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana Kamu tahu MU (sebutan Manchester United) unggul tipis atas City (Manchester City) ?”&lt;br /&gt;“Dari internet”. Jawab Surosa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bertanya jauh padanya apa yang dimaksud dengan internet, tapi dia nampaknya sangat bangga bisa menyebut istilah tersebut. Dalam pandangannya, dia menyimpulkan bahwa internet itu  alat yang bisa untuk mengetahui apa saja, termasuk bagaimana cara mengetahui skor pertandingan sepak bola sampai untuk mengetahui bumbu sayuran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyalahkan pendapat kawan saya soal internet sebab teknologi ini mampu menyajikan infromasi yang dia butuhkan yaitu skor pertandingan sepakbola dan racikan bumbu untuk masakan tertentu. Saya juga tidak menanyakan padanya apa itu internet. Yang menjadi persoalan apakah benar ekspektasi kawan saya bahwa internet adalah segalanya? dan semua tersedia  dalam line internet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Internet bukan segalanya&lt;br /&gt;Internet merupakan kependekan dari interconnected-networking. Menurut Wikipedia (2010) internet adalah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian.  Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, akses internetpun semakin mudah. Awalnya akses hanya bisa dengan  Personal Computer, namun sekarang jauh lebih mudah. Internet bisa diakses  melalui Handphone (HP) menggunakan fasilitas GPRS (General Packet Radio Service). GPRS merupakan salah satu standar komunikasi wireless (tanpa kabel) yang memiliki kecepatan koneksi 115 kbps dan mendukung aplikasi yang lebih luas (grafis dan multimedia). Teknologi GPRS dapat diakses yang mendukung fasilitas tersebut. Pen-setting-an GPRS pada ponsel, tergantung dari operator (Telkomsel, Indosat, XL, 3) yang digunakan. Biaya akses Internet dihitung melalui besarnya kapasitas (per-kilobite) yang didownload.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat peran dan kemudahan dalam memanfaatkan internet pada saat ini, orang akan semakin beranggapan bahwa internet adalah segalanya sebab banyak informasi mengenai banyak hal tersedi adi dalamnya. Tapi bila dikaji lebih jauh, ternyata tidak demikian. Banyak hal juga yang tidak bisa terliput oleh internet. Doran (1995) dan Reuser (2008)  mencatat bahwa internet punya keterbatasan dalam menyediakan informasi. Maka mereka menggunakan istilah interNOT untuk membuktikan bahwa teknologi internet bukan segalanya. Selanjutmya Reuser mngemukakan bahwa internet bukanlah internasional, internet tidak mudah, internet tidak hanya google, internet tidak obyektif dan internet bukan tanpa jejak.  InterNOT tersebut adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Internet tidak identik dengan internasional. &lt;br /&gt;Sebagian orang meyakini bahwa semua informasi berkaitan dengan dunia internasional ada di internet. Internet banyak menyediakan informasi mengenai dunia internasional, tapi tidak berarti segalanya ada di internet. Penggunaan internet di tingkat internasional juga tidak merata sehingga mungkin saja dalam suatu negara tertentu mengenal internet dengan baik, namun di daerah lain tidak mengenal sama sekali. Berikut ini statistik penetrasi internet di belahan dunia : Africa 8.7 %; Asia 20.1%; Eropa 53%; Timur Tengah 28.8%; Amerika Utara 76.2%; Amerika Latin/Karibia 31.9%; Oseania/Australia 60.8%. Total rata-rata sekitar 26.6%. selanjutnya lihat di: http://www.internetworldstats.com/stats.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data di atas menunjukkan bahwa penetrasi internet di dunia internasional tidak sangat besar. Menurut data yang dihimpun oleh World Internet Users and Population Stats pada akhir tahun 2009 penetrasi internet di dunia hanya mencapai 26,6% saja.  Data tersebut membuktikan bahwa penyebaran internet tidak merata dan tidak mengalami perkembanganyang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Internet tidak mudah&lt;br /&gt;Seseorang boleh saja mengemukakan bahwa internet itu mudah. Alasannya sederhana bahwa hanya dengan meng-click saja akan terbuka semua jendela informasi dunia. Agaknya pendapat ini berlebihan sebab  pemanfaatan internet tidak semudah itu. Ketika seseorang searching di internet dia harus sudah memiliki “masalah” untuk ditanyakan pada suatu search engine. Search engine akan membantu pemakainya mencarikan jawaban atas pertanyaan berdasarkan query yang telah dia tulis dalam query box. Lalu hasilnya? Bisa ditebak, bahwa pencarian yang asal-asalan hanya akan mendapatkan perolehan (recall) yang banyak sekali sementara ketelitiannya sangat kecil (precise). Hal ini terjadi karena pemakai tidak tahu strategi pencarian informasi di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memanfaatkan internet memerlukan strategi agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Cara yang paling mudah untuk mengetahui strategi tersebut adalah dengan mengikuti training strategi mencari informasi di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Internet itu tidak hanya google&lt;br /&gt;Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menggunakan istilah “digoogling” saja, atau “coba tanya sama Om Goolge”. Dua ungkapan di atas menunjukkan bahwa mesin pencari google sangat terkenal di kalangan para netter (sebutan pengguna internet). Setiap kali membuka internet, rata-rata pemakai selalu mengandalkan google. Google memang besar tapi tidak berarti bahwa internet itu ya google. Masih banyak mesin pencari lainnya yang bisa digunakan dalam mencari informasi di internet seperti www.jux2.com, Yahoo!, MSN, AlltheWeb, AltaVista, dan sebagainya, yang kesemuanya punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan mesin pencari google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada banyak mesin pencari di internet yang mempunyai kekhasan tersendiri. Mereka punya kelemahan dan tentu juga keunngulan dibanding mesin pencari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Internet tidak obyektif &lt;br /&gt;Suatu negara memiliki kebijakan tersendiri terkait dengan internet. Ada yang membuka internet seluas-luasnya untuk rakyatnya, ada juga yang memproteksi informasi tertentu untuk rakyatnya dengan cara memblokir suatu situs tertentu. Biasanya suatu negara akan memblokir suatu situs tertentu karena pertimbangan politik ataupun moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, baik dari sisi  politik maupun moral,  negara melarang suatu situs tertentu karenn akawatir kepentingannya terganggu. Dalam perspektif internasional, tentu alasan ini tidak obyektif sebab pemblokiran alamat di internet sangat dikaitkan dengan kepentingan negara masing-masing, tidak dikaitkan dengan kepentingan penggunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.Internet tidak besar&lt;br /&gt;Sudah menjadi anggapan umum bahwa informasi yang disediakan dalam inetnet sangat besar. Anggapan tersebut benar bila yang  dimaksud besar adalah internet selalu menyediakan informasi apa saja yang diminta oleh penggunanya dengan mengesampingkan keusangan  ataupun kualitas informasinya. Pengguna bisa saja mencari informasi apa saja dalam internet, lalu perhatikan apakah informasi tersebut adalah informasi terkini? Ternyata internet tidak selalu menghadirkan yang terbaru. Internet menghadirkan informasi yang sudah usang, bahkan selalu menghadirkan informasi yang tidak diminta seklaipun. Hal ini menandakan internet menghadirkan informasi sampah (data smog).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.Internet bukan tanpa jejak. &lt;br /&gt;Perhatian pengguna internet hanya tertuju apakah informasi yang dibutuhkan tersedia atau tidak. Mereka tidak berpikir apakah sejarah browsing yang pernah dilakukan meniggalkan jejak atau tidak.  Apalagi sebagian besar pemakai internet di Indonesia, mereka tidak peduli terhadap sejarah browsingnya. Sejarah browsing ini nampaknya sangat sepele, namun sebenarnya sangat bermakna bagi pengelola suatu situs atau perusahaan. Adalah sangat mungkin pengelola situs menjual informasi berupa sejarah  browsing pada suatu perusahaan. Berdasarkan informasi tersebut suatu perusahaan mengeluarkan kebijakan mengenai produk tertentu yang akan ditawarkan pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Penutup&lt;br /&gt;Ketika membincangkan internet, sebenarnya, sebagian kita hanya membincangkan visible web. Visible web atau surfable web merupakan world wide web yang diindeks oleh mesin pencari. Untuk mencari informasi melalui visible web ini mudah sebab tanpa syarat apapun. Pengguna tinggal menggunakan fasilitas klik saja. Kemudahan dalam meanfaatkan visible  web berbanding lurus dengan perolehan informasinya, artinya kemudahan ini seringkali hanya menghasilkan informasi yang kualitasnya perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuser mengemukakan data dan tentang internet, seperti dikemukan di atas, bahwa visible web hanya memberikan sebagian informasi yang ada dalam internet. Untuk mendapatkan informasi yang terkini dan berkualitas, tentu pengguna harus melakukan browsing di invisible web. Informasi yang ada di dalam invisible web jauh lebih banyak daripada yang ada dalam visible web. Menurut studi yang diadakan di University of California, Berkeley tahun 2000 bahwa invisible web menyediakan kira kira 91.000 terabyte data sementara visible web hanya 167 terabyte. (en.wikipedia.org/wiki/Invisible_web). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Invisible web atau deep web merupakan world wide web yang tidak bisa dijangkau oleh mesin pencari standard pada umumnya. Invisible web menysaratkan bagi pengguna untuk membayar untuk mendapatkan informasi yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, kita sering melupakan invisible web sebab kita sudah merasa terpuaskan dengan menggunakan Yahoo Messenger dan  Facebook saja titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet (2010) tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Internet akses 1 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deep web (2010) http://en.wikipedia.org/wiki/Invisible_web akses 1 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surface web (2010) tersedia di http://en.wikipedia.org/wiki/Visible_web akses 1 Juni 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuser, A.. (2008, January). When InterNET Is InterNOT. Online, 32(1), 32-36.  Retrieved April 29, 2010, from ABI/INFORM Global. (Document ID: 1417200761).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doran, Kirk.  (1995, June). The Internot: Helping library patrons understand what the Internet is not (yet). Computers in Libraries, 15(6), 22.  Retrieved April 29, 2010, from ProQuest Computing. (Document ID: 6782733).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-3747802576915506903?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/3747802576915506903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=3747802576915506903' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3747802576915506903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3747802576915506903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/05/semua-tersedia-di-internet.html' title='Semua tersedia di internet?'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-2362657916051679360</id><published>2010-04-22T20:09:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T20:11:36.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Perspektif</title><content type='html'>Padanan kata perspektif adalah sudut pandang, cara pandang atau sering disebut point of view. Cara pandang ini sangat berpengaruh terhadap sikap  seseorang tentang sesuatu hal. Bilamana seseorang mendasarkan pada sudut pandang yang tepat nisaya dia akan mendapatkan pemahaman terhadap sesuatu hal secara baik. Tapi sebaliknya, bila cara pandangnya salah, niscaya dia akan masuk dalam perangkap salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ada seorang filosuf yang punya cara pandang seperti yang dia ungkapkan “saya ada karena saya berpikir saya ada”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang ini tidak hanya menjadi cara pandang dia saja. Bisa jadi ribuan bahkan jutaan orang menggunakan cara pandangnya dalam melihat keberadaan dirinya. Alangkah naifnya bila cara pandang ini diterapkan untuk melihat surga dan neraka. Bila diterapkan, tentu menjadi “Surga dan neraka ini ada karena saya berpikir surga neraka itu ada”. Lalu coba saja cara pandang ini diambil kebalikannya, maka “surga neraka itu tidak ada karena saya berpikir surga neraka tidak ada”. Jadi keberadaan surga dan neraka hanya didasarkan pada “menurut saya, atau karena saya berpikir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cara pandang lain yang kadang membuat ketidaknyamanan. Seperti halnya penyebaran ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Sebagian yang tidak menyukai Islam pasti akan mengambil suatu kesimpulan sederhana bahwa Islam disebarkan dengan pedang karena sering kali simbol Islam ditandai dengan pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya Islam saja yang diasosiasikan jahat, Kristenpun demikian. Kristen juga diasosiakan sebagai agama yang disebarluaskan dengan kekerasan. Kasus di Indonesia umpamanya. Kristen masuk Indonesia bersama penjajah. Lalu, banyak orang mengambil kesimpulan kristen itu agama kolonial, agama yang disebarkan dengan penjajahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak terkecuali demokrasi sebagai ”agama” dunia ketiga. Demokrasi diagungkan dengan segala cara. Asal pakai label demokrasi nampaknya berbuat apapun tidak apa-apa walau perbuatan itu tak sesuai dengan jiwa demokrasi itu sendiri. Kalau kita mengambil contoh di Irak niscaya kita sepakat bahwa demokrasi didirikan dengan panser, bom dan teror. Bukankah atas nama demokrasi pula negara berdaulat seperti Irak dihancurkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa memang sedemikian sederhana untuk mempercayai surga dan neraka? Dan apa memang sesederhana itu untuk melihat penyebaran agama, demokrasi dan sebagainya? Itulah sebuah perspektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda halnya bila menggunakan perspektif lain semisal buat apa berbuat baik di dunia ini bila tidak ada surga &amp; neraka di kelak kemudian hari.  Jika menggunakan cara pandang terakhir ni, bisa jadi manusia akan hidup menurut kehendaknya sendiri tanpa berpikir panjang mengenai keadaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga sebaliknya, bila seseorang berpikir bahwa masih ada seri kehidupan setelah kehidupan di dunia, maka saya yakin kehidupan seseorang akan semakin teratur, akan semakin baik sebab dia merasa bahwa apa yang dilakukannya di dunia akan sangat berpengaruh untuk kehidupan di akhirat. Semakin seseorang meyakini surga neraka, semakin kuat dia menjaga kehidupannya agar tidak berbuat jahat pada orang lain dan juga dirinya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-2362657916051679360?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/2362657916051679360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=2362657916051679360' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2362657916051679360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2362657916051679360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/04/perspektif.html' title='Perspektif'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-2667692792261618505</id><published>2010-04-22T00:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T00:35:20.248-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Anak-Anak Dan Masjid</title><content type='html'>Sekarang ini sebenarnya saya sedang prihatin dengan  masjid yang ada di desa saya walau masjid itu bukan tempat yang biasa aku salat Jum’at sedari kecil. Saya prihatin bukan karena bangunan masjid tersebut sudah usang dan tidak layak huni lagi. Justru bangunan sekarang sudah bagus banget dibanding beberapa tahun sebelumnya. Yang menjadikan saya prihatin adalah sikap yang diambil oleh pengurus atau takmir masjid yang melarang anak-anak main di sana. Ada tulisan besar yang siap menghadang anak-anak ke masjid, yaitu tulisan “DILARANG BERMAIN”. Tulisan tersebut sangat jelas maknanya bahwa anak-anak dilarang bermain di Masjid, bahkan di halaman masjidpun sepi dari anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak-anak main di masjid, banyak jamaah yang merasa bahagia, tapi ada juga anggota jamaah yang tidak tidak senang dengan kehadiran mereka. Salah satu alasan ketidak sukaan jama’ah terhadap anak-anak adalah karena anak-anak itu senang membuat gaduh. Kadang mereka tertawa cekikikan waktu para jamaah sedang salat, bahkan tak jarang mereka menangis karena suatu sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para jamaah merasa bahwa kegaduhan anak-anak membuat kekhusukan mereka terganggu. Seraya mengatakan  “Masjid itu kan tempat ibadah, bukan tempat main apalagi untuk untuk cekikikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, sebenarnya anak-anak boleh saja main ke masjid atau musala. Kalau mereka belum bisa bilang kalau mau pipis, maka orang tuanya bertanggung jawab penuh mendampinginya agar sewaktu-waktu pipis, air pipisnya tidak mengenai jamaah lainnya. Kalaupun anak-anak sudah bisa bilang ketika mau pipis juga tetap diawasi sebab siapa tahu masih senang iseng terhadap jamaah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali pengawasannya tidak cukup dengan itu. Orang tua juga harus mengambil posisi barisan belakang saja untuk menjaga kekhusukan para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usia TK/SD juga perlu diajak ke masjid dengan pendampingan orang tuanya. Demikian juga anak-anak yang lebih besar, mereka seharusnya bisa diajak ke masjid. Mengapa mereka harus ke masjid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi tidak pernah melarang anak-anak saya ikut ke masjid biarpun mereka perempuan.  Bagi saya tidak ada bedanya antara perempuan dan laki-laki dalam kasus ini. Mereka sama-sama berhak untuk kenal masjid sebagai tempat untuk salat. Mereka berhak menyaksikan orang-orang salat berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila akhirnya mereka itu melakukan sedikit iseng atau melakukan sesuatu yang membuat gaduh, maka harus disadari bahwa mereka itu anak-anak yang masih senang bermain. Rasa ingin bermain mereka sedikit banyak akan berkurang sejalan dengan pertambahan kedewasaan mereka. Bila anak-tidak main, justru itu menandakan bukan sebagai anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya pengalaman yang kurang menyenangkan  dalam kasus anak-anak dan masjid. Ada salah satu keluarga saya yang tidak sering diajak ke masjid atau musalla waktu kecil. Alasan kenapa tidak diajak juga masuk akal, yaitu agar tidak mengganggu jamaah yang lagi salat. Karena pertimbangan inilah maka dia yang paling jarang ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang akibatnya sudah bisa dirasakan, dari seluruh anggota keluarga yang tidak disiplin dalam menjalankan ibadah adalah saudara saya yang tidak di ajak ke masjid waktu masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang menimpa keluarga saya ini seharusnya menjadi pelajaran kepada siapa saja bahwa bila kita ingin anak-anak kita atau generasi muda ingin menjadi yang taat ibadah, maka sedari kecil sudah harus kita ajak ke masjid. Bagaimana mereka akan menambatkan hatinya di masjid manakala mereka tidak mengenal masjid kecuali dari corong microphone yang keluar setiap awal waktu salat tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya ngepel lantai masjid sementara kemudian anak-anak kita bisa menjadi orang-orang yang ahli ibadah lantaran mereka adalah bagian dari masjid itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-2667692792261618505?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/2667692792261618505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=2667692792261618505' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2667692792261618505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/2667692792261618505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/04/anak-anak-dan-masjid.html' title='Anak-Anak Dan Masjid'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-3526144925830116725</id><published>2010-04-04T18:33:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T18:34:32.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Keyakinan</title><content type='html'>Keyakinan atau iman merupakan kepercayaan mutlak terhadap sesuatu. Iman kepada Allah berarti percaya secara mutlak kepada Allah tanpa ada syarat apapun. Dalam keseharian, kata iman sangat mudah diucapkan namun sangat sulit diimplementasikan. Lebih lagi, iman susah dikontrol oleh orang lain. Yang tahu keimanan seseorang adalah seseorang tersebut dengan Maha Pencipta alias Allah. Boleh jadi seorang mengumbar kata kata iman, tapi tetap saja susah dibuktikan secara fisik bahwa dia beriman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah seseorang yang berpuasa. Sebenarnya, yang tahu seseorang berpuasa adalah antara pelaku dengan Allah. Bila puasa ditandai dengan tidak makan, minum atau perbuatan lainnya yang membatalkan puasanya di hadapan orang lain, maka sesungguhnya sangat mudah mengecoh dengan berpura-pura puasa. Misalnya, pergi ke ruang tertutup, maka sangat mungkin untuk makan atau minum tanpa diketahui oleh orang lain.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya keimanan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sebagai ilustrasi banyak sekali orang dewasa yang tidak bekerja mengeluarkan keringat tidak berpuasa sehari penuh pada bulan Ramadan. Sedang sebagian anak kecil mampu melaksanakan puasa selama sebulan penuh tanpa ada lubang sekalipun. Dalam suatu keluarga umpamanya, ada salah satu anggota keluarga yang sudah dewasa namun tidak mampu puasa penuh dalam satu bulan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara dua keponakannya mampu melaksanakan puasa sebulan penuh padahal mereka baru berumur 7 dan 8 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi tanda tanya mengapa orang dewasa tidak kuat puasa Ramadan sebulan penuh sementara anak kecil yang berumur 7 dan 8 tahun mampu puasa sebulan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tetap berpendapat bahwa hanya keimanan yang mampu menggerakkan seseorang berpuasa atau melaksanakan ibadah lainya secara sempurna. Seorang dewasa tidak mampu puasa karena tidak yakin penuh bahwa puasa Ramadan itu titah Yang Maha Kuasa yang harus dijalankan, sementara anak-anak biarpun mereka masih kecil, namun  mereka percaya penuh bahwa perintah puasa itu dari Allah yang tidak boleh ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan sangat berpengaruh terhadap apa yang akan dilakukan atau yang akan ditinggalkan. Keimanan inilah yang akan mengontrol semua perbuatan. Seorang beriman akan merasa malu bila melakukan perbuatan yang nista. Dia merasa malu bukan karena dilihat orang lain, tapi lebih merasa bahwa apa yang dilakukannya selalu diawasi oleh Yang Maha Melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dalam kehidupan sehari-hari, seorang beriman akan sangat terikat dengan keimanannya. Semakin dia menjaga keimanannya, semakin kuat dia mengontrol perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila ada seseorang selalu beribadah sepertinya sangat khusuk tapi masih tega mengambil sesuatu yang bukan haknya, menyakiti orang lain tanpa alasan yang jelas, atau berbuat maksiat lainnya, baik yang merugikan dirinya maupun orang lain, maka sesungguhnya dia memperlihatkan bahwa dirinya masih menyimpan persoalan keimanan dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, Apakah benar kita sudah beriman?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-3526144925830116725?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/3526144925830116725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=3526144925830116725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3526144925830116725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3526144925830116725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/04/keyakinan.html' title='Keyakinan'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-1017997003978093572</id><published>2010-03-29T22:51:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T22:53:22.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Cinta ditolak?</title><content type='html'>Apa reaksi Anda kalau cinta Anda ditolak, atau orang yang Anda harapkan menjadi bagian dalam hidup Anda ternyata lari meninggalkan Anda, atau kalau Anda berbeda prinsip dengan orang yang Anda cintai dimana Anda mencintai dengan sangat sementara dia menolak cinta Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menebak, pasti, perasaan Anda akan dongkol, marah emosi atau sifat-sifat emosi negatif lainnya. Kedongkolan dan kemarahan ini wajar saja sebab apa yang diinginkan tidak sama dengan kenyataan. Terlebih bila harapan kita tinggi sementara kenyataanya bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pasti akan mengalami rasa cinta. Rasa ini sering diekspresikan dengan kata-kata cinta, trisno dan ungkapan senada lainnya, namun tak jarang seseorang menyimpan rasa cinta dengan dirasa dalam hati tanpa mengungkapkan tersebut  kepada siapapun bahkan terhadap orang yang dia cintai sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam hati, aku termasuk orang yang tidak mudah mengungkapkan rasa cinta kepada orang lain. Aku  merasa lucu harus mengatakan “I love U”. Namun tidak berarti aku  tidak pernah mengatakannya. Bahkan dulu pernah mengumbar kata-kata itu walaupun tanpa ekspresi apapun karena hanya ingin sekali membuat orang lain hepi dengan kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kudekati seseorang dengan serius. Artinya bahwa pendekatan ini tidak serta merta pendekatan sebagai pacar, tapi lebih sebagai istri/garwo alias sigaring nyowo. Apalagi dapat signal yang menggembirakan dari keluarga seseorang yang sedang aku dekati. Dalam harapanku, pastilah dia akan mau wong selama ini track recordku baik dalam dunia cinta mencinta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah hidup, kadang tidak mudah, tidak selalu nurut terhadap apa yang kita skenariokan. Harapan yang begitu melambung tinggi ternyata tidak menjadi kenyataan. Walau aku tidak pernah mengungkapakan rasa cinta dengan “I love u full”, padanya, tapi aku berjanji dalam diri bahwa aku  akan mencintainya lebih dari yang dia bayangkan dan harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban “tidak” muncul dari seseorang yang aku akan mencintainya, tanda itu jelas bahwa dia tidak memilih aku sebagai pacar apalagi sebagai pendamping hidup. aku tidak tahu kenapa dia tidak mau padahal dia selalu menampakkan sebagai orang yang suka padaku. Barangkali aku yang terlampau  ke-GR-an melihat dia. Mungkin dia menaruh hormat padaku sehingga tidak menampakkan sifat negatif di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut harus  memalingkan cintaku  kepada orang lain. Dan yang paling membahagiakan dari diriku sendiri ternyata aku tidak menaruh dendam sama sekali padanya. Pernah suatu hari, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya. Aku merasa biasa saja dan ngobrol seperti tidak pernah ada kejadian kalau dulu aku pernah mengejarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-1017997003978093572?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/1017997003978093572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=1017997003978093572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1017997003978093572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1017997003978093572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/03/cinta-ditolak.html' title='Cinta ditolak?'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-1029108703279002801</id><published>2010-02-24T19:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T19:22:39.537-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Fiksi</title><content type='html'>Rupanya mendung pagi ini malas turun sehingga matahari bersinar sangat cerah. Tentu pagi sangat hepi sebab dia akan tampak ceria. Pagi ceria, sebenarnya, juga tidak selalu berbanding lurus dengan penikmat matahari pagi. Tak percaya? Datang saja ke rumah sakit. Biarpun matahari mencoba tersenyum semeriah mungkin, tetap saja orang sakit kelihatan pucat bahkan matahari menjadi pengganggu tidur paginya.&lt;br /&gt;Artinya, kecerian sinar matahari bisa dipandang “ceria” atau “tidak ceria” sangat tergantung pada perspektif. Matahari yang cerah bagi orang yang hepi adalah benar-benar menceriakan suasana hati, begitupun sebaliknya, kecerian matahari bisa menjadi pengganggu nomor satu bagi mereka yang sedang gundah gulana. Kehadiran matahari hanya menagih si gundah gulana untuk kembali mengingat mimpi buruk atau pengalaman buruk yang sedang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, ada sebuah istilah yang digunakan untuk mensifati sebuah karya tulis semacam, fiksi dan nonfiksi. Barangkali secara singkat dapat dikatakan bahwa karya nonfiksi adalah karya ilmiah yang benar-benar nyata, dan bisa dibuktikan dengan eksperimen, sementara karya fiksi adalah karya rekayasa khayalan seorang penulis saja, yang kebenarannya tidak bisa dibuat  eksperimen ulang dengan menggunakan metode ilmiah. &lt;br /&gt;Masih menurutku pastinya. Karya nonfiksi selalu dikonfrontasikan dengan karya fiksi yang berarti bahwa nonfiksi itu nyata sedang fiksi adalah tidak nyata. Dari novel (sebagai contoh karya fiksi) yang aku baca, diakui memang ada novel yang sangat bombastis, romantis dan melangit ceritanya seolah berlatar belakang angkasa langit sana. Novel jenis ini tentu langsung bisa diputusi terlalu menghayal dan tidak membumi. Lalu bagaimana novel-novel lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel-novel tersebut bisa jadi merupakan cerminan masyarakat pada umumnya. Bila isi sebuah novel itu mengurai suatu kebobrokan moral masyarakat, maka seharusnya kita tidak usah pake emosi dulu dengan menentang keras ini novel tersebut. Ada baiknya kita mengoreksi diri terlebih dulu apakah novel tersebut memang cerminan suatu fakta  atau khayalan belaka. Bila isinya merupakan cerminan fakta, tentu seharusnya kita berterima kasih pada penulis memang seperti itulah kejadian yang ada di masyarakat. Demikian juga sebaliknya, bila novel tersebut hanya rekaan atau khayalan belaka, bahkan berisi fitnah, tentu  harus ditolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengarang bisa menulis sesuatu karena dia telah memotret apa yang terjadi di masyarakat. Aku tetap berpendapat bahwa novel seringkali merupakan fakta sosial yang dikemas dalam bahasa dan gaya seorang penulis. Penulis mencoba memotret peristiwa di tengah masyarakat lalu disuguhkan kepada masyarakat kembali. Tinggal masyarakat itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres atau tidak. Itu semua dikembalikan kepada pembaca yang tak lain dan tidak bukan adalah masyarakat juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-1029108703279002801?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/1029108703279002801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=1029108703279002801' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1029108703279002801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1029108703279002801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2010/02/fiksi.html' title='Fiksi'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-5296344366207448983</id><published>2009-09-02T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:06:39.435-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>Problematika Penegakan Hak Cipta Di Perpustakaan Perguruan Tinggi (Perspektif Pustakawan)*</title><content type='html'>Oleh Bahrul Ulumi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;Pengelola dan pemustaka (end user) perpustakaan sering menggandakan atau memperbanyak  bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Selama ini belum ada panduan yang bisa digunakan sebagai acuan bagi pengelola perpustakaan  maupun pemustakanya dalam hal penggandaan bahan perpustakaan apakah sudah dalam koridor Hak Cipta atau belum. Tulisan ini mencoba menyoroti kegiatan penggandaan/perbanyakan di perpustakaan perguruan tinggi dalam perspektif pustakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengantar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perpustakaan perguruan tinggi merupakan terjemahan dari academic library yang didefinisikan Dictionary of Information and Library Management (2006: 1) sebagai perpustakaan yang melayani komunitas akademis seperti perpustakaan universitas atau perpustakaan perguruan tinggi. Dalam konteks perguruan tinggi di Indonesia, Hermawan dan Zen (2006:33) memberi definisi perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan yang terdapat di lingkungan pendidikan tinggi, seperti universitas, institut, sekolah tinggi, akademi dan lembaga perguruan tinggi lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas utama perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan, mengelola, dan memberdayakan informasi yang terekam dalam koleksinya.  Menurut Gabriel (1950) mengembangkan koleksi (collection development) adalah proses sistematis untuk membangun koleksi guna keperluan belajar, pengajaran, riset, rekreasi serta untuk keperluan pemustaka lainnya  (Johnson, 2004: 2). Maka perpustakaan diharapkan menyimpan berbagai macam subyek koleksi terkini sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Mengelola berarti mengolah bahan-bahan perpustakaan sedemikian rupa dengan cara diklasifikasi, dikatalogisasi, diberi label, diberi barcode dan sebagainya sehingga bahan-bahan tersebut bisa dengan mudah disimpan, ditata dalam rak-rak perpustakaan dan mudah ditemukembali bilamana diperlukan. Memberdayakan informasi yang terekam dalam koleksi perpustakaan berarti membuka akses informasi seluas-luasnya kepada pemustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bahan-bahan yang ada dalam di koleksi perpustakaan, tentu disusun oleh seseorang, beberapa orang atau badan hukum sebagai pencipta. Untuk melindungi karya itulah diperlukan perangkat hukum berupa Undang-undang Hak Cipta. Nilai penting Undang-undang Hak Cipta adalah untuk melindungi ciptaan dari upaya eksploitasi terhadap suatu karya oleh seseorang atau pihak lain yang tidak punya hak untuk itu. Keberadaan undang-undang Hak Cipta juga dimaksudkan untuk menghindari dari upaya perbanyakan/penggandaan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, disamping untuk merangsang masyarakat agar terpacu mencipta suatu karya-karya baru di bidang seni, sastra dan inovasi teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam praktek sehari-hari, seringkali pemustaka (pengguna perpustakaan) atau bahkan pengelola perpustakaan melakukan penggandaan atau perbanyakan dengan cara memfotokopi seluruh bahan, misalnya memfotokopi satu buku utuh, atau juga mengkopi dari bahan-bahan nonbuku yang ada di perpustakaan.&lt;br /&gt;Mengacu dari persoalan di atas, maka timbul masalah apakah sebenarnya praktek yang dilakukan oleh pengelola dan pemustaka perpustakaan dengan menggandakan bahan-bahan perpustakaan dikategorikan sebagai ketidaktaatan kepada hukum Hak Cipta, atau penggandaan adalah kegiatan yang dibolehkan oleh pengelola perpustakaan maupun pemustakanya karena untuk kepentingan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hak Kekayaan Intelektual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak kekayaan intelektual merupakan padanan istilah intellectual property right. Ada juga yang menerjemahakan istilah ini dengan hak milik intelektual, hak atas kekayaan intelektual (HAKI/HaKI), dan juga hak kekayaan intelektual. Penerjemahan ini beragam sebab terkandung kata property yang berarti kepemilikan terhadap benda. Untuk itulah ketika muncul istilah intellectual property right  maka diterjemahkan sebagai hak milik intelektual. Namun demikian ada ahli yang tidak sependapat bila intellectual property right diterjemahkan dengan hak milik intelektual sebab kepemilikan terhadap intelektual berbeda dengan kepemilikan terhadap benda  umumnya. Misalnya seseorang yang menyerahkan naskah kepada penerbit untuk dierbitkan sebagai sebuah buku. Penerbit punyak hak untuk menerbitkan dan memperbanyak buku tersebut, namun penerbit tidak berhak sama sekali untuk mengubah nama pengarangnya, apalagi mengubah substansi isi buku tersebut. Maka bila intellectual property right diterjemahkan dengan hak milik intelektual dirasa tidak tepat. Demikian juga bila diterjemahkan dengan hak atas kekayaan intelektual. Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-undangan RI No. M.03.PR.07.10 tahun 2000 menyatakan bahwa istilah yang digunakan untuk padanan istilah intellectual property right  adalah hak kekayaan intelektual, tanpa kata “atas” atau disingkat dengan HKI. Alasan perubahan istilah tersebut diantaranya karena menyesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia yang tidak menulis kata depan untuk suatu istilah (Purba, Saleh, Krisnawati, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan intelektual merupakan bagian dari benda, yaitu benda yang tidak berwujud benda immateriil). Pasal 499 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (selanjutnya disingkat KUH perdata) berbunyi “menurut paham undang-undang yang dimaksud dengan benda adalah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasi oleh hak milik”. Menurut Mahadi, seperti diungkapkan Saidin (2007:12) bahwa yang bisa menjadi obyek hak milik adalah benda dan benda itu terdiri atas barang dan hak. Selanjutnya menurut Mahadi barang yang dimaksudkan dalam pasal 499 KUH Perdata adalah benda materiil sedangkan hak adalah benda immateriil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup hak kekayaan intelektual mencakup dua macam hak yaitu Hak Cipta (copyright) dan Hak Kekayaan Industri (industrial property right). Hak Kekayaan industri terdiri atas paten (patent), Model dan rancang bangun (Utility models), Desain industri (industrial designs), Rahasia dagang (Trade secret), Merk (trade marks), Merek jasa (Service marks), Nama dagang atau nama niaga (Trade names or commercial names), Sebutan asal barang (Apletion of origin), Indikasi asal barang (Indications of origin), Perlindungan persaingan curang (unfair competition  protection), Perlindungan varietas baru tanaman (New varieties of plants protection), Desain tata letak  sirkuit terpadu (Integrated circuit).&lt;br /&gt;Pembagian ini penting dikemukakan sebab seringkali istilah Hak Cipta, paten, merk atau hak-hak lainnya yang terdapat dalam hak kekayaan intelektual dicampuradukkan, padahal masing-masing istilah punya pengertian dan karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Konsep Hak Cipta&lt;br /&gt;Dalam istilah Hak Cipta terdapat dua kata, yaitu hak dan cipta. Hak berarti kewenangan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dan, cipta adalah hasil kreasi manusia yang dihasilkan karena akal, nalar, perasaan, pengalaman  dan kreatifitas (Bintang, 1998). Setiap orang punya kemampuan untuk berpikir, namun tidak semua orang mampu menuangkan hasil pemikiran dalam bentuk karya tertentu. Hak Cipta ini diberikan kepada karya yang sudah berwujud bukan pada ide. Ide seorang profesor yang sangat cemerlang sekalipun mengenai suatu bidang subyek tertentu yang ia sampaikan dalam suatu kuliah, namun dia tidak merekam ide tersebut dalam suatu media, dan tidak juga menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. Lalu di kemudian hari salah satu mahasiswanya menulis ide profesornya ke dalam suatu buku, maka Hak Cipta buku ada pada mahasiswa yang menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UUHC tahun 2002  pasal 1 butir 1 Hak Cipta adalah “hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan yang berlaku”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, Hak Cipta menurut Unversal Copyright Convention sebagaimana tertuang dalam artikel V adalah “The right referred to article 1 shall include the exclusive right of the author to make, publish and autrorize the making and publication of translation of works protected under this convention”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Hak Cipta yang diberikan oleh UUHC 2002 dan Unversal Copyright Convention mempunyai kesamaan dengan menggunakan redaksi “hak eksklusif”. Ekslusif berarti khusus, spesifik dan juga unik. Hak ekslusif berarti hak yang semata-mata diperuntukkan untuk pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut kecuali mendapat ijin dari pemegangnya (Saidin, 2007). Adalah wajar bila pencipta mendapat hak ekslusif sebab mampu menuangkan ide dalam sebuah karya nyata dalam bentuk buku, karya seni atau karya dalam bentuk lainnya. Sebagai ilustrasi, banyak orang yang bisa memainkan alat musik belum tentu mampu mengarang sebuah lagu yang baik. Seorang seniman seringkali membutuhkan waktu yang lama untuk membuat sebuah karya musik. Kadang-kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mencipta hanya sebuah lagu. Dalam suatu wawancara, Rhoma Irama menyampaikan bahwa dia membutuhkan waktu tiga tahun untuk mencipta sebuah lagu dengan judul “judi” (Metro TV, 2009). Untuk itulah sudah sewajarnya bila mereka mendapatkan hak khsusus atas ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam pasal 1 butir 2 UUHC menjelaskan bahwa pencipta adalah “seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, ketrampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan berisfat pribadi”. Pencipta bisa seseorang atau beberapa orang, lembaga atau instansi, badan hukum, dan Negara. Keberadaan Hak Cipta ini dimaksudkan untuk mencegah pihak lain agar tidak mengambil keuntungan dari suatu ciptaan tanpa sepengetahuan pencipatnya secara tidak jujur. &lt;br /&gt;Pemegang Hak Cipta merupakan pihak yang berhak untuk menguasai dan mengawasi Hak Ciptanya. Hal ini sesuai dengan Pasal 507 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) bahwa setiap hak milik mempunyai unsur kemampuan menikmati benda dan kemampuan untuk mengawasi atau menguasai benda yang menjadi obyek hak milik itu, misalnya mengalihkan hak milik itu kepada pihak lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan KUHPer, UUHC tahun 2002 pasal 3 menganggap Hak Cipta sebagai benda yang bergerak, karena Hak Cipta dapat dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, dan atau sebab-sebab lain yan dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan hak kekayaan intelektual lainnya, Hak Cipta mempunyai kekhususan tersendiri. Dalam Hak Cipta terkandung hak ekonomi dan hak moral. Menurut Djumhana dan Djubaedillah (2003:74) Hak ekonomi berarti hak untuk mendapatkan keuntungan yang bernilai ekonomi seperti uang, dan hak moral yang menyangkut perlindungan atas reputasi si pencipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Hak Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hozumi (2006) menyebut setidaknya ada sembilan macam hak ekonomi yakni: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Hak perbanyakan (right of reproduction). Hak ini paling substansial dalam hak kekayaan intelektual. Perbanyakan berarti pernggandaan dalam bentuk  kongkrit melalui cetakan, alat scanner, mesin fotokopi  dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Hak mempertunjukan (right of performance). Hak ini dimiliki oleh seseorang yang menuangkan karyanya dalam bentuk pertunjukan seperti seniman musik, seniman teater atau seninam yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Hak menyajikan (right of presentation). Pada masa lalu hak ini hanya diterapkan pada pemutaran film saja dengan memproyeksikan pada suatu layar lebar. Namun sekarang teknologi ini bisa diterapkan juga untuk kepentingan pribadi dengan layar komputer dan layar LCD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Hak menyebarkan (right of public transmission). Pencipta punya hak untuk menyebarluaskan ciptaannya dengan cara menjual, menyewakan atau kegiatan lainnya dengan maksud agar ciptaannya dikenal oleh masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Hak menuturkan (right of recitation). Hak menuturkan merupakan hak pencipta untuk menyampaikan, menceritakan isi karyanya kepada masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Hak memamerkan (right of exhibiton). Pencipta merupakan pemegang hak khusus dalam memamerkan karya-karyanya di depan umum. Hak memamerkan menyangkut peragaan karya seni misalnya fotografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Hak distribusi (right of distribution, transfer of ownership and lending). Adalah mengalihkan hak milik, atau meminjamkan kepada pihak lain. Hak distribusi berlaku untuk penjualan dan penyewaan piranti lunak video game. Purba, Saleh dan Krisnawati (2005:21) menyebut hak pinjam ini dengan Hak pinjam masyarakat (public lending right), yaitu hak pencipta atas pembayaran ciptaan yang tersimpan dalam perpustakaan umum, yang dipinjam oleh masyarakat. Hak ini berlaku di Inggris dan diatur dalam The Public lending Right Scheme 1982. Ketentuan ini menyebtu bahwa yang mendapat perlindungan hak pinjam masyarakat adalah warga negara Inggris saja. Pemerintah diwajibkan membayar untuk tiap buku yang dipinjam oleh masyarakat sebanyak 1.45 pence tiap tahunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djumhana dan Djubaedillah (2003) menambahkan bahwa perlindungan terhadap hak pinjam masyarakat berlangsung selama pencipta hidup ditambah lima puluh tahun setelah pencipta meninggal dunia. Tidak semua pencipta mendapatkan pembayaran dari pemerintah. Hanya pencipta yang telah mendaftarkan pada lembaga hak pinjam yang akan mendapatkan bayaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8) Hak terjemahan, aransemen, transformasi dan adaptasi (right of translation, arrangement, transformation, and adaptation). Pencipta sepenuhnya berhak untuk menerjemahkan, mengaransemen musik, atau mengadaptasi ciptaanya untuk membuat turunan. Terjemahan berarti mengeskpresikan suatu karya ke dalam bahasa lain. Mengaransemen berarti mengubah karya musik dengan menambahkan atau mengurangi elemen elemen kreatif baru pada karya musik yang telah ada. Transformasi berarti mengubah bentuk ekspresi. Adaptasi adalah mengubah karya dengan ekspresi lain. Misal karya novel diadapatasi untuk dijadikan film atau sandiwara. Karya adaptasi ini tidak mengubah substansi yang ada dalam karya aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Hak eksploitasi ciptaan turunan (rigt in the exploitation of derivative work). Ciptaan turunan merupakan ciptaan baru yang diciptakan melalui terjemahan, aransemen, transformasi, atau adaptasi. Keunikan hak ciptaan turunan ini adalah biarpun pemilik hak ciptanya adalah pemilik Hak Cipta turunan namun di saat yang sama, pencipta ciptaan orisinal juga memiliki hak yang sama dengan hak  pencipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Hak Moral&lt;br /&gt;Dalam pandangan Purba, Saleh, Krisnawati (2005) hak moral adalah  hak yang melindungi kepentingan pribadi atau reputasi pencipta atau penemu. Hak moral ini secara kekal melekat pada diri pencipta. Hak moral mencakup tiga hal yaitu:  pertama, hak untuk menuntut kepada pemegang hak cipta agar nama pencipta selalu dicantumkan pada ciptaannya. Hak ini juga bermakna pencipta memiliki hak untuk menentukan apakah nama pencipta harus dicantumkan atau tidak. Dan apakah nama sebenarnya atau nama samarannya yang digunakan. Pencipta juga memiliki hak untuk menentukan hal ini bila sebuah ciptaan turunan diumumkan. Kedua, hak untuk tidak melakukan perubahan pada ciptaan tanpa persetujuan pencipta atau ahli warisnya. Ketiga, hak pencipta untuk mengadakan perubahan pada ciptaan sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kepatutan yang berkembang dalam  masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut UUHC tahun 2002 Pasal 12 butir 1, jenis ciptaan yang dilindungi oleh hak cipta adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. buku,  program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;&lt;br /&gt;b. ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu; &lt;br /&gt;c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikaan dan ilmu pengetahuan;&lt;br /&gt;d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks.&lt;br /&gt;e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantmim&lt;br /&gt;f. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni atung, kolase, dan seni terapan;&lt;br /&gt;g. arsitektur&lt;br /&gt;h. peta&lt;br /&gt;i. seni batik&lt;br /&gt;j. fotografi&lt;br /&gt;k. sinematografi&lt;br /&gt;l. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan kary alain dari hasil pengalihwujudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hak Cipta dan Koleksi Perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU No 43 tahun 2007 koleksi perpustakaan adalah “semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah dan dilayankan”. International Encyclopedia of Information and Library Science (2003:371) secara singkat mendefinisikan koleksi pepustakaan sebagai koleksi bahan-bahan yang ditata dengan cara tertentu untuk dimanfaatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi fisik media, koleksi perpustakaan pada umumnya dibagi menjadi dua kategori yaitu bahan tercetak dan noncetak. Bahan tercetak meliputi buku, majalah/jurnal, koran, tesis disertasi dan bahan-bahan referensi yang meliputi kamus, ensiklopedi, sumber biografi, sumber geografi, sumber bilbiografi, majalah indeks dan abstrak, dan buku tahunan. Sedangkan bahan noncetak meliputi online database, CD ROM, bentuk mikro (microform) dan sebagainya. Karya-karya tersebut umumnya disebut sebagai karya tulis (Bintang, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang dikoleksi oleh perpustakaan merupakan karya yang dilindungi oleh hukum positif Indonesia khususnya hukum Hak Cipta dan konvensi internasional mengenai Hak Cipta. Artinya karya atau ciptaan yang diciptakan oleh warga negara asing peserta konvensi akan mendapatkan perlindungan hukum yang sama dengan perlindungan yang diberikan oleh pencipta warga negara Indonesia. Pada prinsipnya kehadiran hukum Hak Cipta di negara manapun dimaksudkan untuk mencegah  pihak lain di luar pencipta maupun pemegang Hak Cipta mengambil keuntungan karena kreativitas pencipta. (Bainbridge, 2002). Disamping itu, perlindungan juga dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat agar mau berkarya nyata dalam bidang apa saja, baik karya tulis, seni, sastra maupun dalam inovasi teknologi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pembatasan dan Pengecualian Hak Cipta di Perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Cipta berbeda bila dibandingkan dengan undang-undang lain dalam hak kekayaan intelektual. Hak Cipta mengenal adanya pembatasan dan pengecualian sebagaimana tertuang dalam pasal 14-18. Terkait dengan  perpustakaan, pasal 15 menyatakan: dengan syarat bahwa sumbernya disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta: Selanjutnya dalam butir e disebutkan “Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang non komersial, semata-mata untuk keperluan aktivitasnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir ini bermakna bahwa dengan syarat sumbernya disebutkan atau dicantumkan tidak dianggap sebagai pelanggaran terhadap Hak Cipta termasuk perbanyakan yang dilakukan oleh perpustakaan, yang semata-mata untuk keperluan aktivitasnya. Penjelasan atas UUHC No 19 tahun 2002 tidak mengurai lagi apa yang dimaksud dengan “semata-mata untuk keperluan aktivitasnya”. Apakah perbanyakan sebesar sepuluh persen, dua puluh persen, lima puluh persen, atau bahkan keseluruhan dari suatu bahan perpustakaan tidak melanggar Hak Cipta asalkan dilakukan oleh institusi perpustakaan?&lt;br /&gt;IFLA Committee on Copyright and Other Legal Matter  (2008) mengeluarkan  kebijakan tentang pembatasan dan pengecualian terhadap Hak Cipta guna memenuhi misinya untuk melayani publik. Pembatasan dan pengecualian tersebut diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pendidikan (education)&lt;br /&gt;Perbanyakan boleh dilakukan oleh perpustakaan dan lembaga pendidikan untuk keperluan pengajaran di kelas ataupun untuk pendidikan jarak jauh asalkan tidak mengurangi hak-hak yang dimiliki oleh pencipta atau pemegang Hak Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Keperluan penelitian pribadi (research or private purposes)&lt;br /&gt;Menyalin  karya yang ada Hak Cipta dibolehkan karena keperluan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Karya anak yatim (orphan works)&lt;br /&gt;Sebuah pengecualian diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan karya anak-anak yatim yang tidak diketahui siapa pemiliknya dan dimana pemiliknya berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Keperluan pinjam antarperpustakaan (interlibrary document supply)&lt;br /&gt;Perpustakaan dibolehkan untuk berbagi sumber dengan perpustakaan lainnya sebab tidak mungkin sebuah perpustakaan mampu mengoleksi seluruh subyek yang dibutuhkan oleh pemustakanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Ketentuan untuk orang cacat (provision for person with disabilities)&lt;br /&gt;Sebuah perpustakaan seharusnya dibolehkan untuk mengubah bahan  perpustakaan dalam bentuk atau format lain untuk kepentingan orang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Tindakan perlindungan teknologi yang menjaga penggunaan secara sah (TPMs/Technological protection measures that prevent lawful uses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Kontrak versus pengecualian perundangan (Contracts v statutory exceptions) &lt;br /&gt;Kontrak seharusnya tidak diperbolehkan untuk menghilangkan pengecualian dan pembatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Jangka waktu perlindungan Hak Cipta (copyright term).&lt;br /&gt;Masa berlaku Hak Cipta adalah 50 tahun setelah kematian penciptanya sesuai dengan Konvensi Berne, dan tidak bisa ditambah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IFLA nampaknya belum memberikan pedoman menyeluruh terhadap pembatasan dan pengecualian Hak Cipta yang ada di perpustakaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bielefied dan Cheeseman (1993) sebagaimana dikutip Krihanta (2002: 42-43) membagi pembatasan dan pengecualian Hak Cipta di perpustakaan dalam tiga hal, yaitu first sale doctrine, fair use, dan library privilege.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) First Sale Doctrine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada doktrin di perpustakaan bahwa bahan-bahan yang sudah dibeli oleh perpustakaan, maka bahan-bahan tersebut boleh dipinjamkan kepada pemustaka. Bahan-bahan perpustakaan yang boleh dipinjamkan meliputi bahan tercetak meliputi buku, majalah, pamplet, dan sebagainya. Bahan noncetak meliputi bahan rekaman, perangkat lunak komputer. Tentu untuk bahan noncetak perpustakaan harus membuat aturan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Fair Use &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fair Use merupakan doktrin pada hukum Hak Cipta Amerika Serikat yang membolehkan penggunaan bahan-bahan yang ada hak ciptanya secara terbatas tanpa harus mendapatkan ijin dari pemilik hak cipta. Penentuan fair use didasarkan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tujuan dan karakter penggunaan, apakah untuk tujuan komersial atau pendidikan yang nonprofit.&lt;br /&gt; Jenis materi yang memiliki Hak Cipta.&lt;br /&gt; Jumlah dan porsi substansial yang digunakan dari materi yang memiliki Hak Cipta. Penggunaan bukan masalah kuantitatif, tapi jika satu kalimat dari suatu karya besar dimana karya tersebut merupakan esensinya, maka penggandaanya tidak dianggap sebagai fair use.&lt;br /&gt;Akibat dari penggandaan terhadap pemasaran potensial atau nilai suatu karya. Akibat penggandaan harus di lihat apakah mengganggu pemasaran potensial atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Library privilage&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengecualian yang dimiliki oleh perpustakaan adalah reproduksi untuk archival reproduction, tujuan deposit, mengganti yang rusak, dan juga untuk tujuan interlibrary loan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan fair use tentang perbanyakan dengan memfotokopi lebih tampak tegas dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Martin (1991) menjelaskan bahwa di Amerika serikat terdapat pedoman mengenai perbanyakan karya tulis yang dibenarkan di lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan penafsiran dari Hak Cipta tahun 1976 menyangkut fotokopi. Berdasar pedoman ini bahwa pengajar dibolehkan melakukan single copy dari satu bab dari sebuah buku, sebuah artikel dari suatu jurnal, sebuah cerita pendek, sebuah diagram, grafik, atau chart dari karya tulis yang memiliki Hak Cipta.  Penggandaan dibolehkan lebih dari satu eksemplar bila memenuhi syarat (1) brevity. Misal seseorang dibolehkan memfotokopi tidak lebih dari 1000 kata dari suatu artikel atau karya tulis yang terdiri atas 2500 kata. (2) spontaniety,  kebutuhan mendesak yang tidak direncanakan sebelumnya (3) cummulative effect, fotokopi hanya dibolehkan untuk satu pelajaran saja di sekolahan. Di luar itu, memerlukan izin kepada pencipta atau pemegang Hak Ciptanya (Bintang, 1998: 77-78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus pembatasan Hak Cipta di Inggris,  Norman (1999: 16-17) menyatakan bahwa layanan fotokopi ini dibolehkan dengan kondisi sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemesan/pemustaka menandatangani sebuah formulir yang menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah fotokopi terhadap bahan yang sama belum pernah diberikan oleh pustakawan&lt;br /&gt;Bahan yang difotokopi hanya untuk keperluan riset atau hanya untuk studi pribadi.&lt;br /&gt;Peminta/pemohon fotokopi tidak menyadari bahwa ada pemohon lain yang ternyata memohon untuk bahan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pustakawan tidak boleh menerima permintaan bahan fotokopi terhadap bahan yang secara substansional sama pada saat yang bersamaan ( istilah ini tidak didefinisikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak lebih dari satu artikel untuk  satu jurnal dalam seklai terbit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pustakawan harus menarik bayaran untuk bahan fotokopi untuk biaya reproduksi, serta untuk pembiayaan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dilema penegakan hukum Hak Cipta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip hukum Hak Cipta, atau konvensi-konvensi internasional terkait dengan hak kekayaan intelektual selalu bermotifkan ekonomi. Tidak mengherankan bila pengusung konvensi internasional adalah negara-negara maju yang menghasilkan komoditas yang memiliki Hak Cipta seperti perangkat lunak komputer, film, inovasi teknologi dan sebagainya. Untuk itulah negara-negara maju seringkali menekan negara-negara berkembang agar memberlakukan hukum Hak Cipta di negaranya guna melindungi komoditas ekspornya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini sangat berbeda dengan negara berkembang seperti Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal yang sering mengesampingkan Hak Cipta. Bagi mereka, bisa menghasilkan suatu ciptaan yang berguna untuk masyarakat saja sudah lebih dari cukup. Dalam suatu penelitian di daerah Boyolali dan Surakarta yang dilakukan oleh Absori (Riswandi dan Syamsudin, 2004: 202) ditemukan bahwa kebanyakan pengrajin tembaga di sana tidak mempermasalahkan bila corak dan model tembaga  mereka ditiru oleh pihak lain. Mereka juga tidak menuntut para penirunya ke lembaga pengadilan. Walau mereka sadar sepenuhnya peniruan terhadap karya mereka akan merugikan secara ekonomis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat adat di Indonesia juga tidak mengenal hukum Hak Cipta. Tidak berlebihan bila dikatakan hukum Hak Cipta ini tidak mengakar dalam  kebudayaan Indonesia (Syamsudin, 2001). Keadaan inilah yang mendasari adanya dilema  dalam penegakan hukum Hak Cipta di Indonesia, walaupun Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani persetujuan insternasional mengenai Hak Cipta seperti TRIPs  (Trade Related  Aspects of Intellectual Property Rights) umpamanya. Perjanjian TRIPs sangat mengikat pemerintah Indonesia untuk melindungi Hak Cipta dari mana saja asal penciptanya, namun dalam implemetasinya masyarakat belum bisa menghormati Hak Cipta karena kebiasaan yang berkembang di masyarakat masih komunal.&lt;br /&gt;Salah satu refleksi masyarakat yang tidak begitu peduli dengan Hak Cipta adalah kecenderungan masyarakat yang sering membeli barang tiruan, bajakan atau barang-barang yang tidak orisinil. Masyarakat sebagai konsumen tidak peduli apakah barang yang mereka beli itu termasuk barang palsu, bajakan, ada Hak Ciptanya atau tidak, yang terpenting bagi mereka adalah bisa mendapatkan barang-barang dengan harga terjangkau. Tak terkecuali buku, perangkat lunak maupun bahan-bahan perpustakaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping masyarakat indonesia yang bersifat komunal, ternyata bahan-bahan yang memiliki Hak Cipta punya karakter khusus, artinya bahan-bahan tersebut bila digandakan/diperbanyak tidak berkurang apalagi hilang. Buku-buku di perpustakaan yang digandakan dengan memfotokopi masih utuh fisiknya sehingga tidak ada unsur pencurian fisik. Demikian juga perangkat lunak yang dikopi juga tidak ada yang hilang dari perangkat lunak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, barangkali yang mendasari perbanyakan terhadap bahan yang memiliki Hak Cipta adalah karena persoalan ekonomi. Tidak bisa dipungkiri bahwa penegakan Hak Cipta perlu ongkos yang mahal. Sebagai ilustrasi, masyarakat yang membeli DVD asli perlu mengeluarkan sejumlah uang tertentu. Sementara bila membeli barang bajakan/palsu hanya membutuhkan kira 1/6 (seperenam) dari harga DVD asli. Artinya secara matematis, harga DVD asli sebanding dengan enam DVD bajakan. Pada perangkat lunakpun demikian. Harga perangkat lunak yang asli jauh lebih mahal dibanding dengan harga perangkat lunak bajakan padahal kualitas bahan asli dengan bajakan tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Alternatif Solusi (sebuah usulan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah, Indonesia sudah memberlakukan hukum Hak Cipta jauh sebelum merdeka dari jajahan Belanda, yang saat itu benama Auteurswet 1912. (Auteurswet 1912 Stb. 1912 nomor 600). Walaupun secara legal formal ada hukum Hak Cipta yang berlaku di Indonesia (saat itu Hindia Belanda) namun penegakan Hak Cipta belum berlaku efektif.  Menurut catatan Rosidi, penerbitan milik pemerintah, Balai Pustaka pernah menerbitkan buku dengan judul Si Bachil yang diumumkan atas nama Noer St. Iskandar. Ternyata karya tersebut ciptaan Moliere yang berjudul L’Avare.  Noer St. Iskandar adalah anggota sidang redaksi Balai Pustaka yang pimpinannya adalah orang Belanda, yang seharusnya mengerti tentang Hak Cipta. Tetapi pimpinan Balai Pustaka membiarkan buku beredar dengan pengarang Noer St. Iskandar (Hozumi, 2006: xv-xvi). Barangkali Balai Pustaka tidak mempermasalahkan siapa sebenanya pemilik Hak Cipta karya tersebut, sebab yang terpenting dari suatu penerbitan adalah karya bisa tersebar luas sehingga bisa  dibaca oleh masyarakat.  Namun, peristiwa ini tetap saja menandakan bahwa penegakan hukum Hak Cipta belum berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sekarang ini, perangkat hukum mengenai Hak Cipta sudah ada namun pada tataran pelakasanaannya seringkali dikesampingkan. Bisa jadi pemustaka di Indonesia mencerminkan warga masyarakat pada umumnya yang kurang memperhatikan mengenai Hak Cipta. Kekurangtahuan mereka bisa disebabkan mereka belum pernah tahu tentang hukum Hak Cipta karena tidak ada pihak yang mensosialisasikan hukum Hak Cipta. Namun tidak menutup kemungkinan mereka sudah tahu mengenai Hak Cipta, tapi tidak peduli mengenai Hak Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus perpustakaan perguruan tinggi, menurut pandangan penulis ada dua hal utama yang harus dilakukan untuk menegakkan Hak Cipta  yaitu adanya pedoman yang jelas, dan sosialisasi kepada pengelola dan pemustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1 Pedoman penggandaan/perbanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang Hak Cipta sudah cukup sempurna mengatur Hak Cipta di Indonesia. Namun demikian ada bagian yang masih mengambang misalnya berkaitan dengan pasal pembatasan dan pengecualian Hak Cipta. Dalam pasal 15  butir e menyebut bahwa perbanyakan yang dilakukan lembaga pedidikan seperti perpustakaan (dalam butir  tersebut menyebut perpustakaan umum)  tidak melanggar Hak Cipta asalkan untuk keperluan aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “untuk keperluan aktivitasnya” ini harus ditafsirkan ulang apakah istilah ini bermakna: bahwa perbanyakan, seberapapun jumlah perbanyakannya, asalkan untuk keperluan koleksi perpustakaan maka tidak melanggar Hak Cipta; atau perbanyakan dibolehkan karena untuk mengganti bahan yang fisiknya rusak tapi informasi yang terkandung di dalamnya masih sangat berguna; atau perbanyakan dibolehkan asalkan perbanyakan tersebut tidak melebihi satu bab dari suatu buku; atau perbanyakan dibolehkan asalkan mendapat ijin tertulis dari pemegang Hak Ciptanya; atau ditafsirkan dengan mengacu pada keadaan sosial budaya masyarakat Indonesia pada umumnya karena alasan penyebaran pengetahuan;  atau pasal itu ditafsirkan dengan mengacu pada pedoman yang pernah dibuat oleh negara lain seperti Amerika Serikat maupun Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas pasal ini seharusnya ditafsirkan dalam suatu pedoman tertentu sehingga bisa diberlakukan di perpustakaan perguruan tinggi, maupun perpustakaan umum yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan penulis pihak yang bertanggung jawab terhadap tafsir penggandaan/perbanyakan bahan-bahan di perpustakaan adalah ikatan profesi seperti IPI/Ikatan Pustakawan Indonesia ataupun Perpustakaan Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2 Sosialisasi hukum Hak Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tafsir terhadap pasal ini sudah selesai, pedoman penggandaan atau perbanyakan Hak Cipta ini harus disosialisasikan kepada mahasiswa. Implementasinya bisa dibuat kursus untuk periode tertentu maupun disosialisasikan  setiap tahunnya bersamaan dengan pelaksanaan orientasi perpustakaan atau pada saat pelatihan literasi informasi (information literacy). Orientasi perpustakan punya nilai strategis untuk mengenalkan seluk-beluk perpustakaan. Dan yang paling penting dari orientasi tersebut adalah mahasiswa mampu mengenali kebutuhan informasinya, bagaimana menyimpanya, memanfaatkannya dengan tidak melupakan etika dalam mengutip, serta tidak ketinggalan mengetahui Hak Cipta suatu karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan pemahaman yang memadai terhadap para pemustaka, maka penegelola perpustakaan, meliputi kepala, petugas layanan informasi maupun petugas fotokopi, harus jauh lebih memahami hukum Hak Cipta ini. Tanpa ada pemahaman yang memadai dari pengelola terhadap Hak Cipta, rasanya sulit untuk mengharapakan pemustaka memahami Hak Cipta secara baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan pedoman Hak Cipta menjadi penting untuk disusun karena selama ini belum ada peraturan yang bisa digunakan sebagai pedoman dalam penggandaan atau perbanyakan bahan-bahan yang daa di perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini koleksi perpustakaan sudah sangat beragam baik dalam bentuk cetak maupun noncetak. Seluruh bahan-bahan memiliki Hak Cipta yang harus  dilindungi oleh hukum Haka Cipta. Ada asas national treatement dalam perlindungan Hak Cipta, yaitu bahwa perlindungan Hak Cipta tidak hanya untuk warga negara Indonesia saja, tapi pemerintah juga harus melindungi Hak Cipta yang berasal dari luar Indonesia sebagaimana pemerintah Indonesia melindungi Hak Cipta yang dimiliki warga negaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pemerintah Indonesia gagal dalam melindungi Hak Cipta warga negara asing yang ada di Indonesia, kemungkinan pemerintah Indonesia mendapatkan pembalasan dalam bidang ekonomi, yang akan sangat merugikan terhadp kepentingan nasional. Untuk itulah pemahaman yang baik terhadap Hak Cipta menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badertscher, Eric., Kathy Reese. (2008, June)  Taking the confusion out of copyright in an internet age. Information Outlook. Washington: Jun 2008. Vol.12, Iss. 6; pg. 62, 5 pgs. (Proquest) database&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang, Sanusi. (1998) Hukum Hak Cipta: Dilengkapi dengan susunan dalamsatu naskah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UUHC (1982, 1987, dan 1997). Bandung: Citra Aditya Bakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damian, Eddy. (2005) Hukum Hak Cipta. Bandung: Alumni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmawan, Rahman., Zulfikar Zen. (2006) Etika kepustakawanan: Suatu pendekatan terhadap koodetik pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dictionary of information and library management. (2006) London: A &amp; Black Publishers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual. (2004) Hak Kekayaan Inteketual: Buku panduan. Jakarta: Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djumhana, Muhammad., Djubaedillah, R. (2003). Hak kekayaan intelektual: Sejarah, teori dan prakteknya di Indonesia) Edisi revisi. Bandung: Citra Aditya Bakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hozumi, Tomatsu. (2006) Asian copyright handbook (Buku panduan hak cipta), Jakarta: Asia Pasific Cultural Center for Unesco &amp; IKAPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IFLA Committee on Copyright and other Legal Matters (CLM). (2008) Copyright &lt;br /&gt;Limitations and Exceptions for Libraries dalam Standing Committee on Copyright and Related Rights (SCCR): 17th Session, Geneva, 3-7 November 2008. (10 Pebruari 2009)&lt;br /&gt;http://www.ifla.org/III/clm/p1/limitations-exceptions-200811.htm &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johnson, Peggy. (2004) Fundamentals of collection development &amp; management. Chicago: American Library Asociation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just Alvin. (2009) Metro TV (26 Pebruari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krihanta. (2002) Implementasi Hak Cipta khsusnya hak menggandakan dalam rangka akses informasi di Perpustakaan Nasinal RI dan PDII-LIPI (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI). Depok: Tesis Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norman, Sandy.  (1999) Copyright in further and higher education libraries. London: Library Association Publishing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priapantja, Cita Citrawinda. (2003) Hak kekayaan intelektual: tantangan masa depan. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purba, Achmad Zen Umar. (2005) Hak kekayaan intelektual pasca TRIPs. Bandung: Alumni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purba, Afrillyana., Gazalba Saleh., Andirana Krisnawati. (2005) TRIPs-WTO dan hukum HKI Indonesia: Kajian perlindungan Hak Cipta Batik tradisional Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riswandi, Budi Agus,. M. Syamsuddin. (2004). Hak kekayaan intelektual dan budaya hukum. Jakarta: RajaGrafindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidin, OK. (2007) Aspek hukum kekayaan intelektual: intellectual property rights. Jakarta: RajaGrafindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsudin, M. (2001) Nilai-nilai karya cipta dan problematika perlindungan hukumnya.( (18 Pebruari 2009). http://www.iprcentre.org/artikel/Nilai-Nilai%20Karya%20Cipta%20dan%20Problematika%Perlindungan%20Hukumnya.pdf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia. (2003) UU HAKI: Hak Atas Kekayaan Intelektual  No 19/2002.  Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Makalah dimuat Visi Pustaka, Vol 11 No. 1 April 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-5296344366207448983?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/5296344366207448983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=5296344366207448983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5296344366207448983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5296344366207448983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2009/09/problematika-penegakan-hak-cipta-di.html' title='Problematika Penegakan Hak Cipta Di Perpustakaan Perguruan Tinggi (Perspektif Pustakawan)*'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-5174265546490918892</id><published>2009-01-16T02:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T02:06:24.095-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Teman, saudara dan HAM.</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menurut temen-temen, bagaimana hubungan kita di sini saat sama-sama kuliah? Berteman baikkah? Apa sih arti temen buat temen-temen?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Barangkali untuk menggambarkan pertemenan, berikut adalah contoh ringannya. Seorang kawan nyang berada nun jauh di Semarang dan di Pekanbaru belum menyelesaikan salah satu tugas pada mata kuliah A (sebut saja begitu) lalu dengan enteng “memerintahkan” seorang kawan yang masih ada di Depok “tolong donk bikinkan deskripsi makalah dan skripsiku”. Dengan sukarela (baca ikhlas) temen di Depok langsung membantu membuatkan deskripsi sekalian &lt;i&gt;mengup load&lt;/i&gt; di database.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengacu kasus di atas, apakah temen-temen yang ada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, di Pekanbaru dan di Depok bersaudara karena pertalian darah? Atau mereka bersaudara karena pertalian pertemanan? Saya yakin temen-temen pasti akan menjawab bahwa mereka dan kita semua ini terikat oleh tali pertemanan. Energi apakah yang menggerakkkan seorang kawan di Depok sampe-sampe dia mau dengan sepenuh hati membantu untuk mbikin tugas?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sesuatu yang misterius dalam kehidupan ini, dimana seringkali kita tidak akur dengan saudara yang punya pertalian darah, sementara kita punya tali yang kuat dengan kawan yang nota bene lain bapak, lain ibu lain pula “darahnya”. Betapa kita bisa share/berbagi nasib dengan teman namun berat hati untuk bisa berbagi dengan saudara. Bahkan tak jarang kita rela bertengkar dengan saudara sedarah karena perkara yang sepele.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hal ini pulalah yang terjadi dan kita saksikan perang antara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan salah satu faksi di Palestina (Hamas). Ini perang saudara dalam pandangan saya. Bukankah bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan Palestina berasal dari Bapak yang sama?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sejarah menjelaskan bahwa Ibrahim punya dua istri yaitu Sarah dan Hajar. Dari Sarah, Nabi Ibrahim punya Anak bernama Nabi Ishak dan dari Hajar Nabi Ibrahim punya anak bernama Nabi Ismail. Nabi Ishak punya keturunan bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sementara Nabi Ismail punya keturunan bangsa Palestina/Arab. Bila dilihat dari silsilah keluarga, mereka itu sebenarnya adalah saudara sepupu. Hubungan persaudaraan yang dekat walau sudah tidak masuk kategori muhrim.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah mengapa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang juga saudara tua Palestina tega membunuh saudaranya yang tak berdosa dan tak tahu soal politik dan tetek bengek soal diplomasi? &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; berdalih bahwa mereka memerangi Hamas. Namun kenyataan berkata lain, bahwa justru yang banyak tewas dalam pertempuran bukanlah pejuang Hamas atau tentara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tapi malah justru anak-anak dan kaum ibu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hampir semua negara di belahan dunia mengecam serangan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ke Palestina. Tapi mengapa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang begitu tinggi intelektualnya menjadi buta dan tuli soal kecaman dan soal hak azasi manusia. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dimana suara lembaga HAM internasional yang sering bersuara vokal soal hak azasi manusia? Dimana suara pahlawan-pahlawan HAM di Indonesia mengenai pembantaian di bumi Palestina? &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Apa karena mereka bersaudara terus kita bilang, “biar saja mereka menyelesaikan masalahnya wong mereka bersaudara?” tidak bisa seperti itu kan?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kita semua tak mungkin ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; karena itu bukan cara yang paling bagus untuk berempati. Kita hanya bisa menyumbangkan materi, atau setidaknya memohon sama yang menciptakan mereka agar mereka berdamai.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tuhan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya yakin warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; itu baik-baik. Yang busuk hatinya dan jelek perangainya adalah pemimpin mereka, para politisi mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hukum mereka saja. Cukup mereka, bukan warga yang tak berdosa, baik warga Palestina maupun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Depok, 15-01-09&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-5174265546490918892?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/5174265546490918892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=5174265546490918892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5174265546490918892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/5174265546490918892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2009/01/teman-saudara-dan-ham.html' title='Teman, saudara dan HAM.'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-7359043585037249567</id><published>2008-12-18T19:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T19:15:10.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Tikuspun tahu diri</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;oleh bahrul Ulumi&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tinggal di kontrakan yang sempit adalah bukan cita-cita, tapi lebih merupaksn proses yang harus dilewati oleh banyak keluarga, tak terkecuali keluarga kami. Sebenarnya ada saja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segi keindahan tinggal di rumah kecil, diantaranya mudah bersih-bersih. Sehari saja bisa ngepel sampai 3 kali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamar mandi juga dekat, sehingga memudahkan dalam urusan “buang-membuang”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kontrakan ini menjadi kecil karena dibandingkan dengan dengan rumah yang selama ini kami tinggali. Kami terbiasa tinggal di rumah kampung ukuran besar. Kalau harus menyebut ukuran, maka 8x21m adalah tepatnya. Bisa dibayangkan kalau mama anak-anak berada di dapur sementara anak-anak nangis di halaman rumah. Pastilah mereka teriak minta tolong atau ngomong keras bak olah vokal saja. Tanpa disadari kebiasaan ini mempolakan suara kami. Seringkali kami pantang bersuara pelan. Kebiasaan ini ternyata masih lekat di rumah kecil sekarang. Kadang kami malu sendiri sebab suara kami terdengar keras oleh tetangga sebelah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Nah di rumah kecil ini pula ternyata kami bertetangga tidak hanya dengan sesama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;makhluk tuhan yang bernama manusia, tapi juga dengan hewan-hewan yaitu tikus. Bagaimana pendapat teman-teman tentang tikus? Pasti teman-teman menjawab tikus itu menyebalkan. Mereka merusak segala rupa barang termasuk kawat selokan. Apalagi makanan-makanan yang sedang kita simpan. Kami sepaham dengan teman-teman bahwa tikus itu kerjaanya ya merusak. Tak jarang bahan makanan yang belum sempat diamankan sudah dihabiskan tikus and gank. Kesel juga rasanya bila setiap hari begini, mosok selalu berlomba cepat-cepatan ambil bahan makanan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mencoba mencari cara agar tikus tidak merusak lagi bahan-bahan makanan. Barangkali cara yang paling cap cleng, manjur adalah dengan membuat perangkap agar tikus terperangkap ketika mencuri makanan dan pasti bisa dihajar habis-habisan. Tapi cara ini tidak kami lakukan karena tidak tega menghajar tikus sampai mati. Bila mati, dimana harus menguburnya, sedangkan di sini tak ada tanah sejengkalpun untuk mengubur tikus. Lalu, muncul ide, bagaimana kalau diracun saja. Cara ini belum kami coba sebab kami kawatir bila diracun, tikus belum tentu mati langsung. Bisa jadi ketika para tikus &lt;i&gt;window shopping&lt;/i&gt; di atap rumah, tiba-tiba mereka rebah dan mati. Kami sudah kehilangan ide atau pastinya takut bila mereka mati di atap, susah mengambilnya dan susah membuang.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya kami mengambil cara yang saling menguntungkan dengan menganggap mereka sebagai sama-sama makhluk tuhan. Kami berhak hidup tentram, mereka juga berhak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hidup enak tanpa mengusik kemakmuran kami. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Terus terang kami bilang sama tikus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ Hai tikus! Kau kami beri makan, tapi jangan mengusik makanan kami”. Tikus tidak menjawab dengan kata-kata karena mereka terbatas vokal konsonannya. Namun kamiyakin dia diam dan tahu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah itu kami rutin menyediakan makan buat tikus dalam kotak plastik berisi sisa-sisa makanan. Setiap hari kami lakukan itu dan ternyata tikuspun tahu diri. Mereka tidak mngusik kami lagi. Wah ternyata hewan tikus, biar mereka itu kelompok makhluk jorok, tapi ternyata mampu diajak berkomunikasi dan tahu diri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga akhirnya tiba saatnya kala ada tetangga baru di samping rumah dan meracuni tikus yang ada. Tikus mati, hebatnya dia mati persis di depan rumah tetangga.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami optimis tikus yang mati adalah yang selama ini membuat “MOU” dengan kami terbukti makanan yang kami sediakan selalu utuh. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-7359043585037249567?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/7359043585037249567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=7359043585037249567' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/7359043585037249567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/7359043585037249567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/12/tikuspun-tahu-diri.html' title='Tikuspun tahu diri'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-1709501367750445088</id><published>2008-12-14T20:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T19:42:12.437-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>PERPUSTAKAAN HIBRIDA: Alternatif solusi akses informasi di perpustakaan perguruan tinggi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:13;" lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oleh: Bahrul Ulumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;LATAR BELAKANG&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keterbatasan akses di perpustakaan perguruan tinggi adalah masalah klasik yang belum terselesaikan dengan baik. Masalah ini muncul mengingat pemakai perpustakaan banyak, namun ketersediaan bahan perpustakaan terbatas. Sebagai ilustrasi, seorang dosen memberi tugas pada mahasiswa untuk membuat makalah dengan tema ”Pemikiran salah satu tokoh kritis dalam filsafat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tugas ini harus dikumpulkan satu minggu kemudian. Yang terbayang dalam benak mahasiswa adalah dia harus cepat-cepat untuk meminjam buku yang ada di perpustakaan fakultas maupun di perpustakan pusat. Langkah yang diambil adalah bergegas cepat-cepat melihat katalog (OPAC) untuk browsing apakah buku yang dibutuhkan tersedia atau tidak. Hati mahasiswa lega ternyata buku filsafat yang dibutuhkan ada sehingga dia harus cepat-cepat pergi untuk mengambil buku tersebut. Namun sayang, buku yang jelas-jelas dia butuhkan ternyata sudah dipinjam rekannya yang akan dikembalikan setidaknya 2 minggu kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meneruskan pencariannya ke perpustakaan pusat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkahnya sama dengan yang ditempuh dengan di perpustakaan fakultas, yaitu &lt;i&gt;brwosing&lt;/i&gt; OPAC dulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanpa membuang waktu, dia menuju koleksi filsafat. Dia sudah merasa tenang melihat deretan buku-buku filsafat. Namun untuk kedua kalinya dia harus kecewa karena hanya ada sebuah buku yang memuat pemikiran tokoh krtitis. Itu saja teman sekelasnya sudah mengantri mau pinjam. Tentu kebingungannya tidak berhenti di situ saja. Tugas-tugas lain ternyata juga sudah menunggu, di luar mata kuliah filsafat, yaitu dia harus menyelesaikan sebuah paper untuk tugas mata kuliah Metodologi Penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mengacu dari kasus di atas, ternyata ketersediaan buku atau koleksi yang ada`di perpustakaan mengenai topik tertentu sangat terbatas. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keterbatasan inilah menyebabkan akses untuk mendapatkan informasi tertentu jadi terhambat. Maka harus ada upaya lain untuk membuat akses informasi tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;PERPUSTAKAAN KONVENSIONAL, DIGITAL DAN HIBRIDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Perpustakaan Konvensional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika membincangkan perpustakaan konvensional (perpustakaan berbahan kertas dan tinta), tentu kita tidak pernah bisa melepaskan unsur tempat karena eksistensi perpustakan konvensional ditandai dengan tempat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam suatu batasan perpustakaan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah ruangan, ataupun bagian sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual (Sulistyo-Basuki, 1991: 3). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari batasan ini saja sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa aspek tempat menjadi utama karena sebuah perpustakan didefiniskan sebagai ruangan atau gedung yang koleksinya terdiri atas bahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tercetak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dilihat dari tahun dimana buku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini diterbitkan masih sangat relevan untuk menonjolkan aspek tempat sebagai batasan utama sebuah perpustakaan., yakni pada tahun 1990an. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka tak jarang ditemui gedung perpustakaan sangat besar karena perancang dan pengelolanya berpikir bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;koleksi buku akan bertambah sekian persen dari koleksi yang sudah ada. Asumsi ini tidak salah, sebab bisa jadi ke depan buku akan semakin banyak jumlahnya, dan pasti akan membutuhkan perluasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kendati demikian, tidak ada salahnya pengelola dan perancang gedung perpustakaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus memikirkam kemungkinan lain bahwa perkembangan teknologi seperti sekarang jauh lebih maju dari yang dipridiksi sebelumnya. Dahulu, orang tidak mengira bahwa media penyimpan data yang secara fisik sebesar setengah dari buplen mampu menyimpan data yang begitu besar. Dan media penyimpan itu sudah menjadi kebutuhan bagi setiap mahasiswa dewasa ini. Tak jarang mereka punya banyak informasi yang begitu beragam mengenai banyak subyek yang hanya disimpan dalam sekeping flasdisk kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dahulu pula orang terheran-heran dan kagum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat koleksi perpustakan yang rak-raknya dipenuhi oleh &lt;i&gt;Encyclopedia Americana &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Britanica.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga koleksi ini pula sering dijadikan ukuran hebat tidaknya sebuah perpustakaan berdasar pada punya tidaknya &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Encyclopedia Americana&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Britanica. &lt;/i&gt;Dalam konteks dahulu, tentu tidak berlebihan karena edisi cetak ensiklopedia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini memang mengagumkan dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu &lt;i&gt;meng up date&lt;/i&gt; data yang ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dalamnya. Bahkan untuk karya ensiklopedi tercetak, maka ensiklopedia di atas selalu berada di depan dibanding ensiklopedi sejenis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun ketika media penyimpanan tidak mengandalkan cetakan satu-satunya cara menyimpan informasi, maka kedua ensiklopedia di atas terasa kurang memberi informasi yang sempurna karena hanya menyediakan narasi dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gambar mati saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebagai perbandingan, berikut ini bisa dilihat keunggulan ensiklopedia berbahan cetakan dan ensiklopedi noncetak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ukuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cetak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Noncetak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Media &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kertas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keping CD, Hard   Disk, digital&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext" style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Volume&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color" style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Minim&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Harga&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mahal&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjankau&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tampilan   &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Visual&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Audio Visual &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Isi (content)&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sangat besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Up date&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Cetak ulang&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Up date cepat&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akses   Informasi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Lewat indeks, Terbatas oleh   tempat dan waktu, serta tidak bisa dipakai secara bersamaan.&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mudah, tidak   terkendala tempat dan waktu sebab tersedia dalam online, dan dapat diakses   banyak pemakai pada saat yang bersamaan Langsung&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;B. Perpustakaan Digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep perpustakaan digital, perpustakan elektronik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ataupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perpustakaan hibrida sering dianggap sama atau sinonim. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Artinya bila menyebut satu istilah di atas maka istilah itu megacu pada perpustakaan yang sama. Namun sekarang, konsep perpustakaan digital lebih sering didengar dari istilah lainnya, karena kebanyakan orang berharap ada ada kemajuan besar dalam dunia perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari sinilah para ahli mulai membatasi istilah perpustakaan digital. Batasan yang paling sederhana adalah definisi Lesk sebagaimana dikemukakan Pendit dalam Perpustakaan digital: perspektif perpustakaan perguruan tinggi, yaitu &lt;i style=""&gt;”Organized colections of digital information” &lt;/i&gt;(2007:29). Batasan lain yang lebih luas disampaikan Arms seperti dikemukakan Deegan (2002:20) yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“A Managed collection of information, with associated services, where the information is stored in digital formats and accessible over network. A crucial part of this definition is that the information is managed.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Federasi perpustakaan di Amerika Serikat juga memberi batasan sebagaimana dikutip oleh Deegan (2002:20) sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by defined community or set of communities”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Batasan terakhir memberi makna yang lebih luas dari dua terdahulu, yaitu bahwa perpustakaan digital menyediakan sumber-sumber digital disamping pegawai dengan tatakerja dan tujuan kerja serta masyarakat yang diharapkan dapat memanfaatkan layanan perpustakaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selanjutnya Tedd dan Large, seperti dikutip Pendit (2007:30), menyebut ada tiga karakter untuk menyebut perpustakaan sebagai perpustakaan digital yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Memakai teknologi yang mengintegrasiakan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dalam sebuah jaringan digital yang tersebar luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun sksternal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya jasa untuk memenuhi kebutuhan informai masyarakat tersebut karenanya peprustakaan digital merupakan integrasi institusi museum, arsip, dan sekolah yang memilih, mengoleksi, mengelola, merawat dan menyedikan informasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara meluas ke berbagai komunitas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Karakter terakhir yang menyebut integrasi berbagai lembaga informasi untuk melayani berbagai masyarakat, merupakan salah satu gambaran paling dicitakan dalam konsep perpustakaan digital. Dari sisi teknologi, maka yang menjadi perhatian utama adalah adanya &lt;i style=""&gt;integrasi&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;keterkaitan&lt;/i&gt; antar berbagai jenis format data dalam jumlah yang sangat besar; disimpan dan disebarluaskan melalui jaringan telematika yang bersifat global. Mukaiyama (1997) mengemukakan setidaknya a&lt;span style="" lang="SV"&gt;da 7 (tujuh ) teknologi yang menjadi perhatian utama dalam mewujudkan perpustakan digital yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Contents processing technology&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, menemukan kembali informasi digital, baik informasi primer maupun sekunder secara efektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Information access technology&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memungkinkan menyediakan akses ke berbagai jenis informasi tanpa batasan waktu dan tempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Human-friendly, intelellgenet interface&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Antarmuka yang memungkinkan peningkatan produktivitas intelektual dalam bentuk fasilitas yang juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memungkinkan berbagai pengguna melakukan berbagai carian informasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Interoperability&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: 0.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memungkinkan berbagi teknologi yang berbeda-beda saling bertemu dalam lingkungan yang heterogen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Scalability&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memperluas sebaran informasi dan mmapu meningkatkan jumlah pengguna serta memungkinkan aksesnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Open system development&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Teknologi yang memungkinkan penggunaan standard international dan standar de facto tetapi tidak mengorbankan kinerja keseluruihan. Standardisasi tidak boleh menyebabkan sistem terlalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Highly system development.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Luasnya cakupan informasi dan cepatnya pertumbuhan perpustakaan digital dengan perkembangan masyarakat, maka diperlukan teknologi yang dengan cepat bisa disesuaikan dengan perkembangan sistem sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan persyaratan yang begitu kompleks untuk mewujudkan suatu perpustakaan digital, maka membangun perpustakaan digital tidak mungkin dikerjakan oleh perpustakaan perguruan tinggi saja. Proyek besar memerlukan kerja sama yang erat antara banyak pihak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Upaya ini bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Amerika Serikat dalam upaya mewujudkan perpustakaan digital dengan perjalanan proses yang lumayan panjang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengacu kasus yang terjadi di Amerika, jelas bahwa upaya digitalisasi koleksi (membuat perpustakaan digital) bukan persoalan yang mudah. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Perlu dana yang sangat besar disamping didukung kebijakan pemerintah yang kuat. Bisa dibayangkan kalau seandainya semua koleksi yang ada di perpustakaan didigitalkan. Berapa banyak tenaga, dana dan waktu untuk merealisasikan program tersebut. Dan itulah ambisi Amerika sebagai negara terdepan dalam mengembangkan teknologi informasi. Hebatnya negara maju yang mengandalkan informasi sebagai salah satu andalan komoditas ekspor, mempunyai kebijakan yang betul–betul komprehensif. Artinya bahwa pemerintah sepenuh hati berupaya mewujudkan perpustakaan digital. Ada tiga departemen besar dalam pemerintahan menyatu padu dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berupaya merealisasikan cita-cita tersebut. Dalam waktu yang tidak lama, barangkali Amerika Serikatlah yang berhasil mewujudkan perpustakan digital yang diimpikan oleh banyak orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;C. Perpustakaan Hibrida &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebelum banyak ahli membincangkan perpustakaan digital, sesungguhnya mereka sudah mewacanakan perpustakaan hibrida. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Istilah perpustakaan hibrida (&lt;i&gt;Hybrid library&lt;/i&gt;) pertama kali dikemukakan oleh &lt;/span&gt;Chris Rusbridge dalam artikel yang dimuat dalam di D-Lib Magazine pada tahun 1998. Istilah ini &lt;span style="" lang="FI"&gt;digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang koleksinya terdiri atas bahan cetak dan bahan noncetak. Perpustakaan hibrida adalah campuran bahan-bahan cetakan seperti buku, majalah, dan juga bahan-bahan berupa jurnal elektronik, e-book dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perpustakaan hibrida merupakan &lt;i&gt;continuum &lt;/i&gt;antara perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital, dimana informasi yang dikemas dalam media elektronik maupun cetak digunakan secara bersamaan. Tantangan pengelola perpustakaan hibrida adalah mendorong pemakai untuk menemukan informasi dalam berbagai format. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Inggris merupakan negara yang paling aktif melakukan penelitian guna mewujudkan perpustakaan digital. D-lib Magazine edisi Oktober 1998 mencatat, setidaknya ada lima proyek yang Inggris coba untuk mewujudkan impiannya menciptakan perpustakaan hibrida. Yaitu: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;HyLife&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Hybrid Library of the Future&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt; Proyek ini berusaha mendirikan, menguji, mengevaluasi, serta menyebarkan sekitar teori dan praktik perpustakaan hibrida yang terdiri atas layanan lektronik dan cetak. Proyek ini dikembangkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Northumbria&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menfokuskan diri dalam hal nonteknologi untuk memahami bagaimana cara terbaik mengoperasikan perpustakaan hibrida. Salah satu hasilnya adalah Hybrid Library Toolkit, yang berisikan panduan mengenai langkah implementasi bagi perpustakaan-perpustakaan yang ingin mengembangkan jasa elektronik sesuai dengan kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Malibu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(Managing the hybrid Library for the Benefit of Users). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Proyek ini memfokuskan diri pada pengembangan model institusi untuk organisasi dan layanan perpustakaan hibrida. &lt;i&gt;Malibu&lt;/i&gt; didirikan oleh tiga lembaga yaitu King’s College London, University of Oxford, dan University of Southamton, yang mengembangkan perpustakaan hibrida dalam kajian humanities. Proyek ini menarik sebab juga melibatkan pemakai untuk membuat skenario sistem yamg memudahkan dalam melayani pemakainya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malibu&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; memfokuskan pada pengembangan model institutsi untuk suatu organisasi dan manajemen layanan perpustakaan hibrida.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;HeadLine&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Hybrid Electronic Access and Delivery in the Library Networked Environment)&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Proyek ini dikerjakan oleh London School of Economics, T&lt;/span&gt;he London Business School, dan The University of Hertfordshire. Proyek ini bertujuan &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mrerancang dan mengimplementasikan model perpustakaan hibrida dalam dalam lingkungan akademik yang nyata. Pproyek ini bereksperimen dengan lingkungan jasa informasi personal alias &lt;i&gt;Personal Information Environment &lt;/i&gt;dengan mengembangkan portal yang memungkinkan pemakai perpustakaan mengakses informasi elektronik maupun nonelektronik secara terintegrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Builder &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(Birmingham University Integrated Library Development and Electronic Resource)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dikembangkan di University of Birmingham, bertujuan untuk mempelajari dampak perpustakaan hibrida terhadap pemakai di perguruan tingi, mulai dari mahasiswa serta dosen yang mengajar di sana, serta pengelola perpustakaan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Agora&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, membangun sistem manajemen perpustakaan hibrida &lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; a hybrid library management system /HLMS)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:10;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;merupakan konsorsium yang terdiri atas University of East Anglia&lt;/span&gt;, UKOLN, Fretwell-Downing Informatics, dan CERLIM (the Centre for Research in Library and Information Management)&lt;span style=""&gt; dengan konsentarsi pada Hibrid Library Management System. Perhatian utama dalam proyek ini adalah pengembangan sistem informasi berbasis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada konsep search, locate, request, an deliver.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari temuan di atas akhirnya para pustakawan dan para teknolog berkolaborasi mengembangkan suatu konsep perpustakaan hibrida yang tetap mempertahankan koleksi tercetak, dan digital secara terintegrasi tanpa harus menomorduakan macam koleksi tententu. Yang membedakan perpustakaan digital dangan hibrida adalah: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, hibrida masih memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi digitalnya, dimana perpustakaan digital berusaha ingin mengubah semua koleksinya ke dalam bentuk digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, perpustakan hibrida memperluas konsep cakupan jasa informasi sehingga perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;koleksi elektronik dan digital serta penggunaan teknologi komputer tidak dipisahkan dari yang berbasis tercetak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Konsep perpustakaan hibrida sangat jelas yaitu mempertahankan keberadaan perpustakaan tercetak dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alasan bahwa pemakai masih saja memerlukan koleksi tercetak untuk memenuhi keperluan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetap saja buku tercetak tidak tergantikan dengan buku digital. Untuk itulah koleksi tercetak harus tetap dipertahankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DIGITALISASI PERPUSTAKAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Digitalisasi ini dimaksudkan untuk mencoba mengatasi persoalan mahasiswa yang mengalami keterbatasan akses informasi dalam menyelesaikan tugasnya, sebagaimana diurai pada latar belakang. Bila koleksi perpustakaan berformat digital tentu tidak ada persoalan bagi mahasiswa dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Sejumlah berapapun dan dari manapun mahasiswa berasal, kepentingan akses mereka terhadap suatu informasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan mudah diakomodasi oleh koleksi digital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mahasiswapun tidak harus datang ke perpustakaan secara fisik, karena mereka bisa saja membuka dengan fasilitas &lt;i&gt;klik&lt;/i&gt; di depan ruang kuliah dengan menggunakan &lt;i&gt;lap top&lt;/i&gt;nya. Merekapun sangat leluasa dalam mengakses karena perpustakaan digital tidak membatasi waktu akses. Dalam 24 jam perpustakaan digital siap melayani penggunanya tanpa lelah, disamping mereka bisa menghindari penjaga perpustakaan konvenional yang seringkali kurang ramah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A. Implementasi perpustakan digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Digitalisasi bahan perpustakaan bisa berupa buku, naskah kuno, peta, foto lukisan dan sebagainya. Digitalisasi bahan-bahan ini dimaksudkan untuk melestarikan informasi yang ada dalam bahan-bahan tersebut. Digitalisasi bahan tercetak seperti buku, majalah ataupun hasil penelitian bisa dilakukan dengan menindai atau menscan. Demikian halnya bahan lainnya seperti peta dan naskah kuno. Untuk karya seperti patung, digitalisasi dilakukan dengan memotret dulu menggunakan kamera digital sehingga nantinya menjadi bahan digital. Cara ini memungkinkan patung dilihat dari banyak sisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Secara singkat, Suryandari (2007:234-235) menjelaskan proses digitalisasi bahan-bahan perpustakaan sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Scanning &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Yaitu proses menscan atau menindai bahan-bahan tercetak dan mengubahnya menjadi berkas digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Editing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adalah proses mengolah bahan berkas PDF dalam komputer dengan memberikan password, catatan kaki, daftar isi dan sebagainya. Tentu, pemberian password ataupun catatan kaki disesuaikan dengan kebijakan yang berlaku di institusi yang bersangkutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Proses OCR (&lt;i&gt;Optical Character Recognition&lt;/i&gt;) juga dimasukkan dalam kategori editing. Proses OCR adalah proses mengubah gambar menjadi teks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Uploading&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Merupakan proses pengisian metadata serta mengupload berkas dokumen ke dalam perpustakaan digital. Berkas yang diupload ini merupakan berkas PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga lampiran yang telah melalui proses editing. Dengan demikian file tersebut telah dilengkapi dengan password daftar isi, catatan kaki dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Perlindungan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) terhadap Perpustakaan Digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak kekayaan intelektual atau sering disingkat HKI atau akronim HAKI adalah padanan kata Intellectual Property Right, yakni hak yang timbul dari olah pikir manusia untuk menghasilkan suatu karya yang bisa memberi kemanfaatan kepada masyarakat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada hakekatnya HAKI merupakan hak untuk menikmati secara ekonomi dari suatu kreativitas intelektual. Obyek yang diatur dalam HAKI adalah karya-karya yang lahir dari kekayaan intelektual manusia.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Secara garis besar, HAKI itu dibagi dua yaitu: Hak cipta (copyright) dan Hak kekayaan industri (Industrial property right). Namun dalam konteks perpustakaan digital, perlu sedikit uraian mengenai hak cipta sebagi perangkat hukum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agar tidak menyalahi terhadap kaidah hukum positif yang sudah ada. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak cipta ini meliputi bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Buku,      program komputer, pamphlet, perwajahan (lay out) karya tulis yang      diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang      sejenis dengan itu;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alat      peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lagu      atau musik dengan atau tanpa teks;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Drama      atau drama musical, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seni      rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni      kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Arsitektur;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peta;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seni batik&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Fotografi;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sinematografi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai,      database, dan karya lain yang dari hasil pengalihwujudan.(UU No 19/2002      pasal 12).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pasal dalam UU No 19/2002 pasal 12 jelas memasukkan buku sebagai salah satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karya yang harus dilindungi oleh hukum. Oleh karena pengarang/ pencipta berhak untuk:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perbanyakan &lt;i&gt;(right of reproduction&lt;/i&gt;) Hak      perbanyakan adalah kekayaan intelektual yang paling dasar dan substansial.      Perbanyakan berarti perbanyakan dalam bentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kongrit melalui cetakan, fotografi,      suara, rekaman visual, dan sebagainya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Penerbitan adalah salah satu metode yang paling tua. Umumnya hak hak      yang bertalian dengan penerbitan disebut menerbitkan dan hak hak ini      adalah salah satu jenis dari hak perbanyakan. Membuat rekaman visual dan      atau audio pertunjukan atau siaran, sandiwara, ceramah, dan sebagainya,      juga menggunakan hak perbanyakan, bahkan hak ini mencakup berbagai      kegiatan yang sangat luas, termasuk menyalin teks atau ilustrasi dengan      alat scanner atau mesin fotokopi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hak menyebarkan (&lt;i&gt;right of public transmission)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pencipta punya hak untuk menyebarluaskan ciptaannya di depan umum. Karena menyebarluaskan kepada umum berarti menyebarluaskan melalui radio, televisi dan sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak      mencantumkan nama pencipta. Bila sebuah ciptaan diumumkan. Pencipta      memiliki ak untuk menentukan apakah nama pencipta haru dicantumkan atau      tidak. Dan apakah nama sebenarnya atau nama sebenarnya yang digunakan,      atau tidak. Pencipta juga memiliki hak untuk menetukan hal ini bila sebuah      ciptaan turunan diumumkan. Ak ini bukan berarti keharusan menggunakan nama      penciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak      melindungi integritas ciptaan. Artinya pencipta memiliki hak melindungi      untuk integritas ciptaannya dari distorsi atau perubahan. Dalam hal ini      penerbitan atau musik dapat menimbulkan masalah bila diperlukan perubahan      atau pembetulan ejaan, istilah, atau ungkapan. Dengan berjalannya waktu      berubah pula norma-norma sosial dan bahkan kosa kata dan ejaan yang kita      pakai. Penerbit dan editor, barangkali akan mengubah suatu karya agar      lebih mudah dibaca (Hozumi, 2004: 24).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rangkaian pasal pasal di atas sangat jelas bahwa hasil karya manusia perlu dilindungi oleh payung hukum, agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntugan secara pribadi. Persoalan yang kemudian muncul bekaitan dengan aspek hukum ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah apakah digitalisasi bahan-bahan koleski perpustakaan dikatagorikan sebagai kegiatan melawan hukum?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam pasal-pasal hukum selalu saja ada pengecualian. Salah satu pengecualian dalam UU Hak Cipta adalah &lt;/span&gt;tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. Contoh perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau &lt;i&gt;fair dealing&lt;/i&gt; yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (UU No 19/2002 pasal 14–18). Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial, misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan oilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah "kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. Selain itu, seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta) program komputer dibolehkan membuat salinan atas program komputer yang dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norms kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal 17) &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut UU No.19 Tahun 2002 pasal 13, tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka lembaga-lembaga negara&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lembaga_Negara_Indonesia&amp;amp;action=edit" title="Lembaga Negara Indonesia"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, peraturan perundang-undangan&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peraturan_perundang-undangan&amp;amp;action=edit" title="Peraturan perundang-undangan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah, putusan pengadilan&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Putusan_pengadilan&amp;amp;action=edit" title="Putusan pengadilan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau penetapan hakim,&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hakim" title="Hakim"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa). Di Amerika Serikat&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, semua dokumen pemerintah, tidak peduli tanggalnya, berada dalam domain umum&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Domain_umum" title="Domain umum"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yaitu tidak berhak cipta.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lagu_kebangsaan" title="Lagu kebangsaan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. Demikian pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kantor_berita&amp;amp;action=edit" title="Kantor berita"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, lembaga penyiaran, dan surat kabar&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kegiatan digitalasi ini berarti perbanyakan dari suatu ciptaan. Setiap perbanyakan ciptaan harus diketahui oleh penciptanya/pemegang hak ciptanya karena disana ada nilai ekonominya. Bila semua perbanyakan mengandung nilai ekonomi maka pihak manapun yang memperbanyak, perlu ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta. Konsekwensinya adalah bila suatu perpustakaan ingin mendigitalkan seluruh koleksinya dari tercetak ke digital, maka harus ijin pada pencipta atau pada pemegang hak cipta koleksi yang ada di perpustakaaan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan yang dihadapi oleh perpustakaan untuk merealisasikan sebuah perpustakaan digital, karena sebelum pekerjaan di mulai saja harus mengurusi ijin yang begitu banyak, terlebih bila penerbit koleksi perpustakaan tersebut dari luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Singkat kata, ada persoalan pelik bila digitalisasi dipaksakan untuk semua bahan koleksi. Bagaimana ijin terhadap karya yang tercetak dalam buku umpamanya, padahal karya itulah yang paling banyak mendomiasi koleksi perpustakaan. Apakah koleksi umum yang diterbitkansebelum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahun 1990an didigitalkan? Apakah koleksi skripsi, tesis dan disertasi tahun 1990an juga akan didigitalkan?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bila jawaban atas pertanyaan di atas adalah “tidak semuanya”, maka langkah ideal yang ditempuh oleh perpustakaan harus mulai memilih dan memilah bahan-bahan apa saja yang akan didigitalkan. Menurut hemat saya, karya tulis apapun baik berupa skripsi, tesis, disertasi, buku, artikel, hasil penelitian atau karya apa saja dari civitas akademika universitas harus didigitalkan. Alasannya adalah bahwa karya seluruh sivitas akademik suatu universitas benar-benar dibaca oleh masyarakat, baik masyarakat kampus maupun masyarakat luas. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pilihan ini berdampak posistif karena perijinan digitalisasi tidak pelik sebab menyangkut sivitas akademik saja, disamping untuk menjauhkan diri dari jeratan pasal UU HAKI dalam hal pengalihbentukan maupun perbanyakan. Diharapkan digitalisasi ini pulalah nanti akan mengangkat reputasi suatu universitas karena banyak karyanya dibaca banyak orang. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Digitalisasi ini tentu tidak membuat semua orang &lt;i style=""&gt;legowo &lt;/i&gt;atau ikhlas kalau karyanya didgitalkan dengan dalih sama seperti dalih yang dikemukakan oleh penulis atau pemegang hak cipta suatu karya, yaitu kekhawatiran adanya pelanggaran terhadap HAKI berupa plagiat dan sejenisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alasan keberatan itu masuk akal, karena apa yang sering terjadi selama ini adalah mahasiswa selalu memenuhi ruang koleksi skripsi/tesis untuk sekedar mengambil inspirasi dari suatu ciptaan sampai menjiplak semua isi dari konsep maupun redaksinya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apa yang terjadi di ruang koleksi skripsi memang terjadi dan bahkan tidak jarang skripsi baru hanya sekedar daur ulang saja dari skripsi terdahulu. Hal ini sangat wajar terjadi karena tidak ada kontrol dari perpustakaan, disamping univeristas bersangkutan tidak punya kebijakan kongkrit dalam mengatasi penjiplakan atau plagiat. Bagaimana mungkin seorang pembimbing skripsi mampu mengawasi dan mematahkan argumentasi mahasiswa bahwa skripsinya bukan daur ulang dari skripsi terdahulu bila tidak punya alat untuk mengontrol. Apakah catatan manual yang ada di buku induk atau database skripsi yang ada di komputer mampu mengontrol skripsi seluruh mahasiswa yang ada di lingkungan suatu univesitas? &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sinilah sebenarnya perpustakaan digital punya peran penting dalam mengontrol karya ilmiah seluruh sivitas akademika universitas, dari mahasiswa sampai dosen. Ketika mahasiswa mengajukan proposal skripsi umpamanya, maka dosen pembimbing dengan sangat mudah untuk mengetahui apakah karya tersebut sudah ada yang membahasnya atau belum. Kalaupun dari redaksi judul, umpamanya, berbeda, maka pembimbing juga bisa mengecek isi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari skripsi tadi dengan membuka koleksi digitalnya dalam subyek sejenis.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di samping untuk keperluan mahasiswa, perpustakaan digital juga bisa dijadikan sarana mengontrol penelitian dosen, apakah penelitin itu adalah hasil duplikasi atau pengulangan penelitian terdahulu. Umpama yang berhak menguji kelayakan penelitian yang dilakukan oleh dosen adalah lembaga penelitian universitas atau Lemlit, maka Lemlitpun bisa dengan mudah mengecek proposal dosen yang bersangkutan guna dicocokkan di data yang ada di perpustakan digital apakah tema itu sudah ada atau belum, kalau sudah ada apakah penelitian itu perluasan dari penelitian sebulmnya atua hanya perulangan saja. Di sinilah sebenarnya Lemlit punya alasan valid kenapa harus meloloskan atau tidak meloloskan proposal penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang lebih penting lagi dari sisi kontrol adalah bahwa kontrol tidak hanya dilakukan oleh dosen pembimbing atau Lemlit saja tapi semua orang bisa mengontrol, terhadap karya atau ciptaan karena perpustakaan digital menyediakan akses yang seluas luasnya kepada siapapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alasan di atas sesungguhnya bisa digunakan untuk mematahkan kekhawatiran akan adanya plagiat atau kegiatan perbanyakan karya tanpa seijin pemegang hak ciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bila argumenatsi di atas juga belum bisa diterima, maka pepustakaan harus membuat suatu aturan bahwa koleksi perpustakaan digital hanya boleh dibaca tanpa boleh dikopi/download dengan cara memberi ID dan password bagi yang mendaftar dan tidak boleh mengkopi seluruhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DIMANA POSISI KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melihat profil perpustakaan perguruan tinggi di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanah air, sepertinya belum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada satupun yang berani mengatakan menjadi pioner (pioneer) dalam mengembangkan perpustakaan digital untuk keseluruhan koleksinya. Alasannya sangat logis bahwa terlalu tinggi cost (biaya) yang dibutuhkan untuk itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perpustakaan perguruan tinggi/universitas sangat menyadari bahwa koleksi tercetak berkembang pesat apalagi karya sivitas akademika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berupa skripsi, tesis dan disertasi. Bila kebijakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengumpulan &lt;i&gt;hardcop&lt;/i&gt;y skripsi, tesis dan disertasi dipertahankan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka bisa dibayangkan berapa luas gedung yang harus disediakan untuk menampung &lt;i&gt;hardcopy&lt;/i&gt; tadi. Dalam sepuluh tahun ke depan, barangkali gedung perpustakaan penuh sesak dengan koleksi skripsi, tesis dan disertasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang ini, sudah tidak bisa ditunda lagi bahwa perpustakaan harus ambil kebijakan yang didukung rektor untuk mengatasi persoalan tempat. Kebijakan tersebut adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap mahasiswa harus menyerahkan file skripsi, tesis dan disertasi kepada perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap dosen harus mengumpulkan file artikel, penelitian atau catatan ilmiah lainnya kepada perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sivitas akademika membuat pernyataan bahwa mereka akan mengalihkan hak cipta non eksklusif kepada pihak universitas untuk disimpan, diperbanyak, dan disebarluaskan secara sebagian atau keseluruhan dalam format elektronik ataupun tercetak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara ini sangat efektif karena perpustakaan tidak perlu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tenaga dan waktu yang lama untuk mendigitalkan bahan tersebut. Sekali lagi, Tentu saja aturan seperti ini harus sepenuhnya didukung oleh kebijakan rektor agar semua sivitas akademika taat terikat oleh peraturan rektor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkah ini adalah upaya kongkrit yang diambil oleh perpustakaan untuk mewujudkan suatu perpustakaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;digital di masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari sini nampak jelas bahwa kita sangat menginginkan untuk merealisasikan suatu perpustakaan digital secara komprehensif. Tapi pilihan itu jadi berat karena biaya yang sangat tinggi untuk mewujudkannya. Melihat hal ini maka langkah yang paling rasional adalah menjelmakan perpustakaan kita dalam bentuk perpustakaan hibrida, dimana koleksi tercetak, elektronik dan digital menyatu. Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa pemakai perpustakaan di negara maju sekalipun tetap menggunakan bahan tercetak sebagai andalan koleksinya, karena tak selamanya pemakai bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membaca secara nyaman di depan layar komputer. Apakah pemakai perpustakaan mampu membaca habis novel karya Dan Brown dalam Da Vinci Code di depan layar komputer? Apakah pemakai juga mampu membaca&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;habis Harry Potter di depan layar komputer? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dua contoh di atas membuktikan bahwa kita belum bisa meninggalkan perpustatakaan berbasis kertas dan tinta. Tapi kita mampu mengombinasikan bahan koleksi perpustakaan dengan bahan berbasis kertas dan tinta, elektronik dan tentu juga bahan digital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap ada temuan baru dalam bidang apapun pasti akan mengundang suara sepakat dan tidak sepakat (pro &amp;amp; kontra). Tapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya orang bisa menerima juga. Tergantung sejauh mana kemanfaatannya. Kehadiran internet umpamanya, dulu orang begitu kawatir terhadap akibat yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditimbulkan. Salah satu alasannya adalah bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;internet banyak mengakomodasi situs-situs porno. Ternyata kekhawatiran itu kurang beralasan sebab internet juga menyajikan banyak kebaikan dalam bidang ilmiah maupun bidang sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu artinya memang inernet mempunyai dua muka yang berbeda, tinggal muka mana yang akan dipilih. Ibarat pisau, bisa digunakan untuk memotong sayur, tapi bisa juga digunakan untuk memotong nadi sebagai cara bunuh diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sama halnya perpustakaan digital, orang begitu khwatir bila terjadi plagiat atas karya orang lain. Bukankah yang namanya kegiatan plagiat sudah ada sebelum perpustakaan digital ada? Justru perpustakaan digital ada untuk meminimalkan plagiat dalam bidang ilmiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Upaya mendigitalkan karya sivitas akademika suatu perguruan tinggi yang berupa skripsi, tesis, disertasi, hasil penelitian atau karya apapun (local contents)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah langkah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paling strategis untuk mewujudkan perpustakaan digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;Bilbiografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Borgman, Christine I. (2003). &lt;i&gt;Designing digital libraries for usability dalam Digital library use&lt;/i&gt;. Messachusetts: The MIT press.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Chowdury, Gobunda., Sudatta Chowdhury. (2003&lt;i&gt;). Introduction to digital libraries&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Facet Publishing.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Deegan, Marilyn., Simon Tanner. (2002). &lt;i&gt;Digital futures: strategy for information age&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Library Association Publishing.&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="EN" &gt;Digital library.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="EN" &gt; tersedia di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_library"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_library&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (19-06-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hozumi, Tomatsu. (2006). &lt;i style=""&gt;Asian copyright handbook: Buku panduan hak cipta Asean&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt; Jakarta: Asia Pasific Cultural Center for Unesco &amp;amp; IKAPI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Mukaiyama, Hiroshi. (1997). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Technical Aspect of Next Generation Digital Library Project&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;. tersedia di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.dl.slis.tsukuba.ac.jp/ISDL97/proceedings/hiro/hiro.html"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://www.dl.slis.tsukuba.ac.jp/ISDL97/proceedings/hiro/hiro.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (08-08-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, Et al. (2007). &lt;i&gt;Perpustakaan digital:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perspektif perpustakan perguruan tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sagung Seto.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, (2008). &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Perpustakaan digital dari A sampai Z&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Cita Kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Purnomo, Agung.(2006). &lt;i&gt;Perpustakaan digital sebagai solusi keterbatasan informasi.&lt;/i&gt; Tersedia di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://agungpurnomo.wordpress.com/2006"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;"  lang="SV"&gt;http://agungpurnomo.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; ( 26 November 2007).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Realizing the Hybrid Library. (1998). &lt;i&gt;D-Lib Magazine October. &lt;/i&gt;Tersedia di &lt;a href="http://www.dlib.org/dlib/october98/10pinfield.html"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://www.dlib.org/dlib/october98/10pinfield.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(08-08-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sulistyo-Basuki. (1993). &lt;i&gt;Pengantar ilmu perpustakaan&lt;/i&gt;. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Suryandari, Ari. (2007). Aspek manajemen perpustakaan digital dalam &lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, Et al. (2007) &lt;i&gt;Perpustakaan digital:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perspektif perpustakan perguruan tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sagung Seto.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;UU HAKI: Hak Atas Kekayaan Itelektual. &lt;/i&gt;(2003), &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sinar Grafika.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:13;" lang="FI" &gt;PERPUSTAKAAN HIBRIDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:13;" lang="FI" &gt;(Alternatif solusi akses informasi di perpustakaan perguruan tinggi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oleh: Bahrul Ulumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;LATAR BELAKANG&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keterbatasan akses di perpustakaan perguruan tinggi adalah masalah klasik yang belum terselesaikan dengan baik. Masalah ini muncul mengingat pemakai perpustakaan banyak, namun ketersediaan bahan perpustakaan terbatas. Sebagai ilustrasi, seorang dosen memberi tugas pada mahasiswa untuk membuat makalah dengan tema ”Pemikiran salah satu tokoh kritis dalam filsafat”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tugas ini harus dikumpulkan satu minggu kemudian. Yang terbayang dalam benak mahasiswa adalah dia harus cepat-cepat untuk meminjam buku yang ada di perpustakaan fakultas maupun di perpustakan pusat. Langkah yang diambil adalah bergegas cepat-cepat melihat katalog (OPAC) untuk browsing apakah buku yang dibutuhkan tersedia atau tidak. Hati mahasiswa lega ternyata buku filsafat yang dibutuhkan ada sehingga dia harus cepat-cepat pergi untuk mengambil buku tersebut. Namun sayang, buku yang jelas-jelas dia butuhkan ternyata sudah dipinjam rekannya yang akan dikembalikan setidaknya 2 minggu kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meneruskan pencariannya ke perpustakaan pusat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkahnya sama dengan yang ditempuh dengan di perpustakaan fakultas, yaitu &lt;i&gt;brwosing&lt;/i&gt; OPAC dulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanpa membuang waktu, dia menuju koleksi filsafat. Dia sudah merasa tenang melihat deretan buku-buku filsafat. Namun untuk kedua kalinya dia harus kecewa karena hanya ada sebuah buku yang memuat pemikiran tokoh krtitis. Itu saja teman sekelasnya sudah mengantri mau pinjam. Tentu kebingungannya tidak berhenti di situ saja. Tugas-tugas lain ternyata juga sudah menunggu, di luar mata kuliah filsafat, yaitu dia harus menyelesaikan sebuah paper untuk tugas mata kuliah Metodologi Penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mengacu dari kasus di atas, ternyata ketersediaan buku atau koleksi yang ada`di perpustakaan mengenai topik tertentu sangat terbatas. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keterbatasan inilah menyebabkan akses untuk mendapatkan informasi tertentu jadi terhambat. Maka harus ada upaya lain untuk membuat akses informasi tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;PERPUSTAKAAN KONVENSIONAL, DIGITAL DAN HIBRIDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Perpustakaan Konvensional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika membincangkan perpustakaan konvensional (perpustakaan berbahan kertas dan tinta), tentu kita tidak pernah bisa melepaskan unsur tempat karena eksistensi perpustakan konvensional ditandai dengan tempat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam suatu batasan perpustakaan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah ruangan, ataupun bagian sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual (Sulistyo-Basuki, 1991: 3). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari batasan ini saja sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa aspek tempat menjadi utama karena sebuah perpustakan didefiniskan sebagai ruangan atau gedung yang koleksinya terdiri atas bahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tercetak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dilihat dari tahun dimana buku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini diterbitkan masih sangat relevan untuk menonjolkan aspek tempat sebagai batasan utama sebuah perpustakaan., yakni pada tahun 1990an. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka tak jarang ditemui gedung perpustakaan sangat besar karena perancang dan pengelolanya berpikir bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;koleksi buku akan bertambah sekian persen dari koleksi yang sudah ada. Asumsi ini tidak salah, sebab bisa jadi ke depan buku akan semakin banyak jumlahnya, dan pasti akan membutuhkan perluasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kendati demikian, tidak ada salahnya pengelola dan perancang gedung perpustakaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus memikirkam kemungkinan lain bahwa perkembangan teknologi seperti sekarang jauh lebih maju dari yang dipridiksi sebelumnya. Dahulu, orang tidak mengira bahwa media penyimpan data yang secara fisik sebesar setengah dari buplen mampu menyimpan data yang begitu besar. Dan media penyimpan itu sudah menjadi kebutuhan bagi setiap mahasiswa dewasa ini. Tak jarang mereka punya banyak informasi yang begitu beragam mengenai banyak subyek yang hanya disimpan dalam sekeping flasdisk kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dahulu pula orang terheran-heran dan kagum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat koleksi perpustakan yang rak-raknya dipenuhi oleh &lt;i&gt;Encyclopedia Americana &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Britanica.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga koleksi ini pula sering dijadikan ukuran hebat tidaknya sebuah perpustakaan berdasar pada punya tidaknya &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Encyclopedia Americana&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Britanica. &lt;/i&gt;Dalam konteks dahulu, tentu tidak berlebihan karena edisi cetak ensiklopedia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini memang mengagumkan dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu &lt;i&gt;meng up date&lt;/i&gt; data yang ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dalamnya. Bahkan untuk karya ensiklopedi tercetak, maka ensiklopedia di atas selalu berada di depan dibanding ensiklopedi sejenis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun ketika media penyimpanan tidak mengandalkan cetakan satu-satunya cara menyimpan informasi, maka kedua ensiklopedia di atas terasa kurang memberi informasi yang sempurna karena hanya menyediakan narasi dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gambar mati saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebagai perbandingan, berikut ini bisa dilihat keunggulan ensiklopedia berbahan cetakan dan ensiklopedi noncetak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ukuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cetak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Noncetak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Media &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kertas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keping CD, Hard   Disk, digital&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Volume&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Minim&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Harga&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mahal&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjankau&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tampilan   &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Visual&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Audio Visual &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Isi (content)&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sangat besar&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Up date&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Cetak ulang&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Up date cepat&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 112.8pt;" valign="top" width="150"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akses   Informasi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 111.6pt;" valign="top" width="149"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Lewat indeks, Terbatas oleh   tempat dan waktu, serta tidak bisa dipakai secara bersamaan.&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 180.6pt;" valign="top" width="241"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mudah, tidak   terkendala tempat dan waktu sebab tersedia dalam online, dan dapat diakses   banyak pemakai pada saat yang bersamaan Langsung&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;B. Perpustakaan Digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep perpustakaan digital, perpustakan elektronik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ataupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perpustakaan hibrida sering dianggap sama atau sinonim. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Artinya bila menyebut satu istilah di atas maka istilah itu megacu pada perpustakaan yang sama. Namun sekarang, konsep perpustakaan digital lebih sering didengar dari istilah lainnya, karena kebanyakan orang berharap ada ada kemajuan besar dalam dunia perpustakaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari sinilah para ahli mulai membatasi istilah perpustakaan digital. Batasan yang paling sederhana adalah definisi Lesk sebagaimana dikemukakan Pendit dalam Perpustakaan digital: perspektif perpustakaan perguruan tinggi, yaitu &lt;i style=""&gt;”Organized colections of digital information” &lt;/i&gt;(2007:29). Batasan lain yang lebih luas disampaikan Arms seperti dikemukakan Deegan (2002:20) yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“A Managed collection of information, with associated services, where the information is stored in digital formats and accessible over network. A crucial part of this definition is that the information is managed.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Federasi perpustakaan di Amerika Serikat juga memberi batasan sebagaimana dikutip oleh Deegan (2002:20) sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by defined community or set of communities”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Batasan terakhir memberi makna yang lebih luas dari dua terdahulu, yaitu bahwa perpustakaan digital menyediakan sumber-sumber digital disamping pegawai dengan tatakerja dan tujuan kerja serta masyarakat yang diharapkan dapat memanfaatkan layanan perpustakaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selanjutnya Tedd dan Large, seperti dikutip Pendit (2007:30), menyebut ada tiga karakter untuk menyebut perpustakaan sebagai perpustakaan digital yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Memakai teknologi yang mengintegrasiakan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dalam sebuah jaringan digital yang tersebar luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun sksternal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya jasa untuk memenuhi kebutuhan informai masyarakat tersebut karenanya peprustakaan digital merupakan integrasi institusi museum, arsip, dan sekolah yang memilih, mengoleksi, mengelola, merawat dan menyedikan informasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara meluas ke berbagai komunitas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Karakter terakhir yang menyebut integrasi berbagai lembaga informasi untuk melayani berbagai masyarakat, merupakan salah satu gambaran paling dicitakan dalam konsep perpustakaan digital. Dari sisi teknologi, maka yang menjadi perhatian utama adalah adanya &lt;i style=""&gt;integrasi&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;keterkaitan&lt;/i&gt; antar berbagai jenis format data dalam jumlah yang sangat besar; disimpan dan disebarluaskan melalui jaringan telematika yang bersifat global. Mukaiyama (1997) mengemukakan setidaknya a&lt;span style="" lang="SV"&gt;da 7 (tujuh ) teknologi yang menjadi perhatian utama dalam mewujudkan perpustakan digital yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Contents processing technology&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, menemukan kembali informasi digital, baik informasi primer maupun sekunder secara efektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Information access technology&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memungkinkan menyediakan akses ke berbagai jenis informasi tanpa batasan waktu dan tempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Human-friendly, intelellgenet interface&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Antarmuka yang memungkinkan peningkatan produktivitas intelektual dalam bentuk fasilitas yang juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memungkinkan berbagai pengguna melakukan berbagai carian informasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Interoperability&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: 0.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memungkinkan berbagi teknologi yang berbeda-beda saling bertemu dalam lingkungan yang heterogen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Scalability&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teknologi yang memperluas sebaran informasi dan mmapu meningkatkan jumlah pengguna serta memungkinkan aksesnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Open system development&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Teknologi yang memungkinkan penggunaan standard international dan standar de facto tetapi tidak mengorbankan kinerja keseluruihan. Standardisasi tidak boleh menyebabkan sistem terlalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Highly system development.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Luasnya cakupan informasi dan cepatnya pertumbuhan perpustakaan digital dengan perkembangan masyarakat, maka diperlukan teknologi yang dengan cepat bisa disesuaikan dengan perkembangan sistem sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan persyaratan yang begitu kompleks untuk mewujudkan suatu perpustakaan digital, maka membangun perpustakaan digital tidak mungkin dikerjakan oleh perpustakaan perguruan tinggi saja. Proyek besar memerlukan kerja sama yang erat antara banyak pihak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Upaya ini bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Amerika Serikat dalam upaya mewujudkan perpustakaan digital dengan perjalanan proses yang lumayan panjang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengacu kasus yang terjadi di Amerika, jelas bahwa upaya digitalisasi koleksi (membuat perpustakaan digital) bukan persoalan yang mudah. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Perlu dana yang sangat besar disamping didukung kebijakan pemerintah yang kuat. Bisa dibayangkan kalau seandainya semua koleksi yang ada di perpustakaan didigitalkan. Berapa banyak tenaga, dana dan waktu untuk merealisasikan program tersebut. Dan itulah ambisi Amerika sebagai negara terdepan dalam mengembangkan teknologi informasi. Hebatnya negara maju yang mengandalkan informasi sebagai salah satu andalan komoditas ekspor, mempunyai kebijakan yang betul–betul komprehensif. Artinya bahwa pemerintah sepenuh hati berupaya mewujudkan perpustakaan digital. Ada tiga departemen besar dalam pemerintahan menyatu padu dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berupaya merealisasikan cita-cita tersebut. Dalam waktu yang tidak lama, barangkali Amerika Serikatlah yang berhasil mewujudkan perpustakan digital yang diimpikan oleh banyak orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;C. Perpustakaan Hibrida &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebelum banyak ahli membincangkan perpustakaan digital, sesungguhnya mereka sudah mewacanakan perpustakaan hibrida. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Istilah perpustakaan hibrida (&lt;i&gt;Hybrid library&lt;/i&gt;) pertama kali dikemukakan oleh &lt;/span&gt;Chris Rusbridge dalam artikel yang dimuat dalam di D-Lib Magazine pada tahun 1998. Istilah ini &lt;span style="" lang="FI"&gt;digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang koleksinya terdiri atas bahan cetak dan bahan noncetak. Perpustakaan hibrida adalah campuran bahan-bahan cetakan seperti buku, majalah, dan juga bahan-bahan berupa jurnal elektronik, e-book dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perpustakaan hibrida merupakan &lt;i&gt;continuum &lt;/i&gt;antara perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital, dimana informasi yang dikemas dalam media elektronik maupun cetak digunakan secara bersamaan. Tantangan pengelola perpustakaan hibrida adalah mendorong pemakai untuk menemukan informasi dalam berbagai format. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Inggris merupakan negara yang paling aktif melakukan penelitian guna mewujudkan perpustakaan digital. D-lib Magazine edisi Oktober 1998 mencatat, setidaknya ada lima proyek yang Inggris coba untuk mewujudkan impiannya menciptakan perpustakaan hibrida. Yaitu: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;HyLife&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Hybrid Library of the Future&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt; Proyek ini berusaha mendirikan, menguji, mengevaluasi, serta menyebarkan sekitar teori dan praktik perpustakaan hibrida yang terdiri atas layanan lektronik dan cetak. Proyek ini dikembangkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Northumbria&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menfokuskan diri dalam hal nonteknologi untuk memahami bagaimana cara terbaik mengoperasikan perpustakaan hibrida. Salah satu hasilnya adalah Hybrid Library Toolkit, yang berisikan panduan mengenai langkah implementasi bagi perpustakaan-perpustakaan yang ingin mengembangkan jasa elektronik sesuai dengan kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Malibu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(Managing the hybrid Library for the Benefit of Users). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Proyek ini memfokuskan diri pada pengembangan model institusi untuk organisasi dan layanan perpustakaan hibrida. &lt;i&gt;Malibu&lt;/i&gt; didirikan oleh tiga lembaga yaitu King’s College London, University of Oxford, dan University of Southamton, yang mengembangkan perpustakaan hibrida dalam kajian humanities. Proyek ini menarik sebab juga melibatkan pemakai untuk membuat skenario sistem yamg memudahkan dalam melayani pemakainya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Malibu&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; memfokuskan pada pengembangan model institutsi untuk suatu organisasi dan manajemen layanan perpustakaan hibrida.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;HeadLine&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Hybrid Electronic Access and Delivery in the Library Networked Environment)&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Proyek ini dikerjakan oleh London School of Economics, T&lt;/span&gt;he London Business School, dan The University of Hertfordshire. Proyek ini bertujuan &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mrerancang dan mengimplementasikan model perpustakaan hibrida dalam dalam lingkungan akademik yang nyata. Pproyek ini bereksperimen dengan lingkungan jasa informasi personal alias &lt;i&gt;Personal Information Environment &lt;/i&gt;dengan mengembangkan portal yang memungkinkan pemakai perpustakaan mengakses informasi elektronik maupun nonelektronik secara terintegrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Builder &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;(Birmingham University Integrated Library Development and Electronic Resource)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dikembangkan di University of Birmingham, bertujuan untuk mempelajari dampak perpustakaan hibrida terhadap pemakai di perguruan tingi, mulai dari mahasiswa serta dosen yang mengajar di sana, serta pengelola perpustakaan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Agora&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, membangun sistem manajemen perpustakaan hibrida &lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; a hybrid library management system /HLMS)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:10;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;merupakan konsorsium yang terdiri atas University of East Anglia&lt;/span&gt;, UKOLN, Fretwell-Downing Informatics, dan CERLIM (the Centre for Research in Library and Information Management)&lt;span style=""&gt; dengan konsentarsi pada Hibrid Library Management System. Perhatian utama dalam proyek ini adalah pengembangan sistem informasi berbasis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada konsep search, locate, request, an deliver.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari temuan di atas akhirnya para pustakawan dan para teknolog berkolaborasi mengembangkan suatu konsep perpustakaan hibrida yang tetap mempertahankan koleksi tercetak, dan digital secara terintegrasi tanpa harus menomorduakan macam koleksi tententu. Yang membedakan perpustakaan digital dangan hibrida adalah: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, hibrida masih memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi digitalnya, dimana perpustakaan digital berusaha ingin mengubah semua koleksinya ke dalam bentuk digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, perpustakan hibrida memperluas konsep cakupan jasa informasi sehingga perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;koleksi elektronik dan digital serta penggunaan teknologi komputer tidak dipisahkan dari yang berbasis tercetak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Konsep perpustakaan hibrida sangat jelas yaitu mempertahankan keberadaan perpustakaan tercetak dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alasan bahwa pemakai masih saja memerlukan koleksi tercetak untuk memenuhi keperluan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetap saja buku tercetak tidak tergantikan dengan buku digital. Untuk itulah koleksi tercetak harus tetap dipertahankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DIGITALISASI PERPUSTAKAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Digitalisasi ini dimaksudkan untuk mencoba mengatasi persoalan mahasiswa yang mengalami keterbatasan akses informasi dalam menyelesaikan tugasnya, sebagaimana diurai pada latar belakang. Bila koleksi perpustakaan berformat digital tentu tidak ada persoalan bagi mahasiswa dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Sejumlah berapapun dan dari manapun mahasiswa berasal, kepentingan akses mereka terhadap suatu informasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan mudah diakomodasi oleh koleksi digital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mahasiswapun tidak harus datang ke perpustakaan secara fisik, karena mereka bisa saja membuka dengan fasilitas &lt;i&gt;klik&lt;/i&gt; di depan ruang kuliah dengan menggunakan &lt;i&gt;lap top&lt;/i&gt;nya. Merekapun sangat leluasa dalam mengakses karena perpustakaan digital tidak membatasi waktu akses. Dalam 24 jam perpustakaan digital siap melayani penggunanya tanpa lelah, disamping mereka bisa menghindari penjaga perpustakaan konvenional yang seringkali kurang ramah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A. Implementasi perpustakan digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Digitalisasi bahan perpustakaan bisa berupa buku, naskah kuno, peta, foto lukisan dan sebagainya. Digitalisasi bahan-bahan ini dimaksudkan untuk melestarikan informasi yang ada dalam bahan-bahan tersebut. Digitalisasi bahan tercetak seperti buku, majalah ataupun hasil penelitian bisa dilakukan dengan menindai atau menscan. Demikian halnya bahan lainnya seperti peta dan naskah kuno. Untuk karya seperti patung, digitalisasi dilakukan dengan memotret dulu menggunakan kamera digital sehingga nantinya menjadi bahan digital. Cara ini memungkinkan patung dilihat dari banyak sisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Secara singkat, Suryandari (2007:234-235) menjelaskan proses digitalisasi bahan-bahan perpustakaan sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Scanning &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Yaitu proses menscan atau menindai bahan-bahan tercetak dan mengubahnya menjadi berkas digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Editing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adalah proses mengolah bahan berkas PDF dalam komputer dengan memberikan password, catatan kaki, daftar isi dan sebagainya. Tentu, pemberian password ataupun catatan kaki disesuaikan dengan kebijakan yang berlaku di institusi yang bersangkutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Proses OCR (&lt;i&gt;Optical Character Recognition&lt;/i&gt;) juga dimasukkan dalam kategori editing. Proses OCR adalah proses mengubah gambar menjadi teks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Uploading&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Merupakan proses pengisian metadata serta mengupload berkas dokumen ke dalam perpustakaan digital. Berkas yang diupload ini merupakan berkas PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga lampiran yang telah melalui proses editing. Dengan demikian file tersebut telah dilengkapi dengan password daftar isi, catatan kaki dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Perlindungan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) terhadap Perpustakaan Digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak kekayaan intelektual atau sering disingkat HKI atau akronim HAKI adalah padanan kata Intellectual Property Right, yakni hak yang timbul dari olah pikir manusia untuk menghasilkan suatu karya yang bisa memberi kemanfaatan kepada masyarakat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pada hakekatnya HAKI merupakan hak untuk menikmati secara ekonomi dari suatu kreativitas intelektual. Obyek yang diatur dalam HAKI adalah karya-karya yang lahir dari kekayaan intelektual manusia.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Secara garis besar, HAKI itu dibagi dua yaitu: Hak cipta (copyright) dan Hak kekayaan industri (Industrial property right). Namun dalam konteks perpustakaan digital, perlu sedikit uraian mengenai hak cipta sebagi perangkat hukum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agar tidak menyalahi terhadap kaidah hukum positif yang sudah ada. &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak cipta ini meliputi bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Buku,      program komputer, pamphlet, perwajahan (lay out) karya tulis yang      diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang      sejenis dengan itu;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alat      peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lagu      atau musik dengan atau tanpa teks;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Drama      atau drama musical, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seni      rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni      kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Arsitektur;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peta;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Seni batik&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Fotografi;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sinematografi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai,      database, dan karya lain yang dari hasil pengalihwujudan.(UU No 19/2002      pasal 12).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pasal dalam UU No 19/2002 pasal 12 jelas memasukkan buku sebagai salah satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karya yang harus dilindungi oleh hukum. Oleh karena pengarang/ pencipta berhak untuk:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perbanyakan &lt;i&gt;(right of reproduction&lt;/i&gt;) Hak      perbanyakan adalah kekayaan intelektual yang paling dasar dan substansial.      Perbanyakan berarti perbanyakan dalam bentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kongrit melalui cetakan, fotografi,      suara, rekaman visual, dan sebagainya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Penerbitan adalah salah satu metode yang paling tua. Umumnya hak hak      yang bertalian dengan penerbitan disebut menerbitkan dan hak hak ini      adalah salah satu jenis dari hak perbanyakan. Membuat rekaman visual dan      atau audio pertunjukan atau siaran, sandiwara, ceramah, dan sebagainya,      juga menggunakan hak perbanyakan, bahkan hak ini mencakup berbagai      kegiatan yang sangat luas, termasuk menyalin teks atau ilustrasi dengan      alat scanner atau mesin fotokopi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hak menyebarkan (&lt;i&gt;right of public transmission)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pencipta punya hak untuk menyebarluaskan ciptaannya di depan umum. Karena menyebarluaskan kepada umum berarti menyebarluaskan melalui radio, televisi dan sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak      mencantumkan nama pencipta. Bila sebuah ciptaan diumumkan. Pencipta      memiliki ak untuk menentukan apakah nama pencipta haru dicantumkan atau      tidak. Dan apakah nama sebenarnya atau nama sebenarnya yang digunakan,      atau tidak. Pencipta juga memiliki hak untuk menetukan hal ini bila sebuah      ciptaan turunan diumumkan. Ak ini bukan berarti keharusan menggunakan nama      penciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hak      melindungi integritas ciptaan. Artinya pencipta memiliki hak melindungi      untuk integritas ciptaannya dari distorsi atau perubahan. Dalam hal ini      penerbitan atau musik dapat menimbulkan masalah bila diperlukan perubahan      atau pembetulan ejaan, istilah, atau ungkapan. Dengan berjalannya waktu      berubah pula norma-norma sosial dan bahkan kosa kata dan ejaan yang kita      pakai. Penerbit dan editor, barangkali akan mengubah suatu karya agar      lebih mudah dibaca (Hozumi, 2004: 24).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rangkaian pasal pasal di atas sangat jelas bahwa hasil karya manusia perlu dilindungi oleh payung hukum, agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntugan secara pribadi. Persoalan yang kemudian muncul bekaitan dengan aspek hukum ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah apakah digitalisasi bahan-bahan koleski perpustakaan dikatagorikan sebagai kegiatan melawan hukum?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam pasal-pasal hukum selalu saja ada pengecualian. Salah satu pengecualian dalam UU Hak Cipta adalah &lt;/span&gt;tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. Contoh perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau &lt;i&gt;fair dealing&lt;/i&gt; yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (UU No 19/2002 pasal 14–18). Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial, misalnya, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan oilmu pengetahuan, kegiatan penelitian dan pengembangan, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah "kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Khusus untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. Artinya, dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. Selain itu, seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta) program komputer dibolehkan membuat salinan atas program komputer yang dimilikinya, untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18), ataupun melarang penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan, ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras, dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara, bertentangan dengan norms kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat, dan ketertiban umum" (pasal 17) &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut UU No.19 Tahun 2002 pasal 13, tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lembaga_Negara_Indonesia&amp;amp;action=edit" title="Lembaga Negara Indonesia"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;lembaga-lembaga Negara&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peraturan_perundang-undangan&amp;amp;action=edit" title="Peraturan perundang-undangan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;peraturan perundang-undangan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Putusan_pengadilan&amp;amp;action=edit" title="Putusan pengadilan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;putusan pengadilan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau penetapan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hakim" title="Hakim"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;hakim&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa). Di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, semua dokumen pemerintah, tidak peduli tanggalnya, berada dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Domain_umum" title="Domain umum"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;domain umum&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yaitu tidak berhak cipta.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lagu_kebangsaan" title="Lagu kebangsaan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;lagu kebangsaan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. Demikian pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kantor_berita&amp;amp;action=edit" title="Kantor berita"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;kantor berita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, lembaga penyiaran, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_kabar" title="Surat kabar"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;surat kabar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kegiatan digitalasi ini berarti perbanyakan dari suatu ciptaan. Setiap perbanyakan ciptaan harus diketahui oleh penciptanya/pemegang hak ciptanya karena disana ada nilai ekonominya. Bila semua perbanyakan mengandung nilai ekonomi maka pihak manapun yang memperbanyak, perlu ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta. Konsekwensinya adalah bila suatu perpustakaan ingin mendigitalkan seluruh koleksinya dari tercetak ke digital, maka harus ijin pada pencipta atau pada pemegang hak cipta koleksi yang ada di perpustakaaan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan yang dihadapi oleh perpustakaan untuk merealisasikan sebuah perpustakaan digital, karena sebelum pekerjaan di mulai saja harus mengurusi ijin yang begitu banyak, terlebih bila penerbit koleksi perpustakaan tersebut dari luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Singkat kata, ada persoalan pelik bila digitalisasi dipaksakan untuk semua bahan koleksi. Bagaimana ijin terhadap karya yang tercetak dalam buku umpamanya, padahal karya itulah yang paling banyak mendomiasi koleksi perpustakaan. Apakah koleksi umum yang diterbitkansebelum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahun 1990an didigitalkan? Apakah koleksi skripsi, tesis dan disertasi tahun 1990an juga akan didigitalkan?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bila jawaban atas pertanyaan di atas adalah “tidak semuanya”, maka langkah ideal yang ditempuh oleh perpustakaan harus mulai memilih dan memilah bahan-bahan apa saja yang akan didigitalkan. Menurut hemat saya, karya tulis apapun baik berupa skripsi, tesis, disertasi, buku, artikel, hasil penelitian atau karya apa saja dari civitas akademika universitas harus didigitalkan. Alasannya adalah bahwa karya seluruh sivitas akademik suatu universitas benar-benar dibaca oleh masyarakat, baik masyarakat kampus maupun masyarakat luas. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pilihan ini berdampak posistif karena perijinan digitalisasi tidak pelik sebab menyangkut sivitas akademik saja, disamping untuk menjauhkan diri dari jeratan pasal UU HAKI dalam hal pengalihbentukan maupun perbanyakan. Diharapkan digitalisasi ini pulalah nanti akan mengangkat reputasi suatu universitas karena banyak karyanya dibaca banyak orang. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Digitalisasi ini tentu tidak membuat semua orang &lt;i style=""&gt;legowo &lt;/i&gt;atau ikhlas kalau karyanya didgitalkan dengan dalih sama seperti dalih yang dikemukakan oleh penulis atau pemegang hak cipta suatu karya, yaitu kekhawatiran adanya pelanggaran terhadap HAKI berupa plagiat dan sejenisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alasan keberatan itu masuk akal, karena apa yang sering terjadi selama ini adalah mahasiswa selalu memenuhi ruang koleksi skripsi/tesis untuk sekedar mengambil inspirasi dari suatu ciptaan sampai menjiplak semua isi dari konsep maupun redaksinya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apa yang terjadi di ruang koleksi skripsi memang terjadi dan bahkan tidak jarang skripsi baru hanya sekedar daur ulang saja dari skripsi terdahulu. Hal ini sangat wajar terjadi karena tidak ada kontrol dari perpustakaan, disamping univeristas bersangkutan tidak punya kebijakan kongkrit dalam mengatasi penjiplakan atau plagiat. Bagaimana mungkin seorang pembimbing skripsi mampu mengawasi dan mematahkan argumentasi mahasiswa bahwa skripsinya bukan daur ulang dari skripsi terdahulu bila tidak punya alat untuk mengontrol. Apakah catatan manual yang ada di buku induk atau database skripsi yang ada di komputer mampu mengontrol skripsi seluruh mahasiswa yang ada di lingkungan suatu univesitas? &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sinilah sebenarnya perpustakaan digital punya peran penting dalam mengontrol karya ilmiah seluruh sivitas akademika universitas, dari mahasiswa sampai dosen. Ketika mahasiswa mengajukan proposal skripsi umpamanya, maka dosen pembimbing dengan sangat mudah untuk mengetahui apakah karya tersebut sudah ada yang membahasnya atau belum. Kalaupun dari redaksi judul, umpamanya, berbeda, maka pembimbing juga bisa mengecek isi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari skripsi tadi dengan membuka koleksi digitalnya dalam subyek sejenis.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di samping untuk keperluan mahasiswa, perpustakaan digital juga bisa dijadikan sarana mengontrol penelitian dosen, apakah penelitin itu adalah hasil duplikasi atau pengulangan penelitian terdahulu. Umpama yang berhak menguji kelayakan penelitian yang dilakukan oleh dosen adalah lembaga penelitian universitas atau Lemlit, maka Lemlitpun bisa dengan mudah mengecek proposal dosen yang bersangkutan guna dicocokkan di data yang ada di perpustakan digital apakah tema itu sudah ada atau belum, kalau sudah ada apakah penelitian itu perluasan dari penelitian sebulmnya atua hanya perulangan saja. Di sinilah sebenarnya Lemlit punya alasan valid kenapa harus meloloskan atau tidak meloloskan proposal penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang lebih penting lagi dari sisi kontrol adalah bahwa kontrol tidak hanya dilakukan oleh dosen pembimbing atau Lemlit saja tapi semua orang bisa mengontrol, terhadap karya atau ciptaan karena perpustakaan digital menyediakan akses yang seluas luasnya kepada siapapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alasan di atas sesungguhnya bisa digunakan untuk mematahkan kekhawatiran akan adanya plagiat atau kegiatan perbanyakan karya tanpa seijin pemegang hak ciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bila argumenatsi di atas juga belum bisa diterima, maka pepustakaan harus membuat suatu aturan bahwa koleksi perpustakaan digital hanya boleh dibaca tanpa boleh dikopi/download dengan cara memberi ID dan password bagi yang mendaftar dan tidak boleh mengkopi seluruhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DIMANA POSISI KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melihat profil perpustakaan perguruan tinggi di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanah air, sepertinya belum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada satupun yang berani mengatakan menjadi pioner (pioneer) dalam mengembangkan perpustakaan digital untuk keseluruhan koleksinya. Alasannya sangat logis bahwa terlalu tinggi cost (biaya) yang dibutuhkan untuk itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perpustakaan perguruan tinggi/universitas sangat menyadari bahwa koleksi tercetak berkembang pesat apalagi karya sivitas akademika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berupa skripsi, tesis dan disertasi. Bila kebijakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengumpulan &lt;i&gt;hardcop&lt;/i&gt;y skripsi, tesis dan disertasi dipertahankan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka bisa dibayangkan berapa luas gedung yang harus disediakan untuk menampung &lt;i&gt;hardcopy&lt;/i&gt; tadi. Dalam sepuluh tahun ke depan, barangkali gedung perpustakaan penuh sesak dengan koleksi skripsi, tesis dan disertasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang ini, sudah tidak bisa ditunda lagi bahwa perpustakaan harus ambil kebijakan yang didukung rektor untuk mengatasi persoalan tempat. Kebijakan tersebut adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap mahasiswa harus menyerahkan file skripsi, tesis dan disertasi kepada perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap dosen harus mengumpulkan file artikel, penelitian atau catatan ilmiah lainnya kepada perpustakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 2cm; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sivitas akademika membuat pernyataan bahwa mereka akan mengalihkan hak cipta non eksklusif kepada pihak universitas untuk disimpan, diperbanyak, dan disebarluaskan secara sebagian atau keseluruhan dalam format elektronik ataupun tercetak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cara ini sangat efektif karena perpustakaan tidak perlu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tenaga dan waktu yang lama untuk mendigitalkan bahan tersebut. Sekali lagi, Tentu saja aturan seperti ini harus sepenuhnya didukung oleh kebijakan rektor agar semua sivitas akademika taat terikat oleh peraturan rektor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Langkah ini adalah upaya kongkrit yang diambil oleh perpustakaan untuk mewujudkan suatu perpustakaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;digital di masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari sini nampak jelas bahwa kita sangat menginginkan untuk merealisasikan suatu perpustakaan digital secara komprehensif. Tapi pilihan itu jadi berat karena biaya yang sangat tinggi untuk mewujudkannya. Melihat hal ini maka langkah yang paling rasional adalah menjelmakan perpustakaan kita dalam bentuk perpustakaan hibrida, dimana koleksi tercetak, elektronik dan digital menyatu. Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa pemakai perpustakaan di negara maju sekalipun tetap menggunakan bahan tercetak sebagai andalan koleksinya, karena tak selamanya pemakai bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membaca secara nyaman di depan layar komputer. Apakah pemakai perpustakaan mampu membaca habis novel karya Dan Brown dalam Da Vinci Code di depan layar komputer? Apakah pemakai juga mampu membaca&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;habis Harry Potter di depan layar komputer? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dua contoh di atas membuktikan bahwa kita belum bisa meninggalkan perpustatakaan berbasis kertas dan tinta. Tapi kita mampu mengombinasikan bahan koleksi perpustakaan dengan bahan berbasis kertas dan tinta, elektronik dan tentu juga bahan digital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap ada temuan baru dalam bidang apapun pasti akan mengundang suara sepakat dan tidak sepakat (pro &amp;amp; kontra). Tapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya orang bisa menerima juga. Tergantung sejauh mana kemanfaatannya. Kehadiran internet umpamanya, dulu orang begitu kawatir terhadap akibat yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditimbulkan. Salah satu alasannya adalah bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;internet banyak mengakomodasi situs-situs porno. Ternyata kekhawatiran itu kurang beralasan sebab internet juga menyajikan banyak kebaikan dalam bidang ilmiah maupun bidang sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu artinya memang inernet mempunyai dua muka yang berbeda, tinggal muka mana yang akan dipilih. Ibarat pisau, bisa digunakan untuk memotong sayur, tapi bisa juga digunakan untuk memotong nadi sebagai cara bunuh diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sama halnya perpustakaan digital, orang begitu khwatir bila terjadi plagiat atas karya orang lain. Bukankah yang namanya kegiatan plagiat sudah ada sebelum perpustakaan digital ada? Justru perpustakaan digital ada untuk meminimalkan plagiat dalam bidang ilmiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Upaya mendigitalkan karya sivitas akademika suatu perguruan tinggi yang berupa skripsi, tesis, disertasi, hasil penelitian atau karya apapun (local contents)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah langkah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paling strategis untuk mewujudkan perpustakaan digital. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;Bilbiografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Borgman, Christine I. (2003). &lt;i&gt;Designing digital libraries for usability dalam Digital library use&lt;/i&gt;. Messachusetts: The MIT press.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Chowdury, Gobunda., Sudatta Chowdhury. (2003&lt;i&gt;). Introduction to digital libraries&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Facet Publishing.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Deegan, Marilyn., Simon Tanner. (2002). &lt;i&gt;Digital futures: strategy for information age&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Library Association Publishing.&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="EN" &gt;Digital library.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="EN" &gt; tersedia di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_library"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_library&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (19-06-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hozumi, Tomatsu. (2006). &lt;i style=""&gt;Asian copyright handbook: Buku panduan hak cipta Asean&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt; Jakarta: Asia Pasific Cultural Center for Unesco &amp;amp; IKAPI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin-left: 54pt; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Mukaiyama, Hiroshi. (1997). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Technical Aspect of Next Generation Digital Library Project&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;. tersedia di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.dl.slis.tsukuba.ac.jp/ISDL97/proceedings/hiro/hiro.html"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://www.dl.slis.tsukuba.ac.jp/ISDL97/proceedings/hiro/hiro.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (08-08-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, Et al. (2007). &lt;i&gt;Perpustakaan digital:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perspektif perpustakan perguruan tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sagung Seto.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, (2008). &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Perpustakaan digital dari A sampai Z&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Cita Kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Purnomo, Agung.(2006). &lt;i&gt;Perpustakaan digital sebagai solusi keterbatasan informasi.&lt;/i&gt; Tersedia di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://agungpurnomo.wordpress.com/2006"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;"  lang="SV"&gt;http://agungpurnomo.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; ( 26 November 2007).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Realizing the Hybrid Library. (1998). &lt;i&gt;D-Lib Magazine October. &lt;/i&gt;Tersedia di &lt;a href="http://www.dlib.org/dlib/october98/10pinfield.html"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;http://www.dlib.org/dlib/october98/10pinfield.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(08-08-08)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sulistyo-Basuki. (1993). &lt;i&gt;Pengantar ilmu perpustakaan&lt;/i&gt;. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;Suryandari, Ari. (2007). Aspek manajemen perpustakaan digital dalam &lt;span style=""&gt;Pendit, Putu Laxman, Et al. (2007) &lt;i&gt;Perpustakaan digital:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perspektif perpustakan perguruan tinggi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sagung Seto.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-align: justify; text-indent: -53.85pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;UU HAKI: Hak Atas Kekayaan Itelektual. &lt;/i&gt;(2003), &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Sinar Grafika.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-1709501367750445088?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/1709501367750445088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=1709501367750445088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1709501367750445088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/1709501367750445088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/12/perpustakaan-hibrida-alternatif-solusi.html' title='PERPUSTAKAAN HIBRIDA: Alternatif solusi akses informasi di perpustakaan perguruan tinggi'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-4213522590868721262</id><published>2008-12-14T20:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T20:45:32.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>Kematian yang selalu luput dari perhatian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dari sekian wejangan, ceramah, dan&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pengajian yang kita kunjungi, atau kita dengar sehari-hari dari televisi, atau dari mana saja, topik manakah yang paling jarang kita dengar? Salat, sedekah, ibadah haji, atau berbuat baik sesama tetangga?&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya yakin tema di atas yang sering muncul dalam pengajian. Sejauh ini, tema yang jarang sekali dibahas adalah mengenai kematian. Apa seseorang belum pernah mengalami ya, sehingga jarang mengangkat tema itu. Tapi, kalau alasan itu yang digunakan sebagai alasan, tentu orang tak akan mengangkat tema&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;surga atau neraka, bukankah dia juga belum pernah merasa nikmatnya surga atau sakitnya neraka? Atau karena orang sering membenci “kematian” sehingga membincangkan kematian termasuk hal yang harus dihindari. Boro-boro membincangkan kematian, membincangkan “ketuan” saja alergi, padahal ketuaan itu akan datang jua.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sangat jelas doa yang dipanjatkan oleh banyak orang untuk selalu mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, tapi jarang disadari bahwa gerbang akhirat itu adalah kematian. Adakah seseorang bisa melompati akhirat tanpa melewati kematian dulu. Disinilah sebenarnya ada celah kosong yang luput dari permintaan doa kita kepada Sang Pencipta. Mestinya harus ada doa yang khusus untuk kematian sebab peristiwa kematian adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gerbang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke akhirat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau kematian rahasia, itu benar adanya. Kalau kematian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pasti datang, itu tak perlu disangsikan lagi. Justru karena kerahasiaan ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka tak ada salahnya sedari awal kita meminta pada Allah untuk memisahkan jasad dan ruh kita dalam keadaan sadar sehingga sadar pula kita mengucap &lt;i&gt;kalimat toyyibah.&lt;/i&gt; Alangkah indahnya bila kematian menjemput,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita bisa tersenyum, seraya diiringi &lt;i&gt;kalimat toyyibah&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya berkeyakinan semakin sadar akan datangnya maut semakin kuat kita akan mengontrol apa yang yang sedang dan akan dilakukan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Again, kematian tidak bisa dihadapi dengan congkak, tapi dengan kekhusukan. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tulisan ini sebagai peringatan untuk diri saya sendiri &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;setelah kematian teman kuliah, Aisyah pada hari Kamis 11 Desmber 2008. Semoga allah mengampuni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-4213522590868721262?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/4213522590868721262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=4213522590868721262' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/4213522590868721262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/4213522590868721262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/12/kematian-yang-selalu-luput-dari.html' title='Kematian yang selalu luput dari perhatian'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-6633873428777125331</id><published>2008-12-10T21:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T21:25:29.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan harian'/><title type='text'>renungan harian</title><content type='html'>seberapa bahagia dirimu hari ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-6633873428777125331?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/6633873428777125331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=6633873428777125331' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/6633873428777125331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/6633873428777125331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/12/renungan-harian.html' title='renungan harian'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-7762626748193110684</id><published>2008-12-09T22:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T21:24:17.555-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>Pustakawan dan Google: Rivalitas atau komplementer</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh Bahrul ulumi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sulistyo Basuki (1993:1) memberi batasan perpustakaan sebagai sebuah sebagai ruangan, bagian sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual. Sungguh berbeda nuansa batasan perpustakaan pada awal tahun 1990an dengan sekarang ini. Tahun 1990an tekanan batasan perpustakaan adalah pada ruangan serta koleksi tercetaknya. Batasan di atas berpengaruh kepada pustakawan dalam arti bahwa keahlian pustakawan sangat tergantung dalam memaksimalkan keterpakaian koleksi tercetaknya kepada pemakai perpustakaan. Tuntutan tugasnya tentu terbatas pada bagaimana pustakawan menggunakan koleksi tercetak tersebut sebaik mungkin serta bagaimana mengajari pemakainya bisa memanfaatkan koleksi yang ada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keadaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; belas tahun lalu sangat berbeda dengan sekarang. Dahulu, secara kasat mata, pemakai melihat perpustakaan yang “bagus” adalah perpustakaan yang koleksi tercetaknya berjejer panjang dan tebal-tebal. Syarat tidak tertulisnya adalah mengoleksi &lt;i&gt;Encyclopedia American&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; Britanica&lt;/i&gt;. Gagah sekali rasanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bila sudah mengoleksi kedua judul ensiklopedi yang sudah sangat mendunia tersebut, walau sebenarnya bisa dipertanyakan sejauhmana kedua ensiklopedi tersebut memberi kemanfaatan kepada pemakai, atau setidaknya sebagai tempat untuk “konsultasi” pemakai dalam menjawab kebutuhan informasinya. Sebagai perbandingan, seberapa mudahkah menggunakan &lt;i&gt;Encyclopedia Britanica&lt;/i&gt; tercetak dibanding dengan edisi elektronik, yang hanya sekeping Compact disc? Jawabannya pasti bisa ditebak bahwa versi elektronik akan jauh lebih mudah daripada versi cetaknya. (lihat kemudahan penggunaan &lt;i&gt;Encyclopedia Britanica&lt;/i&gt; versi elektronik pada &lt;i&gt;Ultimate Reference Suite&lt;/i&gt;. 2008. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Chicago&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Encyclopedia Britanica). Untuk mencari satu entri versi cetaknya, dibutuhkan beberapa saat lamanya sebab pemakai harus mengecek dulu indeks yang ada dalam satu jilid buku sendiri, setalah itu baru mengikuti petunjuk dalam indeks. Berbeda dengan versi elektronik yang hanya tinggal memasukan kata yang ingin dicari pada &lt;i&gt;query box&lt;/i&gt; tersedia. Setelah itu ensiklopedi akan menyediakan informasi mengenai kata yang sudah di masukkan dalam query tersebut dalam suatu pemaparan yang relatif lengkap. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang ini, kebutuhan pemakai sudah tidak terpaku pada ensiklopedi-ensiklopedi seperti disebut di atas. Rata-rata pemakai dalam mencari informasi sudah semakin bebas tanpa tergantung pada format tercetak saja. Mereka ingin bebas dalam mengekspresikan penelusuran informasinya sebab teknologi internet sudah sangat memanjakan mereka dalam berkelana mencari informasi dengan perantara mesin pencari atau &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;. Singkat kata, apa &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; yang tidak bisa dicari dari mesin pencari? Justru yang menjadi masalah berikutnya, apakah peran pustakawan sebagai intermediary antara pemakai dengan informasi yang disimpan dalam perpustakaan akan diambil alih oleh mesin pencari karena pemakai lebih senang menggunakan mesin pencari sebagai intermediary dalam memenuhi kebutuhan informasi pemakainya? Atau bisa saling melengkapi antara keduanya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Intermediary itu bernama google&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Webster (2008) mengartikan intermediary bertindak sebagai mediator dan agen penghubung. Sementara dictionary reference (2008) memberi arti menjadi diantara; bertindak diantara dua orang, atau dua kelompok. Batasan ini bisa lebih kongkrit bila diterjemahkan dalam bentuk nyata sehari-hari yaitu (dalam konteks perpustakaan), bahwa perpustakaan merupakan gudang informasi. Agar gudang informasi bisa berkomunikasi dan dimanfaatkan oleh pemakai, maka perlu ada penghubung/intermediary antara pemakai dengan gudang informasi tersebut. Maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pustakawan adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;intermediary.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tidak semua informasi yang dibutuhkan oleh pemakai ada di perpustakaan, begitu juga sebaliknya informasi yang ada di internet tidak semua ada di perpustakaan. Untuk mencari informasi yang ringan-ringan berupa berita politik, keuangan ataupun gosip selebritis, sekaligus yang bisa memberi informasi dalam waktu singkat adalah internet. Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;intermediary mesin pencarilah informasi di atas bisa dengan mudah diapatkan. Dan mesin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pencari yang paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah google. Tak mengherankan bila kemudian ketika seseorang kebingungan mencari informasi mengenai topik tertentu disarankan untuk &lt;i&gt;digoogling&lt;/i&gt; saja. Sebenarnya banyak sekali mesin pencari yang lebih dulu ada sebelum google, namun pada perkembangannya, google yang paling &lt;i&gt;user friendly&lt;/i&gt; dan paling memanjakan pemakainya dengan menyediakan banyak fasilitas disamping mesin &lt;i&gt;crawler&lt;/i&gt; google paling canggih sehingga mampu menghadirkan banyak sekali ragam informasi. Tinggal terserah pada pemakai, mana yang mau dibuang dan mana yang mau diambil. Fasilitas dalam google yang begitu komplit inilah akhirnya menjadikan &lt;i&gt;the netters&lt;/i&gt; (sebutan untuk penggila internet) selalu loyal pada google.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemampuan google yang demikian, sering menjadikan posisi pustakawan terancam olehnya. Asumsinya bahwa pemakai potensial perpustakaan lebih senang menggunakan intermediary google dari pada pustakawan. Bahkan berita yang paling terbaru dari suatu kejahatan teroris terorganisasi adalah penyerangan teroris terhadap orang asing di Hotel Taj Mahal di Mumbai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menewaskan 195 orang. Menurut berita yang dilansir AN TV bahwa informasi mengenai peta &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Hotel Taj Mahal diperoleh dari fasilitas &lt;i&gt;Google Earth. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jadi, pustakawan mempunyai “wilayah” kekuasaan dan googlepun punya “wilayah” kekuasan tersediri. Dalam hal ini nampak keduanya bukan sebagai rivalitas namun lebih sebagai komplementer, saling mengisi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Ketika google menjadi inter-not.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bila diteliti lebih jauh, sebenanya pustakawan tidak perlu merasa terancam oleh kehadiran google. Justru kehadirannya membantu tugas pustakawan sehari-hari karena google sedikit banyak membantu dalam pencarian informasi kepada pemakainya yang juga pemakai perpustakaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lebih dari itu, sebenarnya google seringkali tidak mampu menjaring informasi yang ada dalam suatu web tertentu. Ungkapan “google menjadi inter-not” bermakna bahwa tidak selamanya mesin crowler google bisa menjangkau web-web&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersembunyi. Walau di google punya fasilitas google scholar, dan fasilitas lainnya. Namun tetap saja tidak bisa menjangkau web-web tersembunyi yang sering disebut &lt;i&gt;invisible web, deep web&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;hidden web&lt;/i&gt;, yaitu web yang tidak dapat diakses dari mesin pencari dan direktori. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://brightplanet.com/404;http:/brightplanet.com/newsroom/deepweb.asp"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari sisi kuantitas, Bright Planet&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, sebagaimana dikemukakan Boswell (2008) mencatat bahwa jumlah invisible web sekitar 500 kali lebih besar dari &lt;i&gt;surface web&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Surface web&lt;/i&gt; digunakan untuk menyebut lawan kata &lt;i&gt;invisible web &lt;/i&gt;atau&lt;i&gt; deep web. &lt;/i&gt;Dari sisi kualitas, tentu juga harus dipertanyakan sejauhmana google menyediakan informasi yang otoritatif, bukan yang sampah (data smog). Berbeda dengan invisible web yang hampir semua informasinya otoritatif. Namun sayang belum banyak pemakai yang memulai mencari informasi dengan memanfaatkan invisible web ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Peluang pustakawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasar data yang dikemukakan oleh Bright Planet bahwa invisible web jauh lebih banyak menyediakan informasi berharga dibandingkan dengan surface web. Inilah kesempatan pustakawan untuk mengambil hati pemakainya dengan mengekplorasi lebih dalam invisible web. Masalah berikutnya adalah bagaimana pustakawan bisa mengunakan sumber-sumber dalam invisible web tadi? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selanjutnya Boswell menawarkan beberapa cara untuk memanfaatkan invisible web dengan melihat &lt;i&gt;gateway&lt;/i&gt; berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Situs &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.freepint.com/gary/direct.htm"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Direct Search&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      yang &lt;i&gt;homepagenya&lt;/i&gt; selalu ditampilkan menarik berdasarkan kategori      tertentu, serta &lt;i&gt;diupdate&lt;/i&gt; secara rutin. Situs ini dibuat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh Gary Price, seorang pustakawan dan      konsultan pencarian informasi di internet.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Situs &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.invisible-web.net/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Invisible      Web Directory&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yang merupakan direktori database yang      bisa disearch (searhable) berdasar pada subyek. Situs ini dikembangkan      oleh Gary Price dan Chris Sherman. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Situs &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.rdn.ac.uk/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Resource      Discovery Network&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang kebanyakan sumber&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;informasinya berasal dari Inggris. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Situs&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;a href="http://infomine.ucr.edu/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;InfoMine&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      yang dikembangkan oleh The University of California. Situs ini setidaknya      mencakup lebih dari 100.000 link dan akses databases.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Situs &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://vlib.org/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Virtual Library&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang      menyediakan link subyek.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Melihat tawaran Boswell, nampaknya, tidak ada yang perlu dirisaukan dengan pertumbuhan internet yang semakin maju, sebab internet tidak mengancam keberadaan pustakawan. Yang menjadi bahan kerisauan adalah sejauh mana pustakawan mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi yang ada. Selama pustakawan mempunyai kualifikasi untuk mengekplorasi informasi di internet, rasanya tak perlu ada yang perlu dikawatirkan. Bahkan dalam banyak hal antara pustakawan dan mesin pencari punya peran yang sama yakni sama sama sebagai intermediary. Pustakawan sebagai intermediary antara perpustakaan dengan pemakai, dan mesin pencari dalam hal ini google menjadi intermediary bagi &lt;i&gt;netters&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan &lt;i&gt;vast library&lt;/i&gt; di dunia maya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Lebih dari itu, pustakawan bisa merangkap perannya sebagai intermediary di perpustakaan sekaligus, sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemandu pemakai internet untuk mendapatkan informasi yang lebih berkualitas dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenalkan invisible web.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Posisi pustakawan menjadi strategis dalam era internet seperti sekarang ini. Namun akhirnya terpulang juga kepada mereka, apakah mereka akan memahami prilaku dan tuntutan informasi pemakainya atau mereka sudah merasa mapan kerja di perpustakaan sehingga tidak perlu ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerja lagi selain menunggu koleksi saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penulis yakin bahwa pustakawan akan memahmi kekuatan informasi yang ada di lembaganya serta kekuatan informasi yang ada di &lt;i style=""&gt;surface web&lt;/i&gt; maupun &lt;i style=""&gt;invisible web, &lt;/i&gt;yang dari sinilah nantinya akan diketahui bahwa keberadaan pustakawan diperlukan oleh pemakai perpustakaan. Semoga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;Sumber bacaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;Boswell, Wendy. (2008) The Invisible web: How to find and search the invisible web. &lt;a href="http://websearch.about.com/od/invisibleweb/a/invisible_web.htm"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://websearch.about.com/od/invisibleweb/a/invisible_web.htm &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(7 Desember 2008).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;Intermediary.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.merriam-webster.com/dictionary/intermediary%20%287"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://www.merriam-webster.com/dictionary/intermediary (7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Desesember 2008)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;Intermediary. &lt;a href="http://dictionary.reference.com/browse/intermediary%20%287"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://dictionary.reference.com/browse/intermediary (7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Desember 2008)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;Lackie, Robert J. (2008). Those Dark Hiding Places: The Invisible Web Revealed.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://library.rider.edu/scholarly/rlackie/Invisible/Inv_Web.html%20%287"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://library.rider.edu/scholarly/rlackie/Invisible/Inv_Web.html (7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Desmber 2008)&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12;" &gt;Reitz, Joan M. (2008) Online Dictionary for Library and Information Science.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:12;" &gt;&lt;a href="http://lu.com/odlis/search.cfm%20%287"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://lu.com/odlis/search.cfm (7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Desember 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;Sherman, Chris., Gary Price. (2002). &lt;i&gt;The invisible web; Uncovering information sources search engines can’t see&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medford&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Information Today Inc.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-7762626748193110684?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/7762626748193110684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=7762626748193110684' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/7762626748193110684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/7762626748193110684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/12/pustakawan-dan-google-rivalitas-atau.html' title='Pustakawan dan Google: Rivalitas atau komplementer'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5376306595068094474.post-3707392677287663089</id><published>2008-10-24T19:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T21:24:41.938-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmu perpustakaan dan informasi'/><title type='text'>DESAIN INTERIOR RUANG PERPUSTAKAAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;oleh Bahrul ulumi&lt;/p&gt;  1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Dalam membangun gedung perpustakaan, seringkali arsitek kurang memperhatikan unsur fungsi gedung tersebut. Mereka lebih bangga memperhatikan unsur estetikanya daripada unsur fungsionalnya. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, pimpinan proyek  atau pimpinan suatu lembaga tidak mengajak pihak pengelola perpustakaan dalam mendasin sisi luar dan interiornya. Kemungkinan kedua tidak ada komunikasi antara arsitek gedung tersebut dengan para pustakawan yang ada. Kemungkinan ketiga para pustakawan sendiri yang tidak peduli fungsi interior dalam membangun gedung perpustakaan.&lt;br /&gt;Ketika pimpinan  proyek atau pimpinan lembaga tidak mengajak pengelola perpustakaan untuk bersama-sama mendesain interior, itu bermakna bahwa pimpinan belum menganggap pengelola (pustakawan) mampu diberi tugas untuk itu atau ektrimnya pustakawan tidak perlu diajak berbagi ide (sharing ideas) dalam mendesain gedung tempat mereka bekerja.&lt;br /&gt;Tidak ada komunikasi antara arsitek dengan pengelola (pustakawan) berdampak bahwa gedung perpustakaan hanya tampak bagus dari luar namun tidak fungsional, artinya gedung perpustakaan tersebut tidak bisa memenuhi fungsinya sebagai perpustakaan. Dan ketidakpedulian pustakawan mengenai desain interior ini berakibat desain interior terkesampingkan oleh arsitek sebab seringkali arsitek lebih mengutamakan estetika dan kemegahan gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang sering dihadapi di lapangan seringkali pustakawan dibuat repot ketika harus mendesain interior gedung perpustakaan, karena mereka tidak diajak bermusyawarah pada awal pembangunan gedung perpustaaan namun ketika gedung selesai mereka harus mendesain ruang sesuai dengan ilmu perpustakaan. Akhirnya pustakawan hanya  bisa memanfaatkan yang ada. Konsidi ini tentu jauh dari ideal suatu gedung perpustakaan.&lt;br /&gt;Persoalan desain interior ini sebenarnya sudah muncul cukup lama dalam dunia perpustakaan. Dalam sejarah, seperti dikutip dalam International Encyclopedia of Library and Information Science (1997: 260) bahwa Michael Angelolah yang pertama kali mengompromikan antara estetika/keindahan dan fungsi desain interior gedung perpustakaan. Hasilnya adalah perpustakaan Liorentine di Florence, Italia, yang dari sisi luar sangat megah dan indah, dan dari dalampun terasa nyaman karena aspek fungsi gedung sangat diperhatikan.&lt;br /&gt;Usaha kompromi antara estetika dan fungsi desain interior gedung perpustakaan selanjutnya semakin gencar setelah perang dunia kedua sampai sekarang. Maka sekarang sudah banyak ruang perpustakaan didesain tidak seperti perpustakaan dulu yang terlihat kaku,  dengan penempatan perabot yang lebih fleksibel, pencahayaan yang lebih menarik serta tambahan ornamen lain yang membuat interior ruang perpustakaan lebih menarik. Keadaan ini secara psikologis akan membuat pemakai merasa nyaman berada dalam perpustakaan dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang berpendapat bahwa ruang perpustakaan bukan ruang yang mati yang hanya ada kesunyian. Namun harus ada ruang yang diperuntukan bagi pemakainya agar bisa diskusi atau sekedar ”sharing ideas” dengan pengunjung lainnya. Keadaan ini sungguh akan mengubah wajah perpustakaan dari wajahnya yang anker menjadi wajah yang menyenangkan bagi pemakainya. Usaha ini perlu dilakukan oleh pengelola perpustakaan agar mampu menarik para pemakai jasanya untuk menggunakan fasilitas yang dipunyai oleh perpustakaan (Harder, 1996: 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembangunan Gedung Perpustakaan (sebuah teori).&lt;br /&gt;Sebelum membangun gedung perpustakaan perlu ada perencanaan yang matang agar nantinya bisa menciptakan tempat kerja yang nyaman bagi pegawai maupun pemakai perpustakaan. Untuk itu perlu dipikirkan matang-matang mengenai sistem layanan yang  akan dipakai dalam perpustakaan bersangkutan, apakah terbuka atau tertutup. Pemilihan ini akan berimplikasi pada jalan masuk dan keluar gedung serta pemberian jendela gedung. (Sulistyo-Basuki, 1993: 303).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detail gedung  seperti ini akan bisa dilaksanakan dengan mudah bila ada komunikasi aktif antara pustakawan dengan arsitek gedung. Maka sedari awal, Sulistyo Basuki (1993:306) mengusulkan harus ada panitia pembangunan gedung yang terdiri atas:&lt;br /&gt;a. Arsitek&lt;br /&gt;b. Pustakawan&lt;br /&gt;c. Konsultan pustakawan&lt;br /&gt;d. Desainer interior (interior designer)&lt;br /&gt;e. Kepala lembaga yang membawahi perpustakaan  seperti rektor atau pembantu rektor.&lt;br /&gt;f. Unit lain dari bagian administrasi dan keuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, arsitek yang dipilihpun seharusnya bukan hanya arsitek yang bagus tapi arsitek yang punya banyak pengalaman dalam merancang gedung perpustakaan, sehingga dapat diandalkan karena dia bertanggung jawab akan gaya dan estetika serta fungsi gedung tersebut. Bahkan di luar negeri seperti Inggris punya arsitek yang punya otoritatif dalam hal rancang bangun gedung perpustakaan, yaitu . Faulkner-Brown (Thomson: 208).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa prinsip yang yang perlu diperhatikan dalam arsitektur gedung perpustakaan. Gedung perpustakaan perlu ditata sesuai kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Penataan ini dimaksudkan:&lt;br /&gt;a. Memperoleh efektifitas kegiatan dan efisiensi waktu, tenaga dan anggaran.&lt;br /&gt;b. Menciptakan lingkungan yang nyaman suara, nyaman cahaya, nyaman udara, dan nyaman warna.&lt;br /&gt;c. Meningkatkan kualitas pelayanan&lt;br /&gt;d. Meningkatkan kinerja petugas perpustakaan.&lt;br /&gt;Ruang perpustakaan akan nyaman bagi pemakai dan petugas bila ditata dengan memperhatikan fungsi, keindahan, dan keharmonisan ruang. Dengan penataan yang baik akan memberikan kepuasan  fisik dan psikis bagi penghuninya. (Lasa HS, 2005: 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nilai Penting Desain Interior Ruang Perpustakaan&lt;br /&gt;Kamus Besar  Bahasa Indonesia (2001: 257) memberi batasan desain dengan kerangka bentuk; rancangan. Sedang Interior adalah bagian dalam gedung (ruang dsb) di dalam ruang gedung dsb (2001: 438). Ching (1996: 46) mendefinisikan desain interior adalah merencanakan, menata dan merencanakan ruang interior dalam bangunan. Adapun tujuannya adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetika dan meningkatkan aspek psikologis dari ruang interior.&lt;br /&gt;Ada temuan dari menarik survai yang dilakukan oleh Rainathami (2002:60) mengenai hubungan antara kondisi fisik gedung dan desain interior ruang perpustakaan dengan minat menggunakan jasa layanan perpustakaan. Hasilnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kondisi fisik gedung perpustakaan seperti pembagian ruangan, warna bagian luar gedung, kebersihan, dan kelengkapan fasilitas gedung seperti toilet tidak terlalu mempengaruhi minat menggunakan jasa layanan perpustakaan dibanding dengan kondisi ruang peprustakaan.&lt;br /&gt;b. Kondisi ruang perpustakaan berkorelatif positif dengan minat menggunakan perpustakaan. Semakin baik kondisi ruang perpustakaan, semakin tinggi minat menggunakan jasa layanan perpustakaan. Semakin buruk kondisi ruang perpustakaan semakin rendah minat pemakai jasa layanan perpustakaan.&lt;br /&gt;c. Pemilihan warna dan cahaya paling mempengaruhi minat. Semakin gelap dan suram warna ruangan, semakin enggan pemakai menggunakan jasa layanan perpustakaan. Dan warna putih adalah warna yang paling diinginkan oleh pemakai.&lt;br /&gt;d. Pemilihan furnitur dan penataan ruangan, termasuk rak buku, ternyata juga mempengaruhi pemakai dalam menggunakan jasa layanan perpustakaan. Beberapa pemakai merasa punya kesan kaku dari penataan rak buku dan kursi serta meja baca yang kaku di ruang perpustakaan. Mereka merasa tertekan dan tidak betah untuk berlama-lama dalam ruangan perpustakaan dalam kondisi penataan furnitur yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, ada azas-azas yang perlu diperhatikan dengan desain interior yaitu: Azas jarak, yaitu susunan tata ruang yang memungkinkan jarak pendek dalam bekerja; Azas rangkaian kerja, yaitu tata ruang yang menempatkan tenaga dan tempat alat-alat dalam rangkaian yang sejalan dengan penyelesaian pekerjaan; Azas manfaaat, yaitu tata susunan ruangan yang mempergunakan sepenuhnya ruang yang sudah ada. (Lasa HS (2005:149)&lt;br /&gt;Berkaiatan dengan desain interior, Rainathami (2002:63)  menambakan bahwa setidaknya ada tiga elemen yang harus diperhatikan dalam hal ini, yaitu:&lt;br /&gt;a. Elemen garis. Elemen ini digunakan untuk menghasilkan kesan bergerak atau menjelaskan kesan lebar atau tingi. Garis vertikal memberikan kesan lebih tingi pada suatu benda sedangkan garis horisontal memberikan kesan lebar. Perpaduan dalam penggunaan garis tersebut tentu dapat membentuk ruangan terasa lebh tinggi dan lebar. Penggunakan garis lengkung memberi kesan fleksibel. Pemilihan barang-barang yang mengandung garis lengkung yang tepat mampu menghilangkan kesan kaku pada ruangan, dan mampu membuat ruangan terasa lebih menenangkan.&lt;br /&gt;b. Elemen warna dan pencahayaan. Elemen ini menempati posisi yang tidak kalah pentingnya. Dalam menentukan warna yang akan digunakan dalam ruangan perpustakaan, harus diperhatikan dampak psikologis yang dapat ditimbulkan warna. Warna kuning seringkali memberi kesan riang. Namun tdak berarti semua ruangan dicat warna kuning yang justru akan memberi kesan panas seperti matahari. Ternyata warna juga memberi dampak lebih luas. Warna gelap memberi kesan sempit sedang warna terang memberi kesan lebih luas pada ruangan&lt;br /&gt;c. Elemen pembagian ruangan. Pembagian ruang ini diharapkan tidak menghalangi keleluasaan bergerak. Penataan jarak antara perlengkapan perpustakaan termasuk jarak anatara rak buku, jarak antara kursi dan meja dengan dinding.  Harus ada jarak keleluasaan bergerak memilih koleksi rak buku atau bergerak diantara pembaca.&lt;br /&gt;Di luar yang diusulkan oleh Rainathami, perpustakaan bisa melihat beberapa pertanyaan berikut sebagai acuan sebelum mendesain ruang perpustakaan yang kebetulan akan mengoleksi bahan-bahan digital sebagaimana ditawarkan oleh Harder (1996:14) dalam Advances in library administration and organization, yaitu: Bagaimana perpustakaan melihat ke depan dalam mendesain interior, setidaknya sepuluh tahun ke depan? Bukankan dalam kurun waktu itu akan ada perubahan?; Bagaimana solusi penerangan dalam gedung, apakah dengan dengan penerangan baur (penerangan dengan cahaya matahari dan lampu), atau dari lampu saja?; Bagaimana perpustakaan menempatkan wakil koleksinya (katalog)? Apakah cukup dengan OPAC atau  tetap dilengkapi katalog kartu?; Apakah perpustakaan telah menyediakan akses katalognya secara online?; Apakah akan ada antrian pemakai di sirkulasi atau di titik layanan lainnya, atau waktu mereka browsing menggunakan katalog?; Apakah sudah saatnya ada prioritas penembahan koleksi dalam bentuk digital?; Lalu, bagaimana perpustakaan menyiapkan perabotnya mengingat akan ada penambahan pelayanan, bahan perabot, dan bahkan bahan koleksi yang tidak hanya tercetak di kemudian hari?&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas diharapkan bisa mengingatkan pustakawan dalam merancang bangun gedung peprustakaan, serta memberi masukan untuk melihat perkembangan perpustakaan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perabot Perpustakaan&lt;br /&gt;Perpustakaan jarang sekali memperhatikan furnitur yang ada di ruang perpustakaan. Tidak adanya perhatian ini bukan berarti bahwa pengelola atau pustakawan tidak peduli dengan perabot yang ada dalam ruangan perpustakaan. Kasusnya hampir sama dalam mendesain ruang perpustakaan bahwa pengelola atau pustakawan tidak diajak musyawarah dalam menentukan perabot yang harus diadakan, bagaimana bentuk, warna ,tinggi, lebar, dan spesifikasi lainnya sebab pengadaan bukan wewenang dari pustakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada prsoalan bagi pustakawan siapa yang akan mengadakan perabot atau barang-barang lainnya di perpustakaan. Yang menjadi perhatian adalah bahwa perabot yang ada dalam perpustakaan mempunyai spesifikasi tertentu yang tidak serta merta bisa diadakan secara dadakan.&lt;br /&gt;Persoalan ini, ke depan, harus menjadi perhatian bagi pemegang kebijakan pengadaan perabot di perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Gedung perpustakaan untuk lingkup perpustakaan perguruan tinggi sudah  termasuk cukup megah. Namun kemegahan itu tidak serta merta punya fungsi yang bagus sebagai gedung perpustakaan. Artinya unsur estetikanya lebih menonjol daripada unsur fungsinya.&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena waktu awal pembangunannya tidak ada kerja sama antara pengelola gedung, yaitu pustakawan dengan arsiteknya. Asumsinya, pada saat itu belum ada pustakawan yang punya latar belakang ilmu perpustakaan disamping arsitek gedung tidak mecoba menggunakan pendekatan ilmu perpustakaan.&lt;br /&gt;Akhirnya pengelola perpustakaan tidak bisa memaksimalkan desain interior ruangan agar ada kompromi antara estetika dan fungsi. Keadaan ini tentu harus menantang  kreatifitas pengelola untuk memaksimalkan fungsi ruangan yang sudah ada menjadi ruangan yang nyaman bagi pemakainya untuk tidak mengatakan bahwa pustakawan dalam posisi tawar yang lemah dalam membangun gedung tempat mereka bekerja.&lt;br /&gt;Lepas dari daya tawar pustakawan yang lemah dalam membangun gedung perpustakaan, ternyata profesi pustakawan memang menuntut untuk mengetahui kajian ilmu di luar Library and Information sciences. Kajian desain interior adalah sebagai salah satu contohnya. Dan tentu masih banyak kajian ilmu lain yang harus diketahui walaupun tidak harus menjadi ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harder, E. Ruth, (1996) Library automation’s effect on the interior design of California public libraries dalam Advances in library administration and organization, London: JAI Press Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ching, francis. (1996) Illutrasi desain interior, Jakrata: Airlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasa HS. (2005) Manajemen perpustakaan, Yogyakarta: Gama Media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;International Encyclopedia of Library and Information Science (1997), London: Routledge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eigenbrodt, Olaf. (2008) Library spaces in the knowledge societies: Knotting Together Global and Local (Bahan kuliah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rainathami, Herika, Penataan ruang pepustakaan sebagai penunjang promosi perpustakaan perguruan tinggi dalam Sekapur sirih pendidikan perpustakaan di Indonesia 1952 – 2002: kumpulan artikel alumni dan mahasiswa program studi Ilmu Perpustakaan Program Pascasarjana FIB Universitas Indonesia, Depok: FIB, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulistyo-Basuki, Pengantar ilmu perpustakaan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomson, James, An Introduction to university library administration, London: Clive Bingley.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5376306595068094474-3707392677287663089?l=ulum-hepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/feeds/3707392677287663089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5376306595068094474&amp;postID=3707392677287663089' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3707392677287663089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5376306595068094474/posts/default/3707392677287663089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ulum-hepi.blogspot.com/2008/10/desain-interior-ruang-perpustakaan.html' title='DESAIN INTERIOR RUANG PERPUSTAKAAN'/><author><name>ulum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14324272852883402399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_ba8Aqm05LIw/S_3_OpEUegI/AAAAAAAAACs/idj5UYPOP-8/S220/7020_1128058917964_1121927440_30313389_1454721_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
